Sunset I Pixabay

Sunset I Pixabay

Al, Terima Kasih, Padaku Kau Percayakan Sedikit Kalutmu

Tak apa, tak perlu kau singkirkan jiwa kanak-kanakmu hanya karena tak ingin disebut kekanakan. Padahal sengsara dalam kedewasaan.

Minggu, 14 Maret 2021 | 10:20 WIB - Kisah
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Saat pulang ke indekos yang berada persis di samping kantor tempatku kerja, kulihat seorang lelaki duduk di atas motor vespa. Di depan gerbang indekos, seakan tak mengizinkanku masuk. Menatapku yang keheranan, ia hanya cekikikan. 

Beberapa saat kemudian, aku ikut dengannyaa, membonceng. Ia tak mengizinkanku mengambil helm terlebih dahulu. Ia pun, tak memakai helm.

"Lewat jalan tikus, biar ga dihadang polisi. Tapi mereka juga tak akan bisa menangkapku, sih," ujar lelaki ini. Ia memakai kaus hitam bermotif karakter kartun Tom & Jerry dan celana jins robek-robek. Rambutnya sebahu, setengah basah. Aku tak tahu sampo apa yang ia gunakan, tapi ini terasa akrab. 

BERITA TERKAIT:
Luka Batin Seorang Monster
Kematian Ketiga
Perempuan di Depan Bingkai Foto
Kisah Seorang Anak Yatim yang Bertemu Rasulullah di Hari Idul Fitri
Kisah Umar, Pemuda yang Diberikan Rumah oleh Allah SWT di Surga
Jangan Meludahi Langit
Kemenangan tanpa Juara

Ya, lelaki yang memboncengku ini, seperti kalian duga: dialah Al.

"Kalau tak yakin bisa memboncengmu dengan selamat, mana mungkin aku menjemputmu. Kepercayaan diriku tinggi," ujarmu usai aku membatin bahwa memakai helm bukan untuk menghindari polisi. Melainkan berjaga-jaga, demi keselamatan.

Mendengar jawabannya, aku tak berani membatin lagi. Dari awal pertemuan kami pun, aku tak berbicara apapun. Al hanya menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kupikirkan atau kubatinkan. Merasa tak yakin ia bisa membaca pikiran, atau kupikir ia hanya menebak saja, kucoba untuk menyusun beberapa tanya seperti tadi. 

Sial. Aku tak tahu harus bagaimana bersikap. Pertemuan pertama yang terasa aneh dan canggung bagiku, tapi ia cuek saja. Seakan kami ini anak teman kecil yang sering bermain bersama. Mataku tak fokus menatap jalan. Sementara telingaku, hanya mampu menangkap suara motornya dan degub jantungku yang membuat tak nyaman karena menencang. Jalanan sepi.

Al tertawa. Tolong jangan bilang kamu tahu hal ini juga! Tertawanya makin kencang. "Ada yang ingin bertemu denganmu. Kita ke rumahku," ucapmu. 

Aku tak hapal jalan menuju rumahnya. Jangankan rumahnya, perjalanan dari Semarang menuju rumahku di Kendal atau sebaliknya, selama enam tahun ini pun aku tak hapal. Yang jelas, kami melewati Kota Lama.

Tiba di rumahnya, sepi. Tak ada siapa pun. "Dia menyambutmu di depan pintu." 

Kalimat yang membuatku ragu untuk masuk. Namun kau hanya tersenyum tipis, kemudian menarik tanganku. "Mau ke kamarku?"

Pertanyaan macam apa ini? Mataku pun menyipit. Selain karena di rumah sepi, di kamarnya ada ... . Ia kembali tertawa. Kali ini agak panjang. Di akhir bahkan ia pegang perutnya. Hah! Tak puas-puasnya ia mempermainkanku. Ia menyuruhku duduk di ruang tamu, sudah ada minuman dan makanan ringan. 

 

Al naik ke lantai dua. Kuduga, ia pergi ke kamarnya. Benar saja, ia turun membawa laptop dan charger-nya. Hingga saat itu, kupikir ia mengajakku ke rumahnya untuk menonton Der Hölle Rache, musik klasik berbahasa Jerman yang diciptakan oleh Wolfgang Amadeus Mozart untuk pertunjukan opera The Magic Flute.

"Dia, yang duduk di sampingmulah yang menyuruhku menjemputmu. Entah kenapa, dia bilang menyukaimu." 

Aku tercekat. Kukira, hanya ada kami  berdua di rumah ini. Pantas saja, sedari tadi, tangan kananku terasa tak nyaman. "Dia sekarang tersenyum. Sedari tadi menatapmu terus." 

Tak terasa, mataku panas, bulir bening menitik perlahan. "Jangan takut, dia tak akan menyakitimu. Lagi pula ada aku."

Setelanya, kutahu namanya Constanze Weber. Ia adalah penyanyi opera dari Jerman. Namanya mirip istri Mozart. Entahlah, mungkin perempuan ini ngefans dengan Mozart. Katanya, ia ditembak Belanda saat sedang pentas di Semarang. Mengenakan gaun merah ala Eropa. Dengan alot, kuangguk-anggukan kepala. Lantas saat ditawari agar dapat menatap Weber sebentar, kepalaku refleks bergeleng-geleng cepat.

Menurut Al, dari keterangan Weber, The Magic Flute adalah sebuah pertunjukan opera yang diadakan oleh Mozart dan kawan-kawannya. Ditayangkan pertama kali pada tanggal 30 September 1791, di Freihaus-Theater auf der Wieden Di Wina.

Lagu ini dinyanyikan dalam babak kedua dalam pertunjukan opera The Magic Flute dan dinyanyikan oleh kakak ipar Mozart, Josepha Hofer, yang berperan sebagai Queen of the Night.

"Katanya, kamu hampir mirip dengannya." Aku tersenyum kecut. Setidaknya, kuketahui jika Weber tak jahat. Ialah sosok yang pernah kuceritakan pada surat sebelumnya. Sosok yang menghuni kamar Al. Ia yang pertama kali Al lihat usai "kebangkitannya". Kurasa ia juga yang mengajarkan Al bahasa Jerman.

Sayangnya, perjumpaanku dengan Al hanya sebentar. Selesai menonton opera, ia menerima pesan melalui WhatsApp. Mimik mukanya menegang. Kedua tangannya mengepal. Kemudian pamit sebentar untuk menelepon seseorang. 

Selanjutnya, aku diantarnya pulang. Saat itu meski tahu apa yang kupikirkan, ia memilih diam. Jalanan hening. Meski ingin tahu pun, aku tak akan bertanya jika ia tak ingin memberitahuku.

Tiba di depan indekos, setelah mengucapkan terima kasih, aku membuka gerbang. Saat hendak menutupnya...

"Tak apa, tak perlu kau singkirkan jiwa kanak-kanakmu hanya karena tak ingin disebut kekanakan. Padahal sengsara dalam kedewasaan," ujarmu. Kurasa, itu nasihat yang berusaha mati-matian kau yakinkan pada dirimu sendiri, Al. Tapi terima kasih karena padaku, kau percayakan sedikit kalutmu.
 


tags: #surat #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI