RENTA | GOOGLEIMAGES

RENTA | GOOGLEIMAGES

Kematian Ketiga

Mereka beranggapan bahwa Wanita Tua telah bertemu dengan kematian ketiganya. Sekaligus kematian terakhirnya

Kamis, 13 Mei 2021 | 20:40 WIB - Kisah
Penulis: Ririn . Editor: Surya

BAGI WANITA TUA itu ada satu hal yang tak boleh terlewatkan dalam menjalankan rutinitasnya: berhenti sejenak di tengah-tengah jembatan, kemudian menatap waduk di bawahnya. Lantas pergi ke Gua Kreo, menemui para kera. Setiap hari, menjelang sore, Wanita Tua itu membawa kacang kulit goreng dalam selendang lusuh yang ia ikatkan ke pinggang. Wanita Tua berperawakan kerempeng, sedikit bungkuk, tapi berkulit putih bersih dan selalu tersenyum penuh kedamaian. 

Penduduk sekitar dan para pengunjung menyebutnya Emak Kera. Seorang ibu yang begitu setia kepada “anak-anaknya”. Pengunjung yang baru pertama kali datang akan berpikir kalau ia adalah juru kunci tempat wisata Gua Kreo. 

BERITA TERKAIT:
Bharada E Tulis Sebuah Surat untuk Keluarga Brigadir J, Begini Isinya 
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

Kera-kera yang setia. Menjalankan amanat dari Sunan Kalijaga. Menjaga tempat ini hingga jiwa dan raga kalian ikut menyatu.

Kalimat yang selalu ia gumamkan ketika bertemu dengan “amak-anaknya” itu tak terdengar jelas. Para kera menghampirinya dengan riang. Ia mengelus-elus kepala mereka bahkan memangku anakan yang masih kecil, mengambilnya dari gendongan sang induk tanpa ada perlawanan dari keduanya. 

Ketika ada pengunjung bertanya kenapa dan bagaimana ia melakukannya, selalu dijawab bahwa ia menyukai kera-kera itu. Namun tentu saja penduduk sekitar tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Sepuluh tahun lalu, ia adalah seorang wanita periang. Begitu ramah dan dermawan meskipun hidup dalam kesederhanaan. Ia selalu menyapa warga ataupun sekadar tersenyum dan menganggukkan kepala jika bertemu orang asing. Jika kalian melihatnya pada saat itu, pasti setuju kalau matanya berkilauan memancarkan kedamaian. Ia hidup bersama suami dan anak semata wayangnya.

Kala itu badannya masih proporsional, tak terlalu kurus atau gemuk untuk tubuhnya yang tergolong mungil. Rambutnya yang memutih beberapa helai ia gulung rapi tanpa konde, membuatnya nampak anggun meskipun hanya mengenakan baju-baju yang warnanya memudar. Namun hidupnya berubah drastis sejak ia mengalami mati yang kedua, begitulah kata para tetangganya. 

“Pada saat merasakan mati untuk pertama kali, ia bisa berangsur-angsur pulih dan hidup kembali berkat anak semata wayangnya.”

“Mati untuk pertama kali? Berarti, lebih dari sekali?”

“Kematian pertama adalah kepergian suaminya. Kematian kedua adalah kepergian anaknya.”

Sepuluh tahun lalu, suaminya hilang entah ke mana. Tiga bulan menghilang tanpa jejak, polisi pun mencarinya. Namun hasilnya nihil. Jika meninggal, sampai saat ini bahkan jasadnya belum ditemukan. Ia begitu terpukul hingga tak peduli lagi dengan lingkungan sekitar. Bahkan dengan anak dan dirinya sendiri. 

Setiap hari ia mengurung diri di dalam kamar. Duduk di atas amben dengan rambut semrawut, tatapan matanya kosong. Terkadang sekadar tiduran di amben yang hanya beralaskan tikar pandan. Jangankan mandi atau keluar dari kamar, makan pun tidak. Jika kalian melihatnya pada masa itu, kalian akan melihat sosok nenek tua yang kurus tinggal kulit berbalut tulang. Untungnya ada tetangganya yang baik sehingga membantu mengurus anaknya yang berumur lima tahun.

Pada akhirnya, perlahan ia hidup kembali. Merawat anaknya dan menjalani hidup seperti sedia kala. Tak ada yang berani membahas soal suaminya, barangkali tak tega. Mereka tahu, Wanita Tua tak akan menganggap suaminya meninggal kecuali ia melihat sendiri jasadnya.

Nahas, nestapa ternyata tak cukup menghampirinya hanya sekali. Sepuluh tahun kemudian, anaknya juga menghilang bak ditelan bumi. Beruntung, tak seperti kematian pertamanya, ia lekas pulih. Setidaknya itu yang warga pikirkan. Hingga berangsur-angsur mereka memahami bahwa Wanita Tua hanya terlihat baik-baik saja dari luarnya. Ia jadi jarang bicara dan menutup diri. Sapaan ramahnya berganti senyum tipis dan sedikit anggukan saja. 

Usianya sekarang menginjak kepala enam. Badannya jadi kerempeng serta sedikit bungkuk, banyak guratan di wajahnya meskipun kulitnya masih putih bersih, dan wajahnya tanpa ekspresi. Warga tahu bahwa ketenangan itu hanya kamuflase dari kumpulan nestapa yang sampai saat ini ia simpan rapi. Hanya nampak ketika ia memandang waduk dari atas jembataan. Sebuah tempat yang paling disukai oleh suami dan anaknya dari Gua Kreo.

Aku sendiri baru dua kali bertemu dengan Wanita Tua. Dua kunjunganku ke Gua Kreo adalah tahun ini dan tahun lalu. Sampai kemarin lusa, aku datang untuk ketiga kalinya. Bukan, bukan untuk berwisata, melainkan untuk menemuinya. Sekadar mengobrol sepatah dua patah. Tak sekadar memandang dari kejauhan seperti dua pertemuan lalu. Aku tak mengenalnya, tapi ada sesuatu padanya yang menarikku untuk mendekat.

 

“Kera-kera di sini sungguh setia. Menjalankan amanat Sunan Kalijaga. Makhluk-makhluk yang setia sangat istimewa. Memeluk kegelapan erat-erat hingga menjadi bagian dari diri sendiri. Sampai ia jadi terang.”

“Bukankah aku sekarang sedang berbicara dengan orang yang setia?”

Selepas perbincangan singkat di atas jembatan, seperti biasa, ia berjalan menuju gua. Sampai di mulut gua, ia menggelar selendang berisi kacang kulit goreng. Para kera berdatangan, berlari, dan melompat dengan antusias. Dari yang jantan, betina, berukuran kecil, sedang, besar, bahkan kera yang di bagian perutnya digelayuti anakan. Para pengunjung hanya melihatnya sepintas lalu, kecuali pengunjung yang baru pertama kali datang. Mereka takjub melihat Wanita Tua yang dikelilingi kera. Mereka mengabadikannya lewat gawai pribadi.

Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menemuinya lagi. Akan tetapi pada kunjungan keempatku ini, batang hidungnya tak kunjung terlihat. Padahal sore telah tergelincir, bertukar petang. Para kera datang bergerombol, pulang kembali ke gua. Saat petang, tempat wisata ini ditutup. Mereka tak akan bisa lagi merampas jajanan milik pengunjung. 

Aku masih terngiang-ngiang percakapan terakhir kami. Katanya, anak semata wayangnya sangat menyukai kacang kulit goreng dan kera-kera di sini.

Menurut warga, seminggu yang lalu terjadi gerhana bulan. Ketika warga tengah melaksanakan salat gerhana, Wanita Tua memukul lesung dan kentongan secara bergantian. Kegiatan itu ia lakukan sampai tengah malam sehingga warga terganggu dan tak bisa tidur. Bahkan  membuat para bayi menangis. Barangkali kebisingan juga.

Karena sungkan menegur, akhirnya mereka memutuskan datang ke rumah pak RT untuk mengadu. Pak RT kemudian mendampingi mereka pergi ke rumah Wanita Tua.

“Nuwun sewu Mbok, sebenarnya apa yang sedang Mbok lakukan di tengah malam seperti ini? Para warga terganggu dan tak bisa tidur,” pak RT membuka suara.

“Sebentar lagi aku akan bertemu dengan anakku. Aku sedang menyambut kepulangannya.”

Warga bergidik ngeri melihat Wanita Tua. Rambut kusutnya terurai mengembang. Sekeliling matanya menghitam, entah berapa malam tak tidur. Ia melotot ketika mengucapkan kalimat itu, penuh tekanan, sambil memandangi warga satu per satu. Kemudian, ia menghadap ke atas, melebarkan kedua tangannya ke samping, tersenyum penuh keyakinan. Lalu berjalan perlahan masuk rumah kembali. Warga pun saling berpandangan.

Tiba-tiba Wanita Tua keluar rumah dengan setengah berlari, membawa kentongan bambu di tangan kiri dengan pemukulnya di tangan kanan. 

“Ada yang mau ikut merayakan denganku?”

Tak ada yang menjawab. Warga menganga tak percaya dengan perubahan drastis atas sikap serta penampilan Wanita Tua. Bahkan baju serta tapihnya kini kumal dan robek-robek. Seakan tak cukup dilanda keheranan, jantung warga dipaksa berpacu ketika tiba-tiba mendengar suara burung gagak tak henti-hentinya.

“Balak, balak. Akan ada balak. Ayo pulang, tutup rapat pintu dan jendela rumah.”

Wanita Tua tertawa terbahak-bahak. Ia berkeliling di depan teras rumahnya, menari berjingkrak-jingkrak sambil memukul-mukul kentongan.

Keesokan harinya, warga tak bertemu lagi dengan Wanita Tua. Tepatnya, tak bertemu untuk selamanya. Tak ada pula yang mencarinya. Mereka beranggapan bahwa Wanita Tua telah bertemu dengan kematian ketiganya. Sekaligus menjadi kematian terakhirnya.

Karena tak bertemu Wanita Tua, aku pulang dengan hampa. Kurogoh secarik foto usang yang gambarnya memudar dari saku celana. Nampak seorang perempuan berusia kira-kira 25 tahun. Foto ini tak sengaja kutemukan di ruang tersembunyi dalam dompet bapak, setelah sebulan lalu dipanggil Tuhan. Entah mengapa foto perempuan ini bisa begitu mirip dengan Wanita Tua


tags: #surat #kata baik #surat cinta #kisah #narasi

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI