bayi baru lahir | googleimages

bayi baru lahir | googleimages

Yang Datang dan yang Pergi

Suka dan duka ibarat dua mata uang.

Kamis, 04 Februari 2021 | 12:40 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

JAM DINDING menunjukkan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa tiba-tiba aku terbangun. Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih lelap dalam tidurnya. Kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai di dahinya. ''Kamu cantik Ratri...'' bisikku.

Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang ketiga, tapi kami belum juga dikaruniai anak. ''Ya... Allah karuniakan kepada kami anak, seorang saja pun tak mengapa,'' begitu jerit doaku tiap malam di atas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang tersembunyi di balik semua ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu untuk kuketahui kelak. Ya, itu Pasti!

BERITA TERKAIT:
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis

"Ratri, bangun... sholat yuuk...." Kutepuk pipi istriku perlahan. Ia menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian mengurus tumah. Mengepel, memasak, mencuci, membersihkan rumah, masih ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak.  

Akhirnya, aku beranjak sendiri. Berwudhlu dan kemudian tenggelam dalam shalat malamku yang panjang. Dan selalu doa itu yang aku dahulukan. Rabbahuma lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya, Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur. Jam dinding berdentang tiga kali. Ketika aku menghabiskan tiga rakaat terakhir witirku. Kulihat Ratri sudah ada di belakangku dengan wajah merajuk. Kutatap wajahnya dengan geli.

"Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu?" godaku. Ratri semakin merajuk. "Si Mas mesti begitu deh, nggak bangunin Ratri," protesnya. Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya. Mana tega Mas bangunin. Tadi nulis sampai jam sebelas kan? Mosok baru tidur satu jam sudah disuruh bangun lagi..."

"Iya deh.... Tapi nanti temani Ratri murajaah Quran yaa?" pintanya manja.

"Inggih, sendiko dawuh,'' jawabku dengan logat Jawa yang kaku. Maklum besar di Betawi. Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku. "Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu subuh," elakku. Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya. Lucu.


*****

Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami. Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah diam tanpa ekspresi seperti itu. "Sssst... Muslimah kok hobi bengong, sihh?" bisikku persis di telinganya. Ratri tersentak kaget. Pipinya bersemu merah, malu ketahuan melamun.

"Ikan saja bisa punya keterunan ya Mas... Kita kapan?" tanyanya lirih, hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas. Leherku tiba-tiba tercekat. Oh, Allah.... Ratri tersenyum manis, lalu menggamit lenganku menuju meja makan. Tak lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakn aktivitasnya seharian. Ah, Ratri, Ratri....

Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kami sudah memeriksakan diri secara intensif kedokter kandungan. Hasilnya, kami berdua normal. Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdoa dan berusaha tentunya. Yah, barangkali kami berdua memang sedang diuji.

"Nikah lagi aja , Maaasss," celetuk Ratri suatu kali.

Aku tersentak. Keturunan memang sangat kuharapkan. Tapi membagi cintaku dengan wanita lain, meski itu dibolehkan dalam Islam, apa aku sanggup? Kucubit pipi istriku perlahan. "Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya.

"Cemburu kan manusiawi Mas. Aisyah juga cemburu pada Khadijah. Tapi bukan cemburu masalahnya Mas. Kalau Mas punya istri lagi, kan Ratri bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas," tuturnya.

"Kalau dia juga tidak bisa hamil?"
"Ambil istri lagi."
"Kalau belum punya anak juga?"
"Ambil lagi."
"Hussss, sembarangan!!" protesku pura-pura galak. Kudekap kepala mungilnya erat-erat.

Hari ini ulang tahun pernikahan kami yang keempat. Umurku sudah dua puluh delapan tahun. Uban di kepalaku sudah belasan jumlahnya. Ketika menikah dulu, Ratri bilang ubanku ada enam lembar! Dan sampai saat ini kami belum dipercaya Allah untuk menimang seorang anak. Tapi aku masih mencintai Ratri. Dan, tidak akan pernah pudar.

Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya kelihatan merah berseri-seri. Kulihat ia membawa sebuah nampan yang tertutup menuju  meja makan. Lalu ia menarik lenganku manja. "Sini Mas..." ajaknya.

 

Aku menurut saja. "Happy fourth anniversary...," katanya lembut. Mataku berkaca-kaca. Perlahan kubuka nampan itu. Sebuah kue tart, romantis sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik. Keningku berkerut. Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop itu, seketika Ratri merebutnya. "Makan dulu doooong....," protesnya.

Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum. Tak urung kuraih pisau lalu. "Bismillahirahmanirrahiim...," kupotong kue tart itu. Ratri tersenyum, ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta amplop itu. Ratri menggeleng. ''Makan dulu,'' katanya. Kugaruk-garuk kepalaku dengan gemas.

Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali telan. Dan Ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tanganya. Dan Subhanallah... Maha suci Engkau wahai Rabb seru sekalin alam! Ratri hamil!!! Masya Allah, setelah sekian tahun!
Seketika aku tersungkur sujud. Air mataku meleleh. Kudekap kepala Ratri erat-erat. Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala Ratri. Ia mendongak, jemarinya menghapus air mataku.

"Mas menangis?" tanyanya. Aku mengangguk. Ya, aku menangis! Tangis syukur. "Kok periksa ke dokter ngak bilang-bilang?" protesku.

"Biarin, nanti nggak  surprise,'' katanya. Tiba-tiba aku merasa bersalah. Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin mengikuti tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu. Kudekap Ratri makin erat.

Sejak hari itu, kesehatam Ratri menjadi perhatian utamaku. Aku sering marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya, tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.

Sembilan bulan, lebih delapan hari. Hari itu tiba. Tadi pagi Ratri sudah mulas-mulas. Katanya mulasnya dimulai dari punggung menjalar sampai ke depan. Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang telepon. Aku menelepon seorang teman untuk membawa mobil ke rumah. Ratri masih mengeluh mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan. Oh... air ketubanya sudah pecah.

Di rumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya , Allah... entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar biasa. ''Ya Allah, selamatkan istri dan anakku....'' bisikku berulang kali.

"Bapak Syiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin.

"Ya, saya Dokter...," sahutku cepat. Kuhampiri dokter itu.

"Ada sedikit kelainan, harus dioperasi. Suster, tolong bimbing Pak Syaiful untuk mengisi formulir ini," kata dokter itu. Aku tersentak kaget! Operasi? Astagfirullah. "Tapi... istri saya tidak apa-apa kan Dokter?" tanyaku khawatir. Dokter itu terdiam. ''Berdoalah...," katanya pelan. Kugigit bibirku erat-erat. Allah ... selamatkan isri dan anakku. Kuambil wudhu dan sholat di musholla. Kuhabiskan gelisahku di sana.

Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi. Anakku... desisku perlahan. Aku seperti dituntun nuraniku. Bergegas keluar musholla.
"Bapak Syaiful Bahri..."
"Ya, Dokter..."
"Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo, cantik seperti ibunya,'' kata dokter itu.
"Alhamdulilah..." desisku berulang-ulang. "Istri saya, gimana Dokter?"

Dokter itu terdiam. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar di segenap hatiku. Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh tanya. Tiba-tiba dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara kepalanya pun menggeleng perlahan pula. Mulutku terngaga seketika. "Maafkan..., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki lain." katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung. Dokter itu perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin. Aku menurut saja tanpa rasa.

Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu membuka kain penutup itu. Inalilahi wa innailayhi rajiuun... Wajah Ratri terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum manis, manis sekali. Kudekap kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan. "Sabar... sabar, Pak," hibur dokter itu. Dan meminta suster membawakan anakku.

Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan di hadapanku. Perlahan kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis. Kutatap bayi merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip. Matanya, hidungnya, mulutnya... Allahu Akbar!

Rupanya ini hikmah itu, Ratri.  Allah memberi kesempatan padaku untuk menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu setelah ia memberikan gantinya.

Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai. Seandainya saja aku tidak mengharapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri. Ini semua takdir-Mu, ya Rabbi. Selamat Jalan Ratri….

Sumber: Cahaya di atas Cahaya, Izzatul Jannah


tags: #surat #kata baik #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI