Taklukkan Belanda hanya dengan Pasukan Kecil, Ini Taktik Raden Mas Said dalam Berperang 

Strategi yang ia lakukan saat menghadapi Belanda yaitu bergerak dengan pasukan kecil, tetapi memiliki daya juang kuat dan bergerak cepat. 

Rabu, 10 Juli 2024 | 14:47 WIB - Kisah
Penulis: - . Editor: Hani

Selama 16 tahun berjuang mengusir VOC dari tanah Jawa. Pangeran Sambernyawa atau dikenal dengan nama Raden Mas Said memiliki strategi yang membuat Belanda kesulitan dalam mengahadapinya. 

Strategi yang ia lakukan saat menghadapi Belanda yaitu bergerak dengan pasukan kecil, tetapi memiliki daya juang kuat dan bergerak cepat. 

BERITA TERKAIT:
Taklukkan Belanda hanya dengan Pasukan Kecil, Ini Taktik Raden Mas Said dalam Berperang 
Raden Mas Said dari Solo, Pembebas Cengkraman VOC 
Dulunya Berawal dari Pemerintah Desa Kecil, Berikut Profil Kabupaten Karanganyar

Selain itu, pasukan ini sangat menguasai medan pertempuran, sehingga membuat Belanda (VOC) kewalahan, sehingga banyak yang gugur. Taktik yang digunakan adalah : Mundur; menyerang dari kiri dan kanan, depan dan belakang musuh. 

Taktik berputar-putar inilah yang membuat musuh kewalahan karena diserang dari segala arah. Ada beberapa strategi yang dilakukan oleh Raden MasSaid antara lain “wewelutan” (licin seperti welut = belut), “dedemitan”(demit = Syetan); dan “jejemblungan” ((Jemblung = Gila).

Supaya pasukan yang disiapkannya kuat, Raden Mas Said memiliki motto 'tiji tibèh', yang merupakan kependekan dari mati siji, mati kabèh; mukti siji, mukti kabèh (gugur satu, gugur semua; sejahtera satu, sejahtera semua). Dengan motto ini, rasa kebersamaan pasukannya terjaga. 

Setiap anggota pasukan, mempunyai daya tempur yang sangat hebat, pantang menyerah dan pasti menimbulkan korban yang besar di pihak lawan. Seandainya terjebak, mereka harus bisa menghindar, bahkan menyamar sebagai teman dari lawan, sehingga acapkali musuh tertipu, ini memberi kesempatan Pasukan Raden Mas Said untuk menghancurkan lawannya.

 

Selama berjuang melawan Belanda (VOC), Raden Mas Said selalu didampingi oleh neneknya (Raden Ayu Sumanarsa), Isterinya ( Kanjeng Ratu Bandara Mas Ayu Kusuma Matahati), para selir (garwo ampil), putra-puteri beliau, serta para kerabat. 

Mereka (para putri) terlatih duduk di punggung kuda, melewati gunung-gunung serta hutan yang lebat, serta terbiasa makan hasil hutan yang dia dapatkan, sehingga pasukan Pangeran Sambernyawa tidak pernah kelaparan, meskipun tinggal berhari-hari di hutan. Satu-satunya pasukan perang yang memiliki pasukan perempuan hanya dimiliki oleh Pasukan Sambernyawa. 

Dalam bukunya De Jonge menceritakan bahwa prajurit Raden Mas Said tidak banyak jumlahnya, namun memiliki mental jujur dan setia. Raden Mas Said menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang pimpinan yang tidak mudah dihancurkan, karena ahli dalam taktik menghimpun dan menyesatkan lawan.

Ketika berperang, Raden Mas Said sengaja tidak menggunakan pasukan yang besar, karena memang tidak mampu menghimpun orang banyak. Namun meskipun kecil, daya tempurnya sangat tinggi. 

Pasukan benar-benar terlatih menggunakan senjata panjang, pendek, pistul,kelewang, tombak panjang maupun tombak pendek (talempak), panah dengan busur panjang dan pendek, mahir bertempur di atas kuda dan lain-lain. Semua senjata didapat dari rampasan musuh-musuhnya. khususnya dari pasukan Belanda (VOC). 

Demikian juga mesiu-nya. Pasukan Raden Mas Said juga dapat membuat peluru sendiri. Kenekatan Pangeran Sambernyowo dalam berjuang, cukup membuat kewalahan pasukan Belanda (VOC). Menurut Louw, Berulang kali pasukan Sambernyowo berhasil dipukul mundur dan dicerai-beraikan, berulangkali pula kembali bangkit dan lebih kuat. Hal ini disebabkan rakyat sangat mendukung perjuangannya, sehingga seperti kata pepatah, patah tumbuh hilang berganti.

*Ditulis oleh wartawan magang Rahardian Haikal Rakhman

***

tags: #raden mas said #voc #belanda

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI