MOTHER | gettyimages

MOTHER | gettyimages

Belajar Memaafkan Ibu

Oleh Penaka Kemalatedja

Ketika dijaraki kata-kata, mereka kehilangan rasa dan percaya.

Rabu, 17 Maret 2021 | 09:58 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

PAGI ITU, dia terbangun dengan senyum riang. Siang nanti, dia akan beracara dengan perempuan terbaik Amerika, Michelle Obama. Tapi, senyum dan keriangan itu memudar, sebuah telepon hadir dari adik tirinya. Kabar tak bagus datang: ibunya tengah tergolek di rumah sakit.

Dia dan ibunya bak dua kutub magnet. Tentu, dia tidak membenci ibunya. Tapi dia juga tidak cinta. Dia punya perasaan yang ''mengambang'' tentang relasi dia dan ibunya. Sebabnya satu, dia merasa tak pernah tahu dan mengenal ibunya. Dia bahkan merasa kehadirannya tak diinginkan sang ibu.

Balita, dia dititipkan ke neneknya. Seharusnya, dia akan menjadi cucu tersayang sang nenek. Begitu biasanya kisah ditulis. Tapi, kehidupan, baginya,  memang seperti palu, hanya tahu menjatuhkan pedih. Nenek yang seharusnya mencintai, hanya mengajarkan satu hal: bertahan dalam siksa. Nyaris tiap hari, ada saja dera yang dia dapatkan. Dia dipukul, dan sang nenek berteriak, ''Senyum. Kau harus tersenyum.'' Maka dia akan mencoba tersenyum. Awalnya dia menangis sambil tersenyum. Kemudian dia kehabisan airmata, dan mulai bisa tersenyum dalam dera.

BERITA TERKAIT:
Belajar Memaafkan Ibu
Al: Kemelut dalam Pikiran (1)
bukan bayang sempurna
Al, Terima Kasih, Padaku Kau Percayakan Sedikit Kalutmu
Kisah Jumat: Cinta Allah, Ali, dan Husein
karena kamu adalah keindahan yang telah dijanjikan tuhan di masa silamku, ketika tertidur di rahim ibu...
Berhenti Menikmati Ketidakjelasan

Dalam kondisi itulah, hatinya selalu bertanya, ‘’Di mana ibu?’’

Kelak, dalam situasi apapun, dia hanya tahu tersenyum. Dia akan menjelma sebagai perempuan dengan senyum terbaik.

Tapi itu bukan hal paling buruk dalam hidupnya.

Di usia enam tahun, dia pindah ke rumah ibunya. Tapi kasih sayang tak pernah mendekatinya. Dia mendapatkan perundungan yang terus menerus. Dilecehkan, di-bully, bahkan diperkosa bertahun-tahun. Ibunya seperti tak tahu. Atau tak mau tahu. Atau tak peduli. Dia tak pernah punya tempat untuk bercerita dan mengadu. Dia hanya tahu tersenyum.

Dilecehkan sejak usia 9 tahun, di umur 14 dia hamil. Dia mempertahankan kehamilan itu, tapi usia sang bayi tak lama. Mungkin, takut akan memperburuk kehidupan sang ibu, si bayi bernyawa cuma dua minggu setelah lahir. Dia runtuh.

Tapi, di depan orang, dia tetap tersenyum.

Titik balik dimulai ketika dia tinggal bersama ayahnya, Vernon, yang seorang tentara. Vernon membiarkan dia tersenyum dalam situasi apapun. Tapi, tentara yang sangat keras itu juga mengajarkannya satu hal: hidup itu harus punya tujuan. Harus terus memukuli apapun kepedihan yang datang. Maka dia bertekad, senyum yang lahir dari tiap kepedihannya, akan dia ubah jadi aset terbaiknya.

Dan dia berhasil.

Dalam segala keremukan itu, dia berprestasi. Nilai sekolahnya bagus, kemampuannya berbicara juga cemerlang. Di usia 17, suaranya dan kemampuannya berbicara telah mengantarkannya menjadi penyiar radio lokal yang ternama. Tak berhenti, sebuah TV lokal lalu mendapuknya menjadi pembawa acara. Dia melesat.

1984, dia punya acara sendiri. Dua tahun kemudian, talkshow-nya mendunia, disiar ulang dilebih dari 126 negara. Dia populer. Dia sukses. Dia kaya dan punya banyak pemuja. Dia tertawa, tersenyum, dan membagikan harapan ke siapa pun. Tapi di dalam hatinya, tak ada yang tahu, ada luka yang tak pernah sembuh: perasaan dibuang sang ibu. Dia tak bisa melupakan itu.

Nah, dalam kenangan seperti itulah dia menemui ibunya di rumah sakit.

 

Maka wajar jika tak banyak dialog dalam pertemuan itu. Dia melihat perempuan tua yang tampak amat lelah, tergolek di ranjang berseprai putih. Dia berdiri di sisi tempat tidur itu, hanya memandang tubuh lunglai itu. Dan semua kenangan kembali memutar. Berkali tangannya menjulur untuk menyentuh jemari kisut itu, tapi tak jadi. Lalu, setelah mengucap kata pisah, dia berbalik dan pergi.

Keluar dari ruangan berbau obat itu, dia tersenyum. Tapi hatinya terasa lebih sakit.

Malam harinya, dia tak bisa tidur. Kenangan tentang hidupnya yang pedih, berbaur dengan sosok di ranjang rumah sakit yang ringkih. Dan dia tak lagi bisa tersenyum. Dia usap air mata di pipinya, yang entah bagaimana caranya, telah tumpah. Untuk kali pertama, dia merasa kehilangan. Dan untuk kali pertama juga, dia juga sadar, dia bisa mendapatkan.

Dalam isak malam itu, pikirannya jadi sebening air mata. Dia bisa menerima mengapa ibunya memperlakukannya seperti itu. Remaja kulit hitam yang tak berpendidikan dan miskin, memiliki anak tanpa suami, apa yang dapat dia lakukan. Ibunya hanya tahu bagaimana bertahan hidup, bekerja, menitipkannya pada sang nenek, dan menjauhkannya dari semua nestapa. Dan juga kasih sayangnya.

Dia paham, ibunya pasti tak punya pilihan lain.

Ibunya mungkin tidak mencampakkannya. Mungkin juga tidak membencinya. Ibunya hanya tidak tahu bagaimana cara mencintainya. Atau, justru itulah cara ibunya mencintainya, menjauhkannya dari hidupnya yang legam. Sebenarnya, ibunya dan dia, mengalami kesakitan dan kepedihan yang sama. Mungkin juga kerinduan yang sama.

Mereka cuma tak memiliki kemampuan untuk mengatakannya. Juga keberanian.

Dia paham malam itu. Dia makin tersedu.

Maka, paginya, dia batalkan semua acara. Dia kembali ke rumah sakit itu. Dan, dia jemput jemari kisut yang tersampir di sisi kasur, dia genggam dan dia cium. Dia katakan, dia mencintai ibunya. Dia katakan, bahwa sang ibu bukanlah sosok ideal yang dia impikan. Tapi itu sudah menjadi masa lalu. Dia yakin, mereka bisa mengubah hal itu. Bahwa dia menerima sang ibu, bahwa dia berterimakasih telah dilahirkan. Bahwa dia telah melepaskan semua kekecewaan dan perasaan tak diinginkan.

Tak disangka, sang ibu seperti mendapatkan penebusan. Dan di ranjang itu, anak dan ibu itu saling mengungkapkan perasaan mereka. Dan dia tahu, dia benar. Ibunya bukan tak cinta. Dia menjauh karena selalu merasa bersalah padanya. Dan hari itu, mereka tahu, ketika dijaraki kata-kata, mereka kehilangan rasa dan percaya.

Pagi itu, dia tersenyum. Tapi bukan lagi karena duka dan kecewa.

Dia tahu, ketika dia memaafkan ibu, dia juga memaafkan dirinya sendiri.

Dia tahu, dia memiliki cinta. Juga dimiliki cinta. Dia tak terbebani apapun lagi.

Dia, perempuan itu, adalah Oprah Winfrey. Pembicara paling bercahaya di dunia, dengan senyum yang paling tiara.


tags: #surat #surat cinta #cinta #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI