Gambar ilustrasi

Gambar ilustrasi

Al: Kemelut dalam Pikiran (1)

Apakah orang yang tak pernah mengalami goncangan tahu apa itu arti damai?

Selasa, 16 Maret 2021 | 09:12 WIB - Kisah
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Dua pasang muda mudi duduk berhadapan, di sebuah kafe. Si perempuan, yang enggan disebutkan namanya, memesan jus jambu. Berharap dapat mengistirahatkan mata yang lelah seharian menatap layar laptop. Sementara si lelaki, kalian sudah sering mendengar namanya—Al, memesan es koffe latte. Sepertinya untuk sedikit meredam nyeri di wajahnya yang lebam dan sudut bibir kanannya yang pecah dengan sedikit sisa darah mengering.

Selebihnya, mereka hanya diam, dengan pikiran masing-masing, terus menatap, namun sesekali meneguk minuman yang tersaji. Sebelum minuman datang, mereka terlibat sedikit percakapan. Al bercerita usai mengantar perempuan di depannya pulang, kemarin, ia kembali ke rumah. Mengambil samurai di tempat paling tersembunyi.

Tak mau diajak minum setiap malam, membuat beberapa kawan lelaki yang memakai jaket hijau lumut itu murka. Perkelahian tak bisa dicegah.

BERITA TERKAIT:
Luka Batin Seorang Monster
Kematian Ketiga
Perempuan di Depan Bingkai Foto
Kisah Seorang Anak Yatim yang Bertemu Rasulullah di Hari Idul Fitri
Kisah Umar, Pemuda yang Diberikan Rumah oleh Allah SWT di Surga
Jangan Meludahi Langit
Kemenangan tanpa Juara

"Sebagai anak pertama, yang memiliki adik kecil perempuan pula, siapa lagi yang harus melindungi keluarga selain aku? Bagaimana jika mereka mengancam keluargaku? Aku hanya membela diri dan memperingatkan mereka," batin Al, sambil menatap tajam perempuan itu. Kedua tangannya menyangga dagu.

"Ada sisi gelap pada setiap diri kita. Sisi yang membuat kita selalu lapar dan bernafsu memakan apa saja. Termasuk hak diri sendiri untuk merasa damai. Namun bisa saja tanpa sengaja, kita sendiri yang menciptakan sisi gelap itu," narasi yang terus berjalan berentetan di pikiran perempuan yang baru saja beban pikirannya justru bertambah.

"Baiklah, mari kita ciptakan lawan: diri sendiri. Lantas, bagaimana aku harus melawan diriku sendiri? Kita lihat, antara aku dan alter-egoku, siapa yang menang?" batin Al yang mengetahui isi pikiran perempuan yang tingginya lima senti lebih rendah daripadanya.

 

"Mengapa kita, manusia, tega mencurangi bahkan menzalimi diri sendiri demi kesenangan pribadi (?). Apakah kekerasan itu ada agar kedamaian tetap menjadi cita-cita luhur umat manusia? Jika tak ada kekerasan, apakah kedamaian yang ada itu tak bisa disebut benar-benar damai?" Terus saja perempuan berkulit kuning itu berkutat pada perenungannya. Masih tetap dengan sesekali meneguk jus jambu. Meski gelasnya telah kosong pun, tetap ia lakukan hal serupa.

"Apakah orang yang tak pernah mengalami goncangan tahu apa itu arti damai?" jawabnya lagi. Meski tetap, tak ada yang mendengarnya.

Memangnya ada, manusia yang tak pernah diterjang badai kehidupan? Muda mudi ini, memiliki jawaban masing-masing, tapi tak ingin dituliskan dalam narasi ini.

Tatapan mereka pun melembut. Urat-urat ketegangan  lucut, namun merupa perasaan tak enak yang sulit diucapkan, bahkan untuk sekadar dibatinkan.

"Memang tak ada yang kudapat usai pertikaian itu. Tentu selain kemenangan yang kini berubah menjadi kekalahan dalam bentuk paling mengerikan: rasa bersalah yang menikam terus menerus," ujar lelaki tersebut sambil melepas jaketnya, tentu dalam batin saja. Rupanya ia kepanasan, meski di ruang ber-AC.

Selanjutnya mereka diminta pergi oleh penjaga kafe secara halus. Maklum, saat ini masih berlangsung pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro. Pukul delapan kafe di Semarang harus tutup.


tags: #surat #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI