Ibu dan cucu | fimelfoto

Ibu dan cucu | fimelfoto

Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

Ibumu adalah surgamu.

Jumat, 27 Agustus 2021 | 07:02 WIB - Kisah
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

DULU, ada satu kabilah Arab yang tinggal di padang pasir secara nomaden, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya guna menggembalakan hewan peliharaannya. Lokasi yang dituju adalah yang banyak rerumputan dan air. Jika persediaan rerumputan dan air di tempat itu semakin berkurang, mereka segera meninggalkannya dan mencari lokasi yang lain.

Di antara kabilah Arab nomaden ini terdapat seorang lelaki yang ibunya sudah lanjut usia dan tinggal sendirian. Karena faktor usia itulah sang ibu sering kehilangan daya ingat. Sang ibu sering mengoceh, menyebut-nyebut anaknya, saking khawatir anaknya itu akan meninggalkannya. Perilaku sang ibu ini membuat anaknya itu merasa kesal dan menurut pikirannya yang picik, ketergantungan dan ocehan ibunya itu akan menurunkan derajat dirinya di mata anggota kabilahnya. 

‘’Ibu membuatku kehilangan kewibawaan. Mereka pasti menertawakanku, seorang lelaki yang masih sangat tergantung pada kerentaan seorang ibu,’’ demikianlah dia merasa.

BERITA TERKAIT:
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir
Kisah Diablo Prado, Lelaki yang Ingin Menjadi Iblis
Ponsel untuk Obat Ibumu
Bohong Cinta untuk Pernikahan
Surat Penyesalan Crisda Rodriguez: Di Dunia Ini Tak Ada yang Abadi
Surat Mark Zuckerberg: Kata Orang, Istriku Tidak Cantik. Dan Mereka Salah.

Pada suatu hari, kabilah Arab ini hendak berpindah untuk mencari lokasi yang banyak rumput dan kandungan airnya. Lelaki itu berkata kepada istrinya, “Jika kita pergi besok, tinggalkan ibuku di tempatnya. Jangan lupa, tinggalkan sedikit bekal dan air sampai nanti ada orang yang menemukannya dan menyelamatkannya. Atau, jika tak ada yang menemukannya, setidaknya dia akan punya makanan dan air sebelum mati,’’ katanya dingin.

“Jangan khawatir, aku akan laksanakan semua perintahmu, Sayangku,” sahut istrinya, takzim.

Kabilah Arab nomaden itu pun berangkat, termasuk lelaki itu dan istrinya, sementara sang ibu ditinggalkan seperti yang diperintahkan. Namun, si istri yang patuh ini melakukan sesuatu yang berbeda dari yang diperintahkan suaminya. Bersama bekal dan air yang dia letakkan di samping mertuanya, dia juga letakkan anak lelaki satu-satunya ke pelukan mertua. ‘’Aku titip sebentar ya, Bu...’’ pesannya sambil tersenyum, yang diikuti anggukan sang ibu. 

Anak lelaki itu adalah buah hati suaminya. Berusia tiga tahun, sedang lucu-lucunya, dan menjadi penghiburan di saat-saat sulit. Tiap jeda perjalanan, si suami akan selalu memeluk buah hatinya, menimang dan bercerita dengan riang, dan mendongengkan masa depan. Si suami selalu mengaku lelah dan capeknya hilang setelah memeluk dan menimang si buah hati.

Rombongan Arab nomaden itu terus berjalan. Karena mereka berangkat sebelum matahari terbit, maka pada tengah hari mereka beristirahat, memberi kesempatan kepada hewan ternak yang mereka bawa untuk minum dan mencari rerumputan. Perjalanan yang akan ditempuh masih panjang. Setiap keluarga duduk berkumpul bersama anggota keluarganya dan hewan peliharaannya, termasuk lelaki itu. Seperti biasa, pada saat-saat santai seperti itu ia meminta istrinya untuk membawakan anaknya.

 

“Anak itu aku tinggalkan bersama neneknya, ibumu. Toh kita tidak begitu menginginkannya,” kata sang istri, santai.

“Apaaaaa..!?” lelaki itu berteriak, kaget.

“Anak itu saya tinggalkan, itu adalah keputusan yang bijak. Untuk apa kita memelihara dan merawatnya. Toh nanti ketika dia dewasa dan memiliki kabilah sendiri, dia akan meninggalkan kita di padang pasir, sendiri dan terlunta, sebagaimana yang kamu lakukan pada ibumu,’’ jelas istrinya santai.

Mendengar ucapan istrinya itu, sang suami serasa disambar petir di siang hari. Tak sepatah kata pun ia ucapkan. Ia sadar bahwa dirinya salah. Istrinya itu telah memberinya pelajaran bagaimana seharusnya seorang anak berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia pun langsung naik kuda dan memacunya menuju tempat di mana ibu dan anaknya ditinggal. Ia pacu kudanya dengan kecepatan maksimal sebelum ibu dan anaknya dimangsa binatang buas. Sepanjang jalan, dia ingat semua hal baik yang dilakukan ibunya. Tanpa sadar, airmatanya meleleh, meski langsung kering dibuyarkan angin.

Ia cemas. Dia tahu kebiasaan binatang buas di gurun. Jika semua anggota kabilah Arab nomaden itu bepergian jauh dari rumah dan mereka meninggalkan sisa-sisa makanan dan bangkai ternak, binatang buas itu akan segera datang. Dia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika…. Dia memacu kuda lebih kencang lagi.

Begitu sampai di lokasi, lelaki itu melihat ibunya tengah memeluk cucunya, sementara gerombolan serigala mengepung mereka, siap-siap  menerkam. Sang ibu melempari srigala dengan batu sambil berkata, “Husy.… husy.... ayo menjauh, pergi, jangan ganggu. Ini cucuku, kesayangan anak lelakiku. Aku akan menjaganya selama aku hidup. Pergi… Hussh… Hussh...”

Lelaki itu langsung mengeluarkan senapannya. Ia melepaskan tembakan beberapa kali. Beberapa ekor serigala tumbang dan mati seketika sementara yang lainnya lari tunggang langgang.

Lelaki itu turun dari kudanya, berhambur kepada ibunya dan langsung menciumi kepala ibunya dan memeluknya bersama anaknya. Keduanya ia naikkan ke atas kuda dan langsung melesat menuju rombongan kabilahnya. Sepanjang jalan ia menangis, menyesali perbuatannya terhadap ibunya. Setelah mendapat pelajaran berharga seperti itu, lelaki itu menjadi anak yang paling berbakti kepada ibunya. Setiap kali kabilahnya bepergian untuk mencari tempat baru, ia tunggangkan ibunya di atas unta yang ia kawal di atas kuda persis di belakangnya. Ia pun semakin menyayangi istrinya yang telah memberinya pelajaran yang tidak akan terlupakan.
 


tags: #kisah #narasi #kata baik #surat

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI