Mal Tentrem, Kerumunan, dan Ruang Riang

Oleh Elbara Lazuardi*

Jangan hakimi ukuran kebahagian orang.

Rabu, 26 Agustus 2020 | 14:48 WIB - Persuasi
Penulis: @elbaralazuardi . Editor: Kuaka

SEPANJANG Agustus ini,  dua kali sudah Hotel dan Mall Tentrem Semarang viral di media sosial. Pertama saat hotel itu dibuka: kemegahan dan keindahan ''akuarium'' raksasa tersiar ke publik. Kedua, saat antusiasme publik untuk menikmati mall dan keindahan ''akuarium'' itu mengakibatkan terjadi kerumunan yang luar biasa, berdesakan, yang memancing keprihatinan banyak pihak, terutama setelah tersiar di media sosial.

Keviralan itu juga yang memancing Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo untuk bersuara, meminta hotel dan mal milik Sidomuncul Grup itu untuk tutup dulu jika tidak siap dalam pengoperasiannya. Ketidaksiapan itu dinilai Ganjar karena pengelola tidak mampu mengantisipasi kerumunan, pengunjung berdesakan di atrium, dan mengular sampai menyesaki bahu jalan.

Komentar senada dengan Gubernur Ganjar juga banyak kita temukan di media sosial. Sebagian menyayangkan mengapa massa sampai sebegitunya, tidak peduli pada protokol kesehatan, padahal ke mal juga tidak untuk berbelanja, karena memang mal belum berfungsi maksimal. Sebagian lagi, tentu sebagaimana kebiasaan netizen kita, ''merendahkan kerumunan'' itu, sembari mempertanyakan mengapa mal dan hotel buka di saat pandemi seperti ini.

Kita bisa memahami komentar itu. Bisa memahami bukan berarti menyetujui. Komentar pada kerumunan di Mal Tentrem itu lahir dari bias perspektif, yang sebagaimana kata Reicher dan Potter, terjadi karena komentator memosisikan diri sebagai orang luar (outsider), sehingga tidak memberikan nalar yang objektif. Sebagai ''orang luar'', maka amatan itu menjadi berjarak, dan dengan demikian tidak dapat memotret secara utuh substansi atau kebatinan dari terciptanya kerumunan itu. Dan ''jarak'' itu lahir dari rentang sosial ekonomi yang berbeda, dan atau ''menciptakan jarak'' sehingga merasa berada di rentang sosial ekonomi yang berbeda dari kerumunan itu.

Maka, komentar yang lahir kemudian dapat kita tandai sebagai demarkasi antara ''kami'' dan ''mereka''. Meski tersamar, kita melihat banyak sinisme ketika memandang kerumunan itu. Rindang kerumunan itu dinilai lahir dari semacam ''ketertipuan'' pada kemegahan akuarium, yang padahal, ''Tidak beda jauh dari screensaver di komputer,'' kata seorang netizen.


Kadar Bahagia
Kebahagiaan itu pada dasarnya selalu bersifat personal. Psikolog Geiner bahkan menegaskan bahwa kebahagiaan lahir dari penilaian individu pada kehidupannya sendiri. Dengan kata lain, bahagia itu selalu subjektif. Ini juga yang membuat kita tidak bisa memaksakan ukuran kebahagiaan dan kegembiraan kita pada orang lain.

Memaksakan ukuran bahagia bukan saja kesalahan tapi juga ''kejahatan''. Dan tanpa sadar, kejahatan jenis ini acap berlangsung di sekitar. Kita kerap menjadi hakim bagi kebahagiaan orang lain.  Kita acap mendengar kalimat sejenis ini, ''Halah! Makan pecel Yu Sri aja kok wis bahagia.'' Atau, ''Ngeluh terus, kayak wong miskin aja, nggak pernah bahagia.'' Dan hal senada itu menjadi lazim, yang akhirnya dianggap benar.

Padahal, jika ada orang yang makan pecel saja sudah bahagia, ya biarkan dia bahagia. Karena memang itu ukuran kebahagiaannya. Jika ada orang yang mengeluh terus, ya dengarkan atau biarkan saja. Karena dengan mengeluh itulah dia bahagia. Percayalah, ada orang yang memang suka mengeluh, bukan karena dia ingin dibantu, tapi ituah caranya bisa bahagia atau eksis. Dikadar yang paling ekstrem, ada juga orang yang bahagia dengan menggosip. Apakah dia percaya dengan gosip yang dia katakan? Ya kadang tidak. Tapi itulah cara dia berbahagia. Kita melihat itu di Bu Tejo kan?

Karena berbasis penilaian individual atau diri sendiri, kadar orang untuk berbahagia atau bergembira itu tak selalu sama, dan juga tidak menetap. Tapi, kesamaan emosional dan horizon pengharapan dapat membuat orang berada dalam skala keriangan yang sama. Dan di titik inilah kita dapat melihat mengapa kerumunan di Mal Tentrem tercipta.

Lima bulan sudah pandemi Covid-19 mengurung kita. Aktivitas luar ruang dilarang, kita dipenjara oleh ruang yang tiba-tiba menyempit, di rumah saja, dan terutama kecemasan yang terus menekan. Covid-19 membuat kita dikurung ketegangan, kegelisahan, kekhawatiran yang berkenaan dengan perasaan terancam serta ketakutan oleh ketidakpastian di masa mendatang, bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Ini ditambah kesimpangsiuran soal Covid, polemik para ahli, dan kebijakan negara yang, kadang, susah untuk dimengerti. Kurungan kecemasan ini sudah berada pada level yang sangat ketat, sehingga nyaris robek dan akan menimbulkan ledakan. Itulah sebabnya, pengendoran pun diambil, bukan saja untuk membuat aktivitas ekonomi menggeliat, tapi juga membuat psikologi kita kembali sehat.

Jalan mulai dibuka, tempat wisata perlahan diizinkan beroperasi lagi, dan mal mulai kembali dikunjungi. Tentu semua dengan prasyarat menerapkan protokol kesehatan secara ketat. Tapi, lima bulan ''di rumah saja'' bukan saja melemahkan psikologis kita, tapi juga sendi ekonomi. Psikologis kita butuh pelepasan, ''Pengin teriak, merasa bebas...'' kata seorang netizen, ketika berada di tempat wisata, sebagai ungkapan kelegaan. Nah, kelegaan karena pelonggaran ini menjadi milik banyak orang. Akhirnya, warga merasa mendapatkan kembali ruang mereka. Ruang yang lebih luas dari sekadar rumah. Ruang yang bisa membuat mereka riang.

Masalahnya, tidak semua orang dapat menjangkau ruang riang itu.

Ke tempat wisata? Butuh biaya. Ke mal, juga butuh uang. Ke resto, apalagi.

Semua orang butuh ruang riang, tapi tak semua ruang riang tersedia bagi tiap orang. Nah, dalam situasi inilah, tiba-tiba Mal Tentrem buka. Warga menemukan ruang itu. Warga melihat oase untuk membasuh kelelahan dan kerinduan ruang itu. Biaya? Dengan hanya 10 persen tenant yang baru buka, maka datang ke Mal Tentrem tentu saja tidak untuk berbelanja.

Mal Tentrem menjadi ruang yang bisa diakses siapa pun. Menjadi tempat yang menyamarkan kepentingan akan ''ruang riang''. Di mal ini, warga menemukan kesempatan untuk menemui hal-hal baru, ketakjuban baru, kegembiraan baru. Atau mungkin sekadar menengadah, memandangi ''akuarium'' di atap mal, atau merasakan dingin marmer, atau melihat toko-toko yang masih kosong. Di mal itu, mereka berharap ''dibebaskan''.

Wajar jika kemudian muncul kerumunan.

Bahwa kemudian kerumunan itu menyebabkan pihak Mal Tentrem tidak siap, tentu ini dapat dimaklumi. Kita harus bisa membedakan antara ''ketidaksiapan'' dengan ''pembiaran''. Ketidaksiapan itu pasti situasional, sesuatu yang tak terduga. Penjelasan dari manajemen Mal Tentrem menunjukkan bahwa tidak ada pembiaran atas situasi itu.

Maka, sebagaimana Mal Tentrem menjadi ruang riang bagi banyak warga, seharusnya juga kita memberi ''ruang'' bagi manajemen Mal Tentrem untuk memperbaiki diri, bukan mencemooh, mengecam, dan mengancam. Dalam situasi ini, kita harus mendukung terbentuknya ruang-ruang baru bagi warga untuk merasakan keriangan, kelegaan, setelah sekian bulan dilumat kecemasan. Ruang riang baru itu adalah harapan bagi warga, dan kita harus terus menjaga harapan itu. Tentu dengan, sebagaimana, protokol kesehatan yang juga telah diterapkan di mal itu.

*Penulis adalah editor di Kuasakata


tags: #di rumah

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI