Efek Ganda Pemanfaatan Lahan Pekarangan dalam Era Pandemi Covid-19

*Dr. Lilis Siti Badriah, SE, MSi dan Dra. Dijan Rahajuni, MSi.

Bercocok tanam dapat menjadi sarana untuk kesehatan dimana secara tidak langsung kita dapat berjemur sambil menanam dan memelihara tanaman.

Jumat, 07 Agustus 2020 | 15:50 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Wis

Wabah virus Corona yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir ini telah menggoncang berbagai aspek kehidupan masyarakat di seluruh dunia. Terkait aspek kesehatan, penyebaran Covid-19 telah menciptakan krisis kesehatan dan sampai saat ini vaksin virus ini belum ditemukannya, serta terbatasnya alat dan tenaga medis.

Terkait aspek sosial, upaya mencegah penularan virus ini telah menyebabkan berhentinya aktitivitas ekonomi yang menyerap banyak tenaga kerja, termasuk sektor informal. Terkait aspek ekonomi, kinerja ekonomi mengalami penurunan, baik konsumsi, investasi, ekspor impor, dan pertumbuhan ekonomi.

Dampak yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19, bersifat berantai sehingga menjadi dampak yang sangat besar. Kebijakan memutus rantai penyebaran virus corona dengan tinggal di rumah (stay at home), belajar dari rumah, bekerja dari rumah (work from home) dan menghindari terjadinya kerumunan telah menyebabkan berbagai aktivitas di luar rumah menjadi berkurang secara signifikan. 

Kondisi tersebut memberi efek pada berbagai aktivitas ekonomi produktif. Banyak aktivitas produktif yang terhenti sehingga menyebabkan banyak orang kehilangan pekerjaan sebagai sumber penghasilan mereka.

Fakta terbaru menunjukkan bahwa pandemi Covid-19 menyebabkan pertumbuhan ekonomi menurun. Berdasarkan Berita Resmi Statistik (5 Agustus 2020), laju pertumbuhan PDB Triwulanan II-2019  (Y-on-Y) sebesar 5,05% menurun menjadi -5,32% pada Triwulan II-2020. 

Sebagian besar sektor ekonomi mengalami kontraksi, dengan kontraksi tertinggi ada pada sektor transportasi dan pergudangan mencapai -30,84%. Kondisi itu terjadi antara lain sebagai dampak dari penerapan kebijakan pencegahan penyebaran Covid-19 seperti WFH, larangan mudik lebaran, dan penurunan aktivitas kargo.

Adapun sektor ekonomi yang masih mengalami pertumbuhan positif antara lain sektor pertanian tumbuh 2,19%. Demikian juga jika dilihat dari pertumbuhan PDB menurut pengeluaran. Pada Triwulan II-2020 (Y-on-Y), seluruh sektor mengalami kontraksi. Kontraksi terbesar pada sektor impor dan ekspor masing-masing -16,96% dan -11,86%. Sedangkan sektor konsumsi rumah tangga terkontraksi 5,51%.

Pertumbuhan ekonomi yang menurun tersebut berdampak pada pemutusan hubungan kerja dan pengangguran yang meningkat, akibat selanjutnya jumlah masyarakat miskin juga meningkat. Penurunan pertumbuhan ekonomi tersebut diperkirakan dapat menyebabkan kemiskinan meningkat antara 1,89 juta–4,86 juta orang, dan potensi pengangguran meningkat dengan perkiraan antara 2,92 juta– 5,23 juta orang (Kementerian Keuangan RI, 2020).

Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang cepat dan tepat dalam rangka menjaga stabilitas berbagai aspek kehidupan masyarakat yang terdampak. Baik dalam bentuk bantuan langsung tunai maupun bantuan non tunai, menjaga kesehatan masyarakat agar mereka tetap produktif, menjaga stabilitas sisi permintaan melalui daya beli masyarakat sehingga mereka tetap dapat berkonsumsi dengan layak, dan menjaga stabilitas sisi penawaran dengan memberikan dukungan bagi investasi dan dunia usaha. Stabilitas sisi permintaan dan penawaran perlu dijaga karena keduanya akan bersifat saling mempengaruhi. 

Dalam rangka mendukung efektivitas berbagai kebijakan pemerintah tersebut, perlu disertai dengan pendekatan yang dapat memotivasi dan menanamkan pikiran positif masyarakat dalam menghadapi kondisi yang tidak menentu seperti ini. Sehingga diharapkan mereka dapat bertahan untuk meminimalisir dampak negatif yang mereka rasakan dari pandemi covid-19 ini. 

Pendekatan tersebut bertujuan untuk memotivasi dan memberikan penyadaran diri kepada masyarakat, agar selalu menjaga budaya hidup sehat dan khusus bagi penduduk usia produktif, termasuk kaum perempuan, untuk mampu memberdayakan dirinya secara mandiri. 

Hal ini menjadi penting, mengingat berdasarkan data BPS (2018) terdapat 10,3 juta rumah tangga (15,17%) dengan kepala rumah tangganya adalah perempuan, yang sebagian besar hidupnya dibawah garis kemiskinan dan berpendidikan rendah, 42,57% diantaranya tidak memiliki ijazah (Kompas, 3/8/2020). 

Angka tersebut dapat menjadi lebih besar lagi mengingat masih banyak terdapat perempuan sebagai kepala rumah tangga yang belum terdata sehingga mereka tidak mendapatkan haknya untuk menerima bantuan pemerintah. Dalam kondisi seperti ini, penting adanya upaya untuk mendorong masyarakat agar mampu memberdayakan diri sendiri sehingga tidak hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah dan tidak semakin terpuruk.

Pemberdayaan masyarakat, merupakan suatu proses dimana masyarakat yang miskin sumber daya didukung keberadaannya dan dibantu agar mampu meningkatkan keberdayaannya secara mandiri. Sehingga mereka mampu berpartisipasi dan mengoptimalkan akses sumber daya, hingga dapat meningkatkan kualitas hidupnya (Totok dan Poerwoko,  2013).

Dalam hal ini, partisipasi aktif masyarakat merupakan salah satu penentu efektivitas keberhasilan pencapaian tujuan pemberdayaan masyarakat. Jadi dengan kata lain, perlu upaya mendorong tanggung jawab dalam diri masyarakat agar dapat secara mandiri mengatasi dampak tidak menguntungkan akibat pandemic Covid-19 tersebut, yang belum kita tahu secara pasti sampai kapan akan berakhir. Upaya ini dapat dilakukan pemerintah, bekerja sama dengan perguruan tinggi, sektor swasta, dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat melalui proses pendampingan aktivitas pemberdayaan. 

Saat ini, pemerintah mulai mensosialisasikan kehidupan memasuki new normal life. Salah satu prosedur dalam new normal life adalah budaya hidup sehat, termasuk menyediakan makanan dan minuman yang sehat

Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh perempuan produktif, terutama dalam menghadapi new normal life adalah dengan memanfaatkan lahan pekarangan secara optimal. lahan pekarangan merupakan sebidang atau sepetak tanah yang berada di sekitar rumah baik terletak di depan, samping, bahkan belakang bangunan, tergantung seberapa luas sisa tanah yang tersisa setelah digunakan untuk bangunan utama. 

Pemanfaatan lahan pekarangan merupakan salah satu solusi terdekat bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan konsumsi pangan mereka. Dalam proses pemberdayaan ini, masyarakat perlu mendapat pendampingan untuk tujuan mengarahkan, membekali pengetahuan teoritis dan praktisnya. 

Banyak hal positif yang dapat diperoleh dari kegiatan pemanfaatan lahan pekarangan. Pertama, masyarakat secara mandiri dapat menyediakan kebutuhan pangan minimal yang dibutuhkan sehari-hari dengan hemat pengeluaran. 

Di lahan pekarangan yang terbatas dapat dilakukan pemeliharaan berbagai tanaman holtikurtura, baik berupa sayuran, bumbu-bumbu dapur, rempah, dan buah-buahan dengan menggunakan media yang relatif mudah dan murah, misalnya dengan polybag atau memanfaatkan limbah kantong-kantong plastik lainnya. Hasil ini akhirnya dapat juga mendukung ketahanan pangan keluarga dan menghemat pengeluaran. 

Kedua, bercocok tanam dapat menjadi sarana untuk kesehatan dimana secara tidak langsung kita dapat berjemur sambil menanam dan memelihara tanaman. Berjemur merupakan aktivitas yang dianjurkan oleh pemerintah untuk menjaga imunitas tubuh. Kegiatan seperti ini juga dapat menjadi sarana penyegaran fisik dan psikis dengan menghirup udara segar dan suasana terbuka di luar rumah.  

Ketiga, jika hasil tanaman berlebih, maka dapat berbagi dengan tetangga atau bahkan jika memungkinkan dapat dijual. Seperti diketahui bersama, saat ini kesadaran masyarakat untuk menjaga imunitas tubuh makin meningkat. Salah satu yang menjadi perhatian masyarakat untuk meningkatkan imunitas tubuh dengan cara mengkonsumsi tanaman herbal, seperti empon-empon dan rempah lainnya.

Hal ini menyebabkan harga jual dari tanaman herbal tersebut, seperti jahe, kunyit, temulawak, dan sebagainya menjadi lebih mahal. Jika hasil pemanfaatan pekarangan menghasilkan berlebih untuk memenuhi kebutuhan sendiri maka penjualan hasil tanaman seperti ini juga dapat menjadi salah satu sumber tambahan pendapatan bagi keluarga.

Keempat, dengan memanfaatkan lahan pekarangan, akan membuat lingkungan menjadi lebih sehat, bersih, rapi, dan indah karena masing-masing rumah tangga memelihara pekarangannya.

Dalam rangka mengatasi dampak negatif dari pandemi Covid-19, bukan hanya menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi sejatinya perlu upaya kerjasama antara Pemerintah dan masyarakat itu sendiri sehingga wacana new normal life dapat berjalan lebih baik seiring dengan upaya pemutusan rantai penyebaran Covid-19 ini. Semoga upaya sinergis antara Pemerintah dan masyarakat tersebut dapat menciptakan kehidupan normal baru yang lebih baik dan lebih membahagiakan.

*Dr. Lilis Siti Badriah, SE, MSi dan Dra. Dijan Rahajuni, MSi. Dosen Fakultas ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman


tags: #ekonomi #sehat #resesi #lahan pekarangan #bercocok tanam

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI