brain | gettyimages

brain | gettyimages

Mentalitas Tidak Menghargai Mutu (1)

Oleh Nur Hidayat Sardini*

Kebanyakan dari kita merasa telah cukup jika telah mengerjakan suatu pekerjaan sesuai garis kewajiban.

Minggu, 03 Mei 2020 | 08:27 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: -

KEBIASAAN MEMBACA buku, mesti terus dipupuk. Tidak terkecuali di musim pandemi Covid-19 ini, ada kesempatan untuk lebih banyak membaca buku. Tadi siang, sembari membersihkan rak buku lama, menemukan buku Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (Gramedia, 1990) karya Prof. Koentjoroningrat, maestro antropolog yang pernah kita punya.

Aku ingin mereaktualisasi pemikiran Prof Koen, begitu beliau sering disapa, mengenai 5 (lima) butir mentalitas positif yang menunjang pembangunan, dan mentalitas yang sebaliknya. Tapi, kali ini, ingin meninjau dari yang sebaliknya tersebut, dengan harapan bahwa mendorong refleksi kita sebagai bangsa, terutama di saat menghadapi pandemi sekarang ini.

Pokok pertama pemikiran Prof Koen tentang mentalitas manusia Indonesia, yang meremehkan mutu. Dalam pandangannya, kebutuhan akan kualitas dari hasil karya kita, dan rasa peka kita terhadap mutu, sudah hampir hilang. Ini akibat otomatis, kata Prof Koen, dari kemiskinan menghebat yang melanda bangsa kita. Demikian kita sampai tak sempat memikirkan mengenai mutu dari pekerjaan yang dihasilkan.

Secara subjektif, dalam hemat penulis, kita cenderung telah merasa cukup ketika mengerjakan suatu pekerjaan, sedangkan apakah hasil pekerjaan tersebut berkualitas atau sebaliknya, tidak sempat kita pertimbangkan. Dalam bahasa lain, kebanyakan dari kita merasa telah cukup jika telah mengerjakan suatu pekerjaan sesuai garis kewajiban. Tidak atau jarang kita memerhatikan kualitas produk dari pekerjaan yang kita hasilkan sedemikian rupa, sehingga memberi penguatan atas kemajuan dan mengapresiasi kerja-kerja sesama anak bangsa.

Menderasnya barang-barang impor, pertanda bahwa kita belum bisa mandiri sebagai bangsa. Dalam beberapa komoditas, harus diakui bahwa kita bahkan jadi pengimpor paling sahih, sedangkan potensi kita yang berserak, justru dan akhirnya tidak memberi nilai tambah. Coba perhatikan jalanan kita tiap saat, adalah produk-produk impor dari Jepang dan belakangan dari Cina yang lebih menggurita.

Di bagian lain, kerja-kerja jajaran birokrasi belum tampak menggeser arus pemikiran yang kuat, yang dengannya kita layak disebut sebagai bangsa mandiri, yang dulu oleh Bung Karno dinamakan Bangsa Berdikari. Slogan memang menderas, tapi faktanya hanyalah macan kertas. Jangankan dengan arus besar mengenai pergeseran dimaksud, hal yang remeh-temeh sekalipun, kita masih dirundung oleh kualitas kinerja. Dalam mengelola produk media sosial (social media), suatu instansi punya web dan sarana serta prasarana lengkap, namun yang lebih mutakhir jumlahnya lebih sedikit daripada yang mutakhir. Menurutku, ini adalah bentuk dari produk kerja hasil orientasi kerja yang hanya menggugurkan kewajiban—lazim di birokrasi kita.

 

Belakangan mengemuka gejala yang boleh dibilang memilukan. Dalam musim pandemi Covid-19, kerja keras para dokter dan tenaga medis lainnya, yang sebagian besar menyembuhkan para terpapar, namun puluhan dokter dan ratusan tenaga medis justru distigma sebagai agen penular penyakit. Jasa besar mereka tidak sebanding dengan perlakukan sebagian (entah sebagian besar atau sebagian kecil), sehingga diresistensi oleh kelompok-kelompok sosial. Di media massa dan beragama media sosial, mereka justru ditolak ke rumah atau ditolak di kos-kosan mereka. [Bersambung].

 

*Dr. Nur Hidayat Sardini, SSos, MSi, adalah dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Universitas Diponegoro. Pernah menjabat Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum, dan Anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu.

 

BERITA TERKAIT:
Dulu Cuma Rp 20.000, Berapa Bayaran Mbah Minto Sekarang
Arief Hidayat Tekankan Pentingnya Jaga Persatuan Negara
Hendi Tegaskan Segala Hal Terkait Pandemi Corona Masih Tersedia
Ini Cara Kerja Buzzer Politik hingga Nilai Satu Proyek Bisa Mencapai Rp. 3 Miliar
Strategi Berwirausaha Perlu Menyesuaikan Perkembangan Teknologi Informasi
Kenalan di Facebook, Bawa Kabur Motor Selama Enam Bulan
Mentalitas Tidak Menghargai Mutu (1)

 


tags: #media sosial #birokrasi #buku #mutu

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI