Gambar Ilustarsi

Gambar Ilustarsi

Catatan Kecil: Barik, Kawan Semasa SD

Telepon kututup. Bukan permintaan maaf atas permen karet yang kutanyakan, Bar. Tapi waktu awal masuk ke kelas lima, aku ingat selama tiga hari kau tak menyapaku. Setelah itu aku tak pernah melihatmu lagi.

Rabu, 03 Maret 2021 | 09:54 WIB - Kisah
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

"Waktu SD, sepertinya kelas empat, aku sengaja beli permen karet, terus kutaruh di kursimu," katamu padaku melalui telepon semalam.

Aku pun menggali ingatan, pada ruang yang cukup dalam. Nampak gadis kecil menangis usai keluar kelas. Saatnya pulang. Kamu, Barik kecil, dengan (sok) gagah menghampiriku. Lantas bertanya alasan aku menangis. Mendengar jawabanku, kau tersenyum jahat. Kini, aku tahu alasan di balik senyuman itu.

BERITA TERKAIT:
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis

"Saat itu satu permen karet harganya Rp50 rupiah. Aku ingat kamu duduk di bangku nomor dua dari depan. Kamu selalu duduk kalau tak di bangku nomor satu ya dua."

Aku diam. Membiarkanmu bahagia mengenang masa lalu. Jika kuhitung, 14 tahun sudah kita tak jumpa. Kelas lima awal semester satu, kau pindah ke Batam.

 

"Melihatmu mulai merengek, memegangi rok yang terkena permen karet, aku cekikikan di pojokan," lanjutmu masih dengan tawa yang keras.

"Enggak mau minta maaf?" balasku.

Dengan tegas kamu jawab: tidak! Selanjutnya, alibi licikmu keluar. Saat itu, kau yang mengetahui aku menangis karena ulahmu, memutuskan untuk mengantarku pulang. "Aku kan baik hati," tukasmu.

Di akhir telepon, kau bilang saat bulan puasa hingga Lebaran nanti, akan pulang ke Jawa. Tepatnya ke Kendal, ke rumah simbahmu. "Rumahmu masih di belakang TPQ, kan? Ntar aku main. Kalau perlu aku ke Semarang, ke kosmu."

Telopon kututup. Bukan permintaan maaf atas permen karet yang kutanyakan, Bar. Tapi waktu awal masuk ke kelas lima, aku ingat selama tiga hari kau tak menyapaku. Setelah itu aku tak pernah melihatmu lagi.


tags: #surat #kisah #narasi #barik

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI