FRIENDSHIP | gettyimages

FRIENDSHIP | gettyimages

bukan bayang sempurna

Oleh Elbara Lazuardi*

berteman adalah menciptakan sebuah ruang yang disepakati dapat dimasuki bersama

Senin, 15 Maret 2021 | 08:28 WIB - Surat
Penulis: @elbaralazuardi . Editor: Kuaka

KALAU kamu sekarang berada di Semarang, langit yang menyungkupimu adalah arakan jelaga hitam, dengan angin keras yang memaksa beberapa pohon kecil harus bersujud. dan jika kau lemparkan mata ke utara, tampak barisan burung yang bergerak-berjajar, seperti membawa kabar: gerimis akan menebar.

Semarang, pagi ini, atau siang nanti, tampaknya akan menderas lagi. dan aku harus bersiap-siap memanaskan imaji, bersumbu segelas kopi.

ann, kamu tahu apa yang biasa aku lakukan kalau hujan begini? ya, membuka whatsapp dan membaca sapa-sapa sahabat. biasanya, membaca celotehan dan kabar dari mereka, ada rasa hangat yang menjalari tubuhku, membuat dingin yang diberikan hujan itu, menguap, hilang. rasa hangat itu, yang lahir dari tatahan kalimat --mungkin pendek, sering panjang, kadang sekadar sapa, acap hanya gurauan kecil--, entah kenapa begitu ajaib, bisa mendatangkan serumpun kedekatan, sejenis hasrat, semacam kepedulian: perasaan bahwa saat itu aku tidak sendiri. dan perasaan tak sendiri, ditemani, apalagi dalam hujan dan dingin begini, ternyata segar dan menyenangkan.

BERITA TERKAIT:
Luka Batin Seorang Monster
Kematian Ketiga
Perempuan di Depan Bingkai Foto
Kisah Seorang Anak Yatim yang Bertemu Rasulullah di Hari Idul Fitri
Kisah Umar, Pemuda yang Diberikan Rumah oleh Allah SWT di Surga
Jangan Meludahi Langit
Kemenangan tanpa Juara

ann, kamu tahu mengapa aku bisa begitu merasa hangat punya teman seperti mereka? ya, betul, itu karena kami punya alasan yang sama saat memintal pertemanan. seperti yang kukatakan padamu, alasan kita untuk bersama seseorang bukanlah karena kita telah memahaminya, melainkan hanya untuk mencoba  memahaminya. telah memahami, bagiku: acap lebih terdengar seperti penaklukkan. itulah sebabnya, banyak orang yang ketika merasa tak dapat memahami orang lain, ia menghindar, ia memutuskan kebersamaan. "aku lelah bersamamu, aku tak pernah dapat memahamimu."

dengan teman-teman dekatku itu, kami tak pernah merasa saling  menaklukkan, sehingga tak pernah merasa lelah. untuk berteman, kami tak harus saling paham. ketakmengertian, ketaksepahaman, ketertutupan, rahasia, kami letakkan sama derajatnya dengan keterbukaan dan saling berbagi. semula memang ada perasaan kecewa, "aku temannya, mengapa dia tak terbuka? apa dia takut aku tak mampu menjaga rahasia?" ya, praduga semacam itu memang acap datang. dulu. tapi, lama kemudian kami menyadari, rasa kecewa sejenis itu adalah tinggalan dari masa kanak, yang selalu ingin mendapatkan apa yang orang lain juga dapatkan.

 

kami percaya, setiap pribadi itu unik. dan berteman, adalah menciptakan sebuah ruang yang disepakati dapat dimasuki bersama, lengkap dengan segala "keajaiban-diri" tadi.

ruang pertemanan adalah situasi tanpa tegangan, tanpa tanda-tanda, juga defenisi, mungkin hanya semacam persinggahan untuk membiarkan diri kita dimaknai orang lain. bisa dengan sedikit sengketa, dengan tawa, atau dengan kediamdirian semata.

membiarkan diri dimaknai, bagi kami, adalah peluang untuk melihat diri tak lagi dari satu sisi.

memang betul, tafsir orang lain bisa salah, bisa tak sesuai dari laku kami. tapi sekali lagi kami percaya, tanggapan orang lain adalah cermin dari semua laku kami. meski, tentu saja, sebagai cermin, orang lain, juga teman-teman, tak akan menampilkan bayangan yang sempurna. tapi, bukankah memang kita tak pernah dapat mengelak dari bayang?

ah, lihatlah, di pematang langit utara, petir mulai mencambukkan pijarnya. dan dingin ini, mulai memberi rasa. aku harus segera membuka grup whatsapp, dan mendapatkan ruapan hangat kata-kata. oh ya, aku pun mengirimkan sepotong sapa ini, untuk menghangatkan dirimu juga. semoga sampai, juga terasa.


tags: #surat #kata baik #surat cinta #semarang #kisah

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI