Legenda Makam Mbah Samud di Pemakaman Bergota Semarang, Wali yang Semasa Hidup Menyaru sebagai Gelandangan dan Kuli Panggul di Pasar Bulu 

Mbah Samud bernadzar jika seseorang sampai mengenali jatidirinya maka ia akan meninggal dunia saat itu juga. 

Senin, 04 Desember 2023 | 11:35 WIB - Kisah
Penulis: - . Editor: Hani

Pemakaman Bergota di Kota Semarang merupakan area pemakaman umum untuk warga. Luasan area pemakaman yang berada di Kelurahan Randusari, Kecamatan Semarang Selatan ini mencapai 30 hektare. 

Tidak banyak yang tahu bahwa terdapat makam seorang wali di pemakaman umum Bergota. Namun bagi masyarakat sekitar Bergota sendiri, kisah seorang wali ini menjadi sebuah legenda yang diceritakan turun temurun. 

BERITA TERKAIT:
Legenda Makam Mbah Samud di Pemakaman Bergota Semarang, Wali yang Semasa Hidup Menyaru sebagai Gelandangan dan Kuli Panggul di Pasar Bulu 

Kisah ini mengenai Mbah Samud, seorang pria tua yang tampak luarnya hanya seorang gelandangan namun ternyata adalah seorang wali.  

Wahyudi (42), sekretaris RW 04 Kelurahan Randusari mengatakan bahwa kisah Mbah Samud sangat melegenda di telinga warga asli Kampung Bergota. Yakni, adanya makam Kyai Samud, atau sering disebut Mbah Samud oleh warga sekitar. 

“ya bener ada makam kyai disana, dulu tu ceritanya ada orang kayak gelandangan terus meninggal di Bergota sini, tapi ada yang bilang kalo orang itu ulama, wali” ucap Wahyudi.

Semasa hidup lelaki tua itu tampak seperti gelandangan. Ia hidup di jalan dan pasar. 

Namun, konon cerita gelandangan tersebut adalah seorang ulama dari Kaliwungu. Tugasnya adalah bertugas menjaga daerah Kendal sampai Semarang.

Dalam lakunya menjadi gelandangan, Mbah Samud bernadzar jika seseorang sampai mengenali jatidirinya maka ia akan meninggal dunia saat itu juga. 

 

Dan benar saja, saat ia sedang berada di daerah Bergota Semarang, seseorang mengenalinya. 

Karena nazarnya itu, akhirnya ia pun meninggal dan dimakamkan di komplek Kuburan Miskin makam Bergota. Komplek ini menjadi pemakaman bagi orang-orang yang tak diketahui identitasnya. 

Warga pun tak tahu bahwa si gelandangan tua itu adalah seorang wali. Namun seiring waktu warga kemudian tahu dan memberikan identitas sebagai penanda di makamnya. 

Latiman (64), warga RT 3 RW 4 Kelurahan Randusari mengaku pernah berinteraksi dengan Mbah Samud selama menyaru sebagai gelandangan. 

"Mbah Samud hidupnya jadi kuli panggul di Pasar Bulu terus Karang Ayu. Saya sempat berjumpa," ungkapnya. 

Masa-masa itu sekitar dekade '80-'90an. Bisa dibilang Mbah Samud pun memiliki keistimewaan atau karomah. 

"Kalau dapat uang dari nguli, atau uang dapat sedekah dari orang-orang, terus dibelikan untuk kebutuhannya, itu warung jadi tempat belinya jadi laris. Pedagangnya jadi kaya," pungkasnya.  


*Ditulis wartawan magang Ika Melinda Ningtyas


 

***

tags: #mbah samud #semarang #kiai #pasar karangayu #makam

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI