Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Surat untuk Adikku yang Tak Lagi Kecil

Dirimu bahkan memiliki apa yang tak kupunyai: keramahan, mudah bergaul, dan gampang disukai banyak orang.

Senin, 01 Februari 2021 | 11:43 WIB - Surat
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Beberapa waktu lalu aku nonton film Monster Hunter di bioskop. Film yang disutradarai sekaligus ditulis Paul W S Anderson ini mengisahkan Kapten Angkatan Darat Amerika Serikat Natalie Artemis dan pasukannya mencari sekelompok tentara yang hilang di gurun. Kapten Artemis yang diperankan oleh Milla Jovovich itu menyimpan cincinnya—sepertinya cincin pernikahan dalam kotak besi kecil menjelang misi. Anak buahnya pun melakukan hal yang hampir serupa—memakai tanda di kakinya agar jika ada apa-apa padanya, ia masih dapat dikenali. Seolah tahu jika apa yang akan mereka hadapi nanti, sungguh berbahaya. 

Hingga badai tiba-tiba datang lalu menarik mereka ke portal Dunia Baru. Manusia hidup berdampingan dengan berbagai monster besar dan buas. Di situlah mereka menemukan sisa-sisa tentara yang hilang beserta kendaraan mereka. Sialnya, muncul Diablos, monster bawah tanah bertanduk. Mereka pun mendapatkan sinyal berupa tembakan panah dan meledak.

BERITA TERKAIT:
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis

Sinyal tersebut ditembakkan oleh The Hunter yang diperankan oleh Tony Jaa. Pemburu itu telah mengamati pasukan Artemis untuk sementara waktu. Tim Artemis pun bernasib buruk karena Diablos tahan terhadap peluru ataupun granat dan membunuh beberapa tentara. Artemis kemudian mengarahkan pasukannya untuk bersembunyi di sebuah gua. Celakanya, gua tersebut tak bdalah tempat tinggal Nerscyllas, segerombolan monster yang mirip laba-laba. Semua anggota pasukan terbunuh, menyisakan sang kapten yang kemudian bertemu dengan The Hunter. 

Menonton film ini mengingatkan pada adikku satu-satunya yang biasa kupanggil Adek(nya) Tetangga. Suatu ketika, ia bilang ingin menjadi tentara. Hal yang ditentang keras oleh ibu. Aku juga, sebenarnya. Hanya saja, tak perlu kuucapkan karena titah ibu adalah mutlak untuknya. Menyaksikan adegan Kapten Artemis dan pasukannya membuatku sedikit memahami bahwa menjadi tentara tidaklah mudah dan harus siap "menyerahkan nyawa" kapan pun.

Uniknya, kapten di film tersebut adalah perempuan. Tangguh dan berwibawa. Untuk sejenak, sempat terlintas bagaimana jika aku ada di posisinya. Pada posisi kritis, tubuh penuh luka, dan kaki tak bisa berjalan, ia mulai putus asa. Sementara Nerscyllas siap menerkamnya. Satu-satunya hal yang membuatnya sedikit lega adalah karena ia menemukan kotak besi kecil berisi cincin pernikahannya. Karena aku belum menikah, jika berada di posisinya, barangkali aku akan mengirim surat untuk adikku. Bukan ibuku. Ya, aku tak bisa membayangkan jika ia membacanya. Cinta ibu lebih besar untukku daripada untuk bapak dan adik.

Akan kukatakan pada adikku untuk menjaga kedua orang tua kami. Bahwa aku juga bersyukur memilikinya. Kenyataannya, di luar sana banyak kakak beradik yang meski jarang bertengkar, tapi tak memiliki hubungan yang "dekat". Kami yang memiliki selisih usia lima tahun sudah terbiasa bermain sejak kecil. Hingga sekarang, setelah usianya hampir 20 tahun, ia yang kini lebih tinggi dariku itu masih sering curhat. Mulai tentang kuliah hingga kekasihnya.

Hanya dalam surat ini, aku akan memanggilmu Dik. Sekali saja, seperti yang kau selalu ingin dengar. Aku dari dulu hanya tak suka ikut kebanyakan orang. Aku lebih suka memanggilmu "Dom", diplesetkan dari kata "Dim"—sapaan orang-orang untukmu. Aku juga bersyukur kita memiliki sifat yang berbeda. Kamu adalah lelaki yang ceria, banyak bicara, mudah bergaul, dan penuh perhatian. Sangat bertolak belakang dengan mbakmu ini, kan? Tapi aku bukan orang yang tak peka, ya tentu ada saat-saat aku tak peka.

 

Aku tahu kau merindukanku saat mengirim pesan via WhatsApp berisi hal-hal random. Mulai dari video Ariel Noah di Youtube, perkembangan kucing di rumah, atau hal remeh temeh lainnya. Sesungguhnya, bahkan saat aku menulis surat ini pun, banyak kenangan yang muncul saat kita bersama. Kau yang mengomel jika aku belum mandi sore atau susah makan. Kesal, kau pun mengambil makanan dan menyuapiku. Aku cukup marah dengan pendapat beberapa lelaki yang menduga hubungan kita tak normal. Mereka bilang, jangan-jangan kau mencintaiku sebagai perempuan (?). Konyol sekali. 

Tetapi memang seperti itulah dirimu. Kita tak akan canggung tiduran bersampingan di ruang tamu. Entah saling bercerita atau masing-masing sibuk dengan ponsel. Sejujurnya, Dom, aku sempat mengkhawatirkan masa depanmu. Memiliki adik satu ternyata tak mengurangi kekhawatiran sang kakak. Aku khawatir jika kau tak bisa mandiri. Tak bisa menentukan ke mana arah jalanmu. Apa tujuanmu. Cita-citamu. 

Tapi kurasa, tak semestinya aku berpikir demikian. Dirimu bahkan memiliki apa yang tak kupunyai: keramahan, mudah bergaul, dan gampang disukai banyak orang. Banyak teman. Sekarang, yang akan kulakukan adalah menemani tumbuh kembangmu. Menjadi telinga atas perjalanan hidupmu. Dan sesekali mengulurkan tangan. Kenyataannya, kau memang telah dewasa. Aku sungguh menantikanmu menjadi versi terbaik dari dirimu.

Semasa aku SMA dan kau SMP, aku sempat kesal padamu, namun mbakmu ini diam. Kau tak mau memboncengku usai ada bapak-bapak di desa menyindir kita. "Pacaran teros," ujarnya saat kita berboncengan, keliling desa, bakda magrib. Kau bilang, malu. Tapi, ya, itu kan saat SMP. Bisa dimaklumi. Berbeda sekali dengan sekarang. Katamu, kau hanya akan membonceng tiga perempuan—aku, ibu, dan kekasihmu. Karena aku hingga sekarang tak bisa naik motor, kau pun selalu menjemputku ke Semarang menggantikan bapak.

Belakangan, jika mengantarku ke ATM, kaulah yang mengantre jika antrean cukup panjang. Sementara aku cukup duduk di sepeda motor. Katamu, biar aku tak lelah berdiri. Sampai sekarang, aku heran. Dari mana kau dapat pemikiran ini? Untuk beberapa momen, aku merasa memiliki adik sekaligus kakak laki-laki. Hal-hal yang kuanggap sebagai bercandaan tapi membuatku bahagia adalah saat kau bilang, jika ada yang pria yang menyakitiku, harus bilang padamu. Aku masih ingat dua tahun lalu dirimu pernah hendak pergi ke rumah salah satu mantanku karena kesal. Tapi kucegah.

Tapi, tentu kau tetaplah adikku yang kecil. Adik yang sering "malak" mbaknya bahkan sejak sebelum aku bekerja. Adik yang dengan entengnya bilang minta dibelikan motor ninja. Adik yang apa-apa "mbak". Adik yang berjanji akan membelikanku kado mahal saat sudah bekerja. Adik yang memintaku jangan menikah cepat-cepat karena takut tak bisa bebas bermain bersam. Kemudian, tentu jadi tak bebas meminta jajan.

Pada film ini, Kapten Artemis dan The Hunter sepakat untuk bekerja sama. Natalie segera mengetahui kalau The Hunter adalah seorang pejuang yang dilatih untuk berburu dan membunuh monster. Tak hanya itu, portal yang membawanya ke Dunia Baru dibuat oleh Sky Tower, sebuah bangunan yang terletak di seberang gurun. Namun, untuk mencapai bangunan tersebut, ia harus membunuh Diablos. Kapten Atermis kemudian belajar cara bertarung menggunakan senjata berbilah unik. The Hunter juga mengajarinya memasang jebakan untuk Diablos. Perjuangannya untuk bertemu orang-orang tercinta, membuatku “nggregel”.  Barangkali sedikit rindu rumah.

Menonton di bioskop sungguh menyenangkan, Dom. Kelak jika kuliahmu sudah offline dan ngekos di Semarang, mari nonton bertiga.


tags: #surat #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI