Selembar daun | Googleimages

Selembar daun | Googleimages

Harapan di Selembar Daun

Ini kisah untuk mereka yang melawan covid.

Selasa, 13 Juli 2021 | 09:43 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

Seorang gadis yang sedang sakit berat bertanya kepada kakak perempuannya saat dia berbaring di tempat tidur sambil memandangi pohon di dekat jendela.  "Berapa banyak daun yang tersisa di pohon itu, Kak?"

Sang kakak dengan berlinang air mata berkata, "Mengapa kamu bertanya tentang itu, Sayangku?"

BERITA TERKAIT:
Bharada E Tulis Sebuah Surat untuk Keluarga Brigadir J, Begini Isinya 
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

"Karena aku tahu hari-hariku akan berakhir dengan gugurnya daun terakhir. "Jadi sampai saat itu kita akan menikmati hidup kita dan menjalani hari-hari yang indah," katanya sembari tersenyum, merasakan tangan kakaknya yang menggengam jemari kirinya, meremasnya seakan memberikan kekuatan. Dengan senyum, dia beringsut, lalu menghapus airmata yang menggenang di pipi kakaknya. ‘’Jangan menangis, Kak. Daun di pepohonan itu masih sangat banyak...’’

Kakaknya pun kian terisak.

Hari-hari berlalu, dan daun-daun berjatuhan satu demi satu. Daun yang awalnya banyak, mulai berkurang, menipis, dan kian habis. Lalu, tinggal satu lembar lagi...

Anak gadis yang sakit itu terus mengawasinya, berpikir bahwa pada hari daun terakhir ini jatuh, penyakit yang ia derita itu akan mengakhiri hidupnya. Ia telah siap. Ia merasa telah cukup waktu. Ia pun mengira sang kakak mulai menerima, dan tak lagi menangis dengan keras.

 

Musim gugur telah berlalu dan berganti jadi musim dingin. Lalu tahun telah berlalu dan satu-satunya daun itu belum juga gugur.

Gadis yang sedang menunggu ajal itu tetap hidup senang dengan kakak perempuannya. Menghabiskan waktu sepenuhnya untuk bersama. Saling menguatkan. Tapi, dia merasa daun yang tak mau gugur itu, menjadi harapan baginya.

Hari demi hari, kesehatannya mulai pulih lagi, sampai akhirnya ia benar-benar dinyatakan sembuh.

Hal pertama yang dia lakukan adalah pergi melihat keajaiban daun yang tidak jatuh kendati musim berganti beberapa kali. Gadis yang beberapa tahun sakit dan menurut dokter tidak ada harapan untuk hidup itu,  ternganga. Di dahan yang menjuntai itu, dia temukan selembar daun yang pasti tak akan gugur, daun plastik yang diikatkan kakaknya di ujung ranting.

Di belakangnya, dia lihat kakaknya tersenyum memandangnya, dengan pipi yang dibasahi airmata.

Sahabat Kuasakata, harapan adalah nyawa cadangan. Jangan pernah sia-siakan, jangan pernah lelah untuk mencipta dan menumbuhkannya. Dalam sepotong benih terkecil harapan pun, akan bertumbuh pohon besar keajaiban. Pasti.


 


tags: #surat #kata baik #surat cinta #cinta #kisah

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI