NELSON MANDELA | GOOGLEIMAGES

NELSON MANDELA | GOOGLEIMAGES

Maaf dari Nelson Mandela

Ketika aku haus, orang itu datang, tertawa, dan buang air kecil di kepalaku.

Kamis, 08 Juli 2021 | 11:17 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

NELSON Mandela, mantan presiden Afrika Selatan, menulis dalam memoarnya, “Setelah menjadi presiden, saya meminta beberapa pengawal saya untuk berkeliling kota bersama saya dengan berjalan kaki.  Kami memasuki restoran, duduk di tempat kami, dan masing-masing dari kami meminta makanan apa pun yang kami inginkan. Sementara kami menunggu pelayan membawakan kami makanan, saya melihat seseorang duduk di seberang saya menunggu pesanan.

Saya memberi tahu salah satu pengawal saya, "Pergi ke lelaki itu. Minta dia datang dan bergabung dengan kita untuk sama-sama menyantap makanan bersama kita.”

BERITA TERKAIT:
Air Mata yang Menunda Surga
Ketika Kita Memilih Kasih Sayang daripada Kekayaan
Karna di Simpang Jalan
Kita adalah Halaman yang Hanya Berarti Jika Kosong
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua

Lelaki itu datang dan saya mempersilakannya duduk di sebelah saya. Lalu  kami masing-masing mulai menyantap makanan. Tapi, ketenangannya tak ada lagi. Keringat bercucuran dari dahinya dan tangannya gemetar, tidak mampu menyuapkan makanan ke mulutnya. Yang terdengar lebih banyak suara sendok yang beradu dengan piring, dari tangannya yang gemetar. Saya membiarkannya.

 

Setelah semua orang selesai makan dan lelaki itu pergi, pengawalku berkata, "Lelaki tadi tampaknya sedang sakit, tangannya gemetar dan dia hanya mampu makan sedikit."

Saya tersenyum dan menjawab, "Bukan, bukan seperti yang kamu pikirkan. Orang tadi itu adalah penjaga penjara soliter di mana saya ditahan dulu. Sering kali, setelah dia menyiksa, saya berteriak dan meminta sedikit air. dan tahu yang dia lakukan? Orang itu datang, tertawa, dan buang air kecil di kepalaku,’’ jelasku, sembari mengenagn masa-masa pahit itu.

‘’Jadi ketika kamu lihat tangan orang itu tadi gemetar, bukan karena dia sakit. Tetapi karena dia takut saya akan memperlakukannya sama seperti yang dia lakukan padaku. Atau  menyiksanya. Atau memenjarakannya. Tapi itu bukan moralku. Untuk membangun negara ini diperlukan moralitas toleransi bukannya moralitas balas dendam.”


tags: #kisah #kata baik #narasi #surat

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI