LOVE | gettyimages

LOVE | gettyimages

Kisah Jumat: Cinta Allah, Ali, dan Husein

Bagaimana mungkin bisa banyak cinta di hatimu

Jumat, 12 Maret 2021 | 07:52 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

SEHABIS subuh, Hussein kecil merangkul leher Ali dari belakang, menggelendot sembari mencium pipinya, dan memanggil, "Ayah...''

"Ya, anakku?" jawab Ali. Dia tarik Husein, dia dudukkan di pahanya, terengkuh dalam pelukan. Ali tahu, Hussein akan mulai bertanya jika mulai memeluk semacam itu. Dan benarlah.

"Ayah, apakah engkau mencintai Allah?"

BERITA TERKAIT:
Belajar Memaafkan Ibu
Al: Kemelut dalam Pikiran (1)
bukan bayang sempurna
Al, Terima Kasih, Padaku Kau Percayakan Sedikit Kalutmu
Kisah Jumat: Cinta Allah, Ali, dan Husein
karena kamu adalah keindahan yang telah dijanjikan tuhan di masa silamku, ketika tertidur di rahim ibu...
Berhenti Menikmati Ketidakjelasan

Ali tertarik dengan pertanyaan putranya yang tidak biasa.  "Tentu saja. Tentu aku mencintai Allah."

"Apakah engkau juga mencintai kakek?" tanya Hussein lagi. Maksudnya adalah Rasulullah SAW.

"Oh, tentu saja aku juga mencintai kakekmu," jawab Ali sambil menunggu pertanyaan selanjutnya. Ia tahu, Hussein pasti tidak akan berhenti bertanya sampai dia merasa cukup puas dengan jawabannya.

"Lalu Ayah, apakah engkau juga mencintai ibu?" Maksudnya adalah Fathimah RA, putri Rasulullah.

"Tentu saja aku juga mencintai ibumu, Nak. Sangat mencintai," jawab Ali tersenyum lebar.

"Lalu, apa engkau juga mencintai aku?" tanya Hussein, dengan tatapan yang serius.

 

Ali tersenyum. Dia belai kepala Hussein, dan sembari memberikan ciuman di dahi si kecil tampan itu, dia berkata, "Tentu saja. Aku pun sangat mencintaimu, Nak."

Hussein diam. Matanya agak menerawang, seperti tengah berpikir, atau menata kalimat yang tepat untuk bertanya lagi. Dan benarlah, tak lama kemudian, dengan pelan dan hati-hati, kata-kata meluncur dari bibir mungilnya.  

''Lalu Ayahku, ajari aku bagaimana engkau dapat menyatukan demikian banyak cinta di dalam hatimu?''

Ali tersenyum lebar, kagum dengan pertanyaan putranya yang masih kecil itu. "Anakku, hebat sekali pertanyaanmu ini. Ayah suka,'' bisiknya, sembari menatap mata dan membelai pipi kemerahan putranya. "Cintaku kepada kakekmu, kepada ibumu, dan kepadamu, sesungguhnya berasal dari cintaku kepada Allah," jawab Ali.

"Dialah yang memerintahkan semua cinta itu, menumbuhkannya, dan Dia juga yang menyuburkan dan menjaga semua cabang-cabang cinta itu. Jadi Nak, semua cinta itu sesungguhnya adalah cabang-cabang dari sebuah pohon cinta kepada Allah."

Hussein kecil tersenyum, mengangguk-angguk, puas dengan jawaban ayahnya itu.

Ali meraih putranya untuk memeluknya sesaat, sebelum ia membiarkan putranya  itu berlari kecil, pergi bermain kembali.

"Tidaklah Allah menjadikan bagi seseorang dua hati dalam rongganya." (Q. S. 33 : 4)

(Dikutip dan disunting ulang dari WAG)


tags: #surat #kata baik #surat cinta #cinta #kisah

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI