Gambar Ilustrasi

Gambar Ilustrasi

Al: Mawar Kering dan Pesan yang Basah

Di tanganmu adalah mawar kering dan rentan yang justru terlihat basah karena keikhlasannya. Kelopaknya bisa kapan saja tanggal. Tapi kau, Al, berusaha membuatnya tinggal.

Selasa, 09 Februari 2021 | 14:42 WIB - Surat
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

SEBELUM ini, sudah sepuluh surat kutulis. Hampir semua tentangmu kunarasikan. Ya, tentu jejakmu masih samar. Hingga baru saja, saat listrik tengah mati dan aku berada pada jam istirahat, nomor asing mengirimiku pesan melalui WhatsApp.

"Violet. Fragmen. Siluet. Bunga Rumput. Cukup indah," bunyi pesan yang kuterima dari nomor tak dikenal. Di foto profil, nampak bunga mawar kering hingga nyaris berwarna abu-abu. Tergeletak di atas meja. Dua benda yang membuatku merasa sangat dekat dan hangat.

BERITA TERKAIT:
Bharada E Tulis Sebuah Surat untuk Keluarga Brigadir J, Begini Isinya 
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

"Ini kamu?" Sepi. Tak kau jawab. Kamu kah itu, Al?

 

Ah, listrik sudah nyala. Saatnya aku kembali bekerja. Dari balik jendela, kulihat langit bergaun biru dan putih. Kubayangkan ia adalah peri yang kau ikat pada mawarmu. Mawar kering dan rentan yang justru terlihat basah karena keikhlasannya. Kelopaknya bisa kapan saja tanggal. Tapi kau, Al, berusaha membuatnya tinggal.

Mawar yang memejamkan rerumputan di pagi hangat. Barangkali ia juga akan menulis pesan di selendang rerumputan.

"Lho, kamu sudah punya pacar?" Pesanmu masuk tiba-tiba dan tak kubalas. Aku ingin fokus pada pekerjaanku hari ini. Atau, ya, kamu dan kalian boleh berpikir aku takut membalasnya.


tags: #surat #kisah #narasi

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI