Karna di Simpang Jalan

Oleh Sridewanto Pinuji*

''Aku percaya Yudhistira akan menjadi seorang raja yang baik.''

Sabtu, 16 April 2022 | 22:38 WIB - Kisah
Penulis: - . Editor: -

Perang Bharatayuda hampir dimulai. Ini juga menjadi awal kebimbangan bagi Karna.

Saat itu, Krishna datang ke Astina sebagai utusan terakhir Pandawa untuk kembali merundingkan jalan damai. Sebab, perang antara wangsa Bharata yang masih bersaudara itu sesungguhnya tak perlu terjadi. Perang bisa dan mungkin batal berlangsung andaikan Kurawa bersedia mengembalikan kekuasaan atas Astina kepada Pandawa, penguasa yang lebih berhak.

BERITA TERKAIT:
Air Mata yang Menunda Surga
Ketika Kita Memilih Kasih Sayang daripada Kekayaan
Karna di Simpang Jalan
Belajar dari Perseteruan Suami Istri dan Kebaikan Ibu Mertua
Kisah Ibu yang Ditinggalkan di Padang Pasir

Namun, upaya Krishna tak membuahkan hasil.

Prabu Duryudana, Sang Raja Astina tetap keras kepala. Dia mengatakan, Pandawa hanya akan menerima tahta Astina ketika mereka mampu memenggal kepala dan membelah dada Duryudana.

Krishna pun kemudian pulang dengan tangan hampa. Namun, dalam perjalanan dia teringat pada Karna yang membuat ulah di pertemuan antara Krishna dengan Kurawa tadi.

Di pertemuan tersebut, Karna memanas-manasi Duryudana agar tetap melanjutkan perang dan tidak menyerahkan kekuasaan Astina kepada para Pandawa. Ulah Karna tersebut membuat murka Resi Bhisma, sesepuh Astina, kakek para Pandawa dan Kurawa. Bhisma memandang Karna tak tahu adat, karena putra sais kereta itu berani memperkeruh suasana.

Karena tak ingin berseteru dengan sesepuh Astina, Karna pun meninggalkan ruang pertemuan lebih dahulu.

Tak lama kemudian, Krishna yang gagal dalam tugasnya sebagai utusan mengikuti kepergian Karna. Ketika dia melihat berkelebatnya kereta Karna, maka Krishna pun memerintahkan kusir keretanya untuk mengejar. Setelah berhasil mengejar, selanjutnya kedua ksatria itu pun terlibat dalam pembicaraan mendalam.

Krishna ingin menyadarkan Karna tentang jati dirinya. Sebaliknya, Karna ingin menjelaskan alasan di balik berbagai tindakannya.

“Karna, kenapa engkau memanas-manasi hati Duryudana agar terus berperang?” tanya Krishna.

“Sesungguhnya aku memiliki alasanku sendiri, Krishna,” Karna pun menjawab dengan lugas.

“Tahukah kamu, bahwa sesungguhnya kamu adalah kakak dari para Pandawa? Kamu adalah putra pertama dari Ibu Kunti.” Krishna membuka sebuah rahasia tentang jati diri Karna.

“Aku sudah tahu tentang hal itu, Krishna, ayahku Batara Surya sudah membuka rahasia itu padaku.” Rupanya rahasia tersebut bukan lagi menjadi misteri bagi Karna.

“Lantas, kenapa engkau tetap menghendaki terjadinya perang?” kembali Krishna bertanya.

Sebelum Karna sempat menjawab, Krishna kembali melanjutkan. “Aku pun membawa pesan dari Yudhistira untukmu. Dia memintamu agar berpihak pada Pandawa, karena kamu adalah kakak mereka. Kamu adalah anak pertama, karenanya berhak pula atas tahta Astina.”

Sejenak Karna terkesima, tetapi kemudian dia tertawa kecut.

“Dunia pasti akan menertawakan aku seandainya bersedia menerima tawaran itu, Krishna.” Karna mengawali penjelasannya.

“Aku yang telah dibuang oleh Ibu Kunti dan dibesarkan oleh Adirata seorang kusir kereta telah diangkat derajatnya oleh Duryudana. Kini, ketika Duryudana membutuhkan bantuanku, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan diri dari kewajibanku untuk membalas budi.” Karna pun menjelaskan alasannya.

“Namun, tidak tahukah kamu, Karna, bahwa dia yang kamu bela itu adalah biang angkara murka?” Krishna masih mencoba mempertanyakan keputusan Karna.

“Tentu saja aku mengetahui itu semua, Krishna,” Karna menjawab singkat.

Keduanya pun terdiam agak lama. Krishna masih mencoba memahami alasan Karna yang baru saja disampaikan. Sementara Karna, tampaknya masih ingin memberikan penjelasan lanjutan. Kemudian, Krishna teringat pada ulah Karna baru saja yang membuat murka Bhisma.

 

“Kenapa tadi engkau memanas-manasi Duryudana hingga menimbulkan kemarahan Kakek Bhisma?” tanya Krishna mengulang pertanyaan yang sebenarnya sudah diajukan sebelumnya.

“Memang aku seharusnya tidak melakukan hal itu, Krishna. Namun, sekali lagi aku katakan bahwa aku memiliki alasanku sendiri atas perbuatanku tersebut.” Karna kembali mengulang pernyataan dia sebelumnya.

“Aku ingin membalas budi kebaikan yang telah kuterima berlipat ganda dari Duryudana. Dia yang telah mengangkat derajatku hingga aku memiliki pangkat dan kedudukan seperti ini. Kini tiba saatnya aku melaksanakan darma-ku sebagai seorang ksatria, yaitu membalas budi.

Selain itu, aku juga memiliki dendam kepada seorang ibu yang telah tega membuang anak bayinya di Sungai Yamuna.” Kini Karna menengadah, di matanya tampak menggenang air mata yang siap tertumpah.

Krishna pun menunduk, seperti kehabisan kata-kata. Namun, kembali dia bertanya kepada Karna.

“Karna, jika engkau bersikeras berada di pihak Kurawa dan menghadapi saudaramu seibu, bukankah itu tidak sesuai dengan darma seorang ksatria?

Kurawa dikenal sebagai orang-orang yang keji, culas, mengagungkan kedudukan, kekuatan, dan kekuasaan. Ketika engkau bersama dan membela mereka, bukankah itu artinya engkau pun turut pula melakukan kejahatan, kekejian, dan keculasan itu?”

“Nah, justru karena itulah, Krishna, maka aku membuat ulah di pertemuan tadi. Aku sengaja membuat panas hati Duryudana dan saudara-saudaranya agar segera melanjutkan perang Bharatayuda.”

Mendengar jawaban Karna tersebut, mau tidak mau Krishna pun terheran-heran dan tak habis pikir.

“Kenapa kamu ingin perang segera terjadi? Bukankah setiap perang akan menimbulkan korban jiwa dan harta yang tak sedikit jumlahnya? Bukankah akibat dari setiap perang selalu dirasakan oleh mereka yang tidak berdaya? Itukah darma ksatria yang kamu unggul-unggulkan tadi, Karna?” Akhirnya, Krishna seperti kehilangan kesabaran. Rangkaian pertanyaannya tercurah seperti hujan anak panah kepada Karna.

“Aku tidak menampik, bahwa perang akan selalu meminta korban, Karna. Namun, bukankah korban selalu diperlukan untuk mencapai suatu cita-cita? Bukankah ada ujaran jer basuki mawa beya, selalu ada harga untuk sebuah kemuliaan?”

“Ah, begitu rupanya. Namun, aku ingatkan sekali lagi, ketika kamu berdiri di pihak Kurawa, maka kamu telah mendukung kejahatan dan angkara murka. Kamu tak lagi memihak pada kebenaran, seperti yang seharusnya dilakukan oleh seorang ksatria, Karna.” Kembali Krishna menegaskan pendapatnya.

Kini agak lama Karna terdiam. Dia seperti mencari kata-kata untuk menjawab pertanyaan Krishna.

“Belum lagi mengingat akan kesaktianmu. Jika kamu bersikeras berada di pihak Kurawa, maka itu akan menyulitkan Pandawa untuk mengalahkan Kurawa. Itu akan membuat perang menjadi semakin panjang yang artinya korban pun akan semakin banyak.” Krishna seakan-akan tak kehabisan kata untuk menyadarkan Karna.

Namun, tak lama kemudian Karna pun menengadahkan mukanya. Kini tampak matanya bersinar-sinar. Dia seperti telah menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan Krishna.

“Ketahuilah Krishna, aku tak dapat menyangkal semua yang kau katakan itu. Namun, aku percaya kalau saudara-saudaraku para Pandawa akan mampu mengalahkanku dan keluar sebagai pemenang dalam perang Bharatayuda nanti.

Aku pun melihat bahwa hanya peranglah jalan satu-satunya jalan untuk menghentikan kejahatan dan angkara murka yang dilakukan oleh Kurawa.

Karena itu, maka aku pun mengipasi bara amarah di dada Duryudana agar dia terus berperang. Satu-satunya tujuanku adalah untuk mempercepat perang, agar mereka, para Kurawa itu segera enyah dari muka bumi ini.

Aku percaya, ketika kelak Pandawa memenangkan perang Bharatayuda, maka Yudhistira akan menjadi seorang raja yang baik. Aku percaya dia akan mampu membawa kesejahteraan, kemakmuran, dan keadilan bagi Astinapura yang selama ini telah dicekam oleh berbagai kejahatan Duryudana.”

Kini Krishna yang terdiam….

Dia mencoba meresapi setiap jawaban yang terucap dari mulut Karna. Tak lama, dia pun menatap Karna dengan penuh kasih sayang dan mulutnya tersenyum lembut.

Penulis adalah blogger di pinuji


tags: #kata baik #tito karnavian #kisah #narasi #narasi akhir zaman

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI