Ilustrasi hujan

Ilustrasi hujan

Awal Jumpa: Al, Pertemuan yang Basah

Perlahan dirimu berubah menjadi sosok magis yang purba. Kulitmu yang basah semakin bercahaya.

Senin, 08 Februari 2021 | 11:39 WIB - Surat
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

AKU tak pernah menyangka, jiwaku yang mengering kini benar-benar basah. Pertemuan yang kukira seperti di mimpi, penuh bunga dan aroma pagi, tak terjadi. Aku justru bertemu denganmu di tengah jalan saat Semarang dilanda banjir, dua hari lalu. Kita sama-sama naik motor, tapi dari arah berlawanan. Kali ini Al, biarkan aku menulis pertemuan kita yang gerimis.

Aku lupa bagaimana nestapa mengambil alih diri
ketika kubuka sepotong sapu tangan berisi bulan sabit emas
dari uluran tangan yang kau sepuh dengan jaring-jaring mimpi.

BERITA TERKAIT:
Bharada E Tulis Sebuah Surat untuk Keluarga Brigadir J, Begini Isinya 
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

Saat itu aku dibonceng kawanku. Sementara kau naik motor sendiri. Di antara orang-orang yang berusaha menerjang banjir, hanya kau yang tak memakai jas hujan. Kau memakai kaus lengan pendek hitam bergambar tengkorak. Mengenakan celana pendek warna biru muda yang memudar hingga nyaris berubah jadi putih. Beruntung kau tak memakai helm. Sehingga nampaklah rambutmu yang duduk di pundakmu. Digelayuti hujan.

Kutemukan diriku yang lain dalam cermin matamu
karena mulai saat itu jemarimu mengucurkan bintang-bintang bersayap
dan menghidupkan nyawa menjadi puisi
biru bergaun cahaya yang memilin sisa-sisa bening pagi
dalam tarian kaki yang terus menjejaki senja.

 

Saat itu siang menjelang senja. Kau menatap ke depan, sementara mataku terus menjaring sosokmu. Kulihat kau memakai sendal jepit yang kurasa baru saja dibeli. Tubuhmu berkilat-kilat. Perlahan dirimu berubah menjadi sosok magis yang purba. Kulitmu yang basah semakin bercahaya. Jantungku mulai berdebar kencang. Mengumpulkan keberanian untuk memanggilmu.

Aku lupa bagaimana awalnya aku hanya menatapmu menyibukkan diri menjadi
sepi.
Detik demi detik menjelma jamur di batang lapuk yang disemai hujan patah-patah.
Aku pun sekadar membenamkan diri dalam kopi hitam tanpa gula.
Menikam dalam-dalam ruang yang harus diisi dua pasang mata.

Tak bisa. Mulutku hanya terbuka sedikit. Selanjutnya yang kulakukan hanya bergumam lirih. Seolah merapal mantra saat menghadap leluhur mahapurba. Aku pun berharap jalanan ini macet lebih lama. Tapi tidak. Truk, mobil, dan motor di sekitar mulai merangsek maju. Perlahan. Sayangnya, banjir semakin kuat menerjang dari arah kanan. Hingga temanku nyaris tak mampu menjaga keseimbangannya. Hampir saja kami terjatuh. Terseret banjir. 

Aku memuja lupa
karena kini, ruang itu menjelma sajak tegak-tegak yang kita beri nama bersama:
Aku dan Engkau.

Kita sama-sama bergerak maju. Waktu sepertinya sengaja diperlambat. Aku pun terus menoleh ke belakang. Menatap punggungmu yang masih terang. Mataku basah. Bukan karena air hujan. Tak lagi berdebar, kini dadaku sesak. Mulutku masih terbuka sedikit. Tak mampu lebih. Semakin aku berusaha bersuara dan memanggil namamu, tenggorokanku sakit. Aku menyerah. Kembali menghadap ke depan. Lantas entah mengapa, kepalaku menengok ke belakang. Al, kulihat kau juga melakukan hal yang sama.


tags: #surat #kisah #narasi

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI