Ilustrasi sore, Foto: Istimewa

Ilustrasi sore, Foto: Istimewa

Diammu di Sore Itu

Aku bertanya-tanya. Ternyata percakapan tadi hanya ada di dalam otakku saja. Kamu masih duduk di depanku, menunggu. Aku berusaha mengentaskan diri dari nostalgia.

Jumat, 05 Februari 2021 | 08:42 WIB - Surat
Penulis: - . Editor: Ririn

SUNGGUH, aku tak tahu harus bicara apa. Kemelut dalam kepalaku sungguh menyiksaku. Sementara, Sepertinya alam dan seisinya tak ingin aku bicara.

Aku tahu, aku hanya ingin seseorang mengerti. Aku ingin tahu rasanya ada yang mengerti. Walaupun orang itu bukan dirimu. Tak apa, aku tak memaksa. Biar aku sendiri yang memikul semuanya. Toh, bukan salah siapa-siapa aku begini. Aku pun tak berharap ada yang mengerti. 

BERITA TERKAIT:
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis

Mungkin benar katanya, tak ada dua orang di dunia yang diciptakan serupa. Warna jingga langit sore waktu itu mungkin tak pernah terlihat sama dari dua pasang bola mata berbeda. Mataku yang rabun ini tak dapat menghargai keindahannya tanpa berlindung di balik lensa kacamataku. 

Begitu pula makna setiap kata-katamu. Hujan buatku berarti sendu. Setiap tetesan air dari ujung langit bak petikan nada-nada indah yang mengiringi setiap langkah kakiku yang basah. Hujan buatmu berarti tanda bahaya. Kamu memilih berteduh darinya.

Sementara aku hanya berdiri angkuh menatapmu, sambil merasakan angin dingin melewati rambut dan pipiku yang basah kuyup. Sungguh, aku tak pernah mengerti apa yang kamu pikirkan. Padahal, hujan kan mengasyikkan?

"Tidak, aku di sini saja," katamu. Aku menganggukkan dagu, berusaha mengerti. Tapi aku memang tak pernah sepenuhnya mengerti isi pikiranmu. Aku bertanya, "Mengapa begitu? Coba saja. Tidak seburuk yang kau kira, kok," harapku, menggoda.

"Kamu saja. Aku menunggu di sini," sahutmu.

Aku bertanya-tanya. Ternyata percakapan tadi hanya ada di dalam otakku saja. Kamu masih duduk di depanku, menunggu. Aku berusaha mengentaskan diri dari nostalgia.

 

Sepi. Kita berdua merenung.

"Maafkan aku, sayang. Mungkin ada baiknya kita berpisah. Aku tak ingin lagi membuatmu tak bahagia," getar bibirku memecah keramaian sunyi.

Akhirnya rangkaian kata-kata itu keluar dari mulutku yang masam, menahan perihnya perpisahan. "Maafkan aku. Aku harap kamu mengerti." 

Kamu memilih diam. Bahkan tak menatapku sekali saja.

Hingga aku beranjak dari kursi itu. "Sampai jumpa lagi," lirihku sambil melambaikan tangan kiri, sekali saja.

Sampai sekarang, sungguh, aku tak pernah mengerti arti diammu. Aku bahkan tak mengerti kata-katamu saat kamu bicara. Lantas aku hanya bisa mengumpat menyalahkan dunia seisinya. Sekarang aku baik-baik saja. Ini tak seberapa bagiku. Tapi aku tak pernah tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu.

Teruntuk dirimu di luar sana yang mungkin masih diterpa lara. Bersabarlah, mungkin ini cara-Nya mengajarkan lara untuk memberikanmu bahagia. Bersabarlah, hempaskan kakimu ke tanah dan kembali berjalan. 

Pelan-pelan saja, tak ada yang mengejarmu. Tak ada yang memarahimu bila kamu terlambat sampai ke sana. Bersabarlah, kamu bisa menghadapinya. Tentu, akan kutemui dirimu di waktu lain, saat semuanya sudah baik-baik saja.

*Tulisan di atas dibuat oleh Forsaria Prastika, reporter magang KUASAKATACOM.


tags: #surat #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI