Sungai Aare membawa Jiwa Sederhana itu Kembali ke Pencipta-Nya 

Tapi Eril memilih bersikap sederhana dan biasa saja.

Kamis, 09 Juni 2022 | 10:34 WIB - Surat
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Wis

SEJAK dinyatakan hilang-selain Najwa Shihab-saya juga termasuk dalam jutaan orang yang menanti-nanti kabar Eril. Setiap pagi mengetik nama Ridwan Kamil dan Eril di mesin pencari. Nyesek. Saya nangis mbrambang, seolah-olah di sebelah saya seseorang sedang mengiris bawang. Tapi harus saya tahan-tahan. Malu karena di tempat kerja ada orang selain saya. 

It's so much painful and so difficult to bear it. Belum lagi gempuran postingan sosial media dipenuhi ungkapan Ridwan Kamil pada Sungai Aare yang membawa Eril. Juga tulisan istrinya, Atalia Praratya. Rasa-rasanya sesuatu sedang menggedor-gedor di dada ketika membacanya. 

BERITA TERKAIT:
Ridwan Kamil Ceritakan Momen Paling Berat Saat Mengetahui Kabar Eril Hilang
Tangis Atalia Praratya Pecah saat Ceritakan Momen Ketika Nama Eril Dihapus dari Kartu Keluarga
Atalia Praratya Ceritakan Sikap Eril di Saat-saat Terakhir: Pengen Nyenengin Semuanya
Ini yang Dilakukan Ridwan Kamil saat Teringat Mendiang Eril
Berangkat ke Tanah Suci, Ridwan Kamil: Sekalian Saya Berhaji Atas Nama Eril 

Saya lalu menemukan sebuah cuitan panjang seseorang bernama Septiandi. Akun Twitter @septiannrs98 itu memberikan kesaksian sosok utuh EmmEril Kahn Mumtadz. 

Dalam cuitan panjang yang ia unggah 31 Mei 2022 itu, dirinya menceritakan kesederhanaan sosok Eril

Delapan tahun lalu, ia dan Eril sama-sama kelas X SMA. Suatu hari Eril meminjam sepatunya untuk acara kaderisasi sepulang sekolah. Jadilah mereka bertukar sepatu. Sepatu Eril dibawa Septian, Sepatu Septian dibawa Eril.

Septian tidak mungkin menunggu karena acara kaderisasi berlangsung lama. Ia pun memutuskan pulang. Malamnya Eril menghubunginya meminta segera kembali bertukar sepatu. Padahal Septian ini merespon besok-besok saja. Pertimbangannya jarak tempat tinggal mereka sampai 35 kilometer. 

Tapi Eril keukeuh. Akhirnya mereka janjian bertemu di tengah saja. Mereka lalu bertemu dan Eril seperti yang sudah diduga Septian, tampak lelah karena seharian sibuk dengan aktifitas organisasi masih ngotot minta bertukar sepatu dan semua itu dilakukan Eril dengan ngonthel sepeda. 

Septian si penulis twit ini mengungkap sudah biasa melihat Eril, si anak pak walikota dengan sepedanya. Di dunia yang serba butuh pengakuan ini, anak walikota punya laku sederhana, bersikap biasa.

"... Menunggu saya bersama sepedanya yang khas. Saya tau dia sudah lelah berkegiatan seharian penuh ditambah lagi dengan kejadian ini. Alasannya ternyata sepatu yang ia tukar dengan saya juga bukan sepenuhnya milik Eril. Mungkin milik saudaranya yang ia pinjam....." begitu tulisnya. 

 

What? Ngonthel sepeda? Iya, Anda tidak sedang salah baca.

Padahal dia bisa kok memanfaatkan privilege sebagai anak walikota Bandung saat itu. Tapi Eril memilih bersikap sederhana dan biasa saja. 

Ah.. tidak perlu berlebihan, banyak kok anak sekolahan pakai sepeda. Tidak perlu di-glorifikasi.

Tapi ini Eril, anak walikota. Sederhana itu bukan berarti berangkat sekolah jalan kaki puluhan kilo tanpa uang saku. Bukan. Sederhana adalah merasa seperlunya meski sebenarnya bisa saja memperoleh lebih. 

Eril bisa saja minta tolong ajudan ambilkan sepatu di rumah atau minta tolong antar mengembalikan sepatu dengan mobil dinas bapaknya. 

Terimakasih Eril, kepergianmu meskipun menyesakkan, namun memberi pelajaran bagi banyak orang termasuk saya. 

Saya tidak mengenalmu tapi saya yakin kamu orang baik. 

Di Sungai Aare yang bening, jernih serta keindahan alam sekitarnya ragamu menghilang dan belum ditemukan, mungkin cara pulang ini telah digariskan Sang Pencipta untukmu. Dan kami yakin, meskipun belum sempurna engkau telah pulang menuju keabadian yang banyak kita dambakan. Surga untukmu, Ril, damailah....kami menyertaimu dalam doa.


Alfatihah..


tags: #eril #emmeril kahn mumtadz #ridwan kamil # atalia praratya #sungai aare

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI