GOSSIP | gettyimages

GOSSIP | gettyimages

Berhenti Menikmati Ketidakjelasan

Kadang membenci bisa jadi begitu mengasyikkan.

Rabu, 10 Maret 2021 | 08:21 WIB - Kisah
Penulis: @elbaralazuardi . Editor: Kuaka

KEDUKAAN bisa datang dari ucapan yang tidak direncanakan, atau telinga yang lupa menutup diri. Aku sering mengalami ini. Berbincang dengan rekan-rekan, saling melempar canda, lalu dari saling cerita itu, ''gosip'' bisa diam-diam menyelinap. ''Eh, tahu nggak Lang, aku mendengar sesuatu tentang Pipit. Dia ternyata tidak sebersih yang kita kira....'' atau, ''Kayaknya, Indri tidak seikhlas itu deh, dulu dia pernah...''

Lama-lama aku sadari, selinapan ''gosip'' ini menjadi beban yang luar biasa. Syak-wasangka, purbaduga, benci, bisa datang dengan begitu indahnya, yang bahkan tanpa membutuhkan --mengikuti prinsip jurnalisme-- verifikasi. ''Gosip'' diterima menjadi sebuah kebenaran baru, sebagai kejutan yang menggairahkan dalam memandang seseorang. Dan anehnya, entah kenapa, kadang benci bisa jadi begitu mengasyikkan. Bermain dalam ketidakjelasan, menduga-kira, memanjangkan khayal dari secuil info, menebak keseluruhan hidup teman dari puzzle sas-sus, lalu ''merasa'' tahu tentang sesuatu yang dia sembunyikan, hmm... bisa memancing rasa bangga. Betapa aneh, karena kadang rasa bangga itu bertaut dengan kedukaan ketika menyadari bahwa aku ternyata masih bisa dibohongi.

Tapi, darimana muncul ''rasa dibohongi'' itu? Darimana lahir kedukaan karena menyadari sahabat tidak seideal yang aku bayangkan? Ya, dari cerita-cerita yang seharusnya tidak aku dengar. Cerita-kabar yang memang tidak menjadi milikku.

BERITA TERKAIT:
Belajar Memaafkan Ibu
Al: Kemelut dalam Pikiran (1)
bukan bayang sempurna
Al, Terima Kasih, Padaku Kau Percayakan Sedikit Kalutmu
Kisah Jumat: Cinta Allah, Ali, dan Husein
karena kamu adalah keindahan yang telah dijanjikan tuhan di masa silamku, ketika tertidur di rahim ibu...
Berhenti Menikmati Ketidakjelasan

Karena itu, ketika tadi pagi, seorang teman dengan tergopoh-gopoh membuyarkan mimpiku, hanya karena ingin berbagi kabar tentang kamu, aku marah. Aku menolak kehadirannya. Aku tidak mau dengar sesuatu yang bukan menjadi hakku. Tapi dia memaksa, ''Ini demi masa depan kamu, Lang. Kamu harus dengar kabar ini, penting banget...''

Sempat sedikit ragu menguasai benakku. Ada apa dengan kamu? Adakah sesuatu tentangnya yang tidak aku ketahui? Tapi, lintasan ragu itu segera kuhapus. Aku tepuk bahu sobatku, yang mungkin bermaksud baik. Lalu, sambil duduk, aku sorongkan rokok. ''Merokoklah,'' kataku. ''Sebelum kamu ngomongin dia, biarlah aku yang bercerita dulu. jika sesudah ceritaku ini kamu masih tetap mau ngomongin dia, aku akan mencoba mendengar.''

Temanku itu setuju. Aku pun bercerita tentang Socrates.

******

Suatu pagi, seorang pria mendatangi Sokrates, dan dia berkata, ''Tahukah Anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman Anda?''

''Tunggu sebentar,'' jawab Socrates. ''Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin Anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan saringan tiga kali.''

''Saringan tiga kali?'' tanya pria tersebut.

''Betul,'' lanjut Socrates. ''Sebelum Anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang akan Anda katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai saringan tiga kali.

''Saringan yang pertama adalah kebenaran. Sudah pastikah Anda bahwa apa yang Anda akan katakan kepada saya adalah kepastian kebenaran?''

 

''Tidak,'' kata pria tersebut, ''Sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada Anda''.

''Baiklah,'' kata Socrates. ''Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.''

''Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu kebaikan. Apakah yang akan Anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik?''

''Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk''.

''Jadi,'' lanjut Socrates, ''Anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar. hmmm...''

''Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, yaitu kegunaan. Apakah yang Anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya?''

''Tidak, sungguh tidak,'' jawab pria tersebut.

''Kalau begitu,'' simpul Socrates, ''Jika apa yang Anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya?''


******


''Bagaimana?'' tanyaku pada si teman, ''Ada berita apa tentang dia?''

''Ahh, nggak ada apa-apa. Thanks ya, rokok kamu enak,'' katanya, dan pergi setelah menepuk pundakku.


tags: #surat #kata baik #surat cinta #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI