Yang Terbaring | DDHK Photo

Yang Terbaring | DDHK Photo

Ponsel untuk Obat Ibumu

Kita Mampu. Tapi lebih suka jika dibantu.

Sabtu, 07 Agustus 2021 | 08:42 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

RENDY, seorang mahasiswa, panik. Di depan apotik, dia mengamatik foto resep di layar ponselnya. Ibunya sakit, dan dia tak punya uang yang cukup untuk menebus obat. Tapi, kemudian dia ingat Dimas, temannya yang baik hati, dan segera menelponnya. 

"Ibuku sakit dan aku tidak punya yang untuk membeli obatnya. Bisa bantu aku?’’

BERITA TERKAIT:
Ria Ricis Murka Baca Surat Mantan Kekasih Suami
Surat Menteri Nadiem untuk Pak Guru Sukardi
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis

"Oke, hubungi aku sejam lagi ya,’’ kata Dimas tanpa berpikir lama.

Satu jam kemudian, ia menghubungi ponsel Dimas, tetapi  nadanya tidak aktif. Ia tunggu beberapa saat, lalu ia mencoba menghubunginya lagi. Tetap tidak aktif. Ia coba lagi, tetap tak terhubung. Ia menunggu. Barangkali baterainya habis. Barangkali tengah di blankspot. Barangkali… Semua prasangka baik dia pikirkan. Karena inilah harapan dia untuk mendapatkan obat bagi ibunya. Tapi, setelah mencoba lagi, dan lagi, dan tetap tak bisa terhubung, nada tak aktif, dia menyerah. Dia merasa Dimas telah menghindar, sengaja mematikan ponsel. Dia kecewa. Jika tak mau membantu, mengapa tadi memberi harapan?  Begitu sesalan di dalam batinnya.

Ia lalu mencoba menghubungi teman-temannya yang lain. Tetapi tidak satu pun yang dapat membantunya. ‘’Tidak punya uang’’, dan ‘’Lagi ada kebutuhan yang mendesak’’, itulah yang dia dapatkan sebagai jawaban. Beberapa malah merekomendasikan agar dia menghubungi Dimas, temannya yang tadi menjanjikan untuk mengontaknya sejam kemudian. Dia hanya terdiam.

Melihat lagi resep di layar ponselnya, dadanya terasa sesak. Andai dia punya uang, tentu tak harus dia mengiba meminta tolong seperti ini. Dia merasa Dimas dan teman lainnya telah mengecewakannya. Dia akhirnya tahu, dia sebenarnya sendirian, apalagi ketika dalam kesusahan. ‘’Sulit memang memiliki teman di masa sulit,’’ simpulnya.

 

Dengan langkah berat dan semua kecewa, dia starter motor, kembali ke rumah. Tanpa obat. Dia sudah susun beberapa kata, untuk meminta maaf pada ibunya.

Tapi, sampai di rumah, dia temukan ibunya yang tertidur pulas. Wajahnya tenang, tak lagi mengernyit kesakitan seperti sebelumnya. Sekantong plastik transparan berisi obat-obatan tergeletak di atas meja kecil, di samping kanan tempat tidur ibunya. 

‘’Dari siapa obat-obatan ini? Siapa yang beli?’’ tanyanya pada Sinta, adiknya.

‘’Tadi Kak Dimas datang. Ia minta resep, katanya udah izin Kak Rendy. Lalu dia pergi dan balik lagi, bawa obat-obatan ini,’’ terang Sinta. ‘’Baru aja Kak Dimas pamit pulang. Kakak kelamaan dia tunggu.’’

Rendy kaget. Dimas? Dengan dada sesak dan airmata yang tiba-tiba tumpah, dia berlari, memancal motornya, mencari Dimas. Dan, di ujung halte bus, dia lihat tubuh ceking itu, yang tersenyum ketika melihat dia menghampiri.

‘’Aku menelponmu, berkali-kali. Tapi tidak aktif. Aku cemas. Kukira kamu bohong mau bantu belikan obat,’’ kata Rendy.

Dimas tertawa, ‘’Maaf ya? Setelah tadi kamu menelpon itu, aku langsung pergi ke toko ponsel, dan kujual. Kalau tidak, bagaimana bisa aku membelikan obat untuk ibumu.’’

Rendy terdiam. Airmatanya tiba-tiba memancar. Dia peluk Dimas, sekencang-kencangnya. ‘’Maaf.. Maaf…’’ bisiknya terbata-bata.


tags: #surat #kata baik #cerita #kisah #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI