Salah satu pelaku UMKM. Foto istimewa

Salah satu pelaku UMKM. Foto istimewa

Momentum UMKM Produktif Bangkit

*Dr. Berta Bekti Retnawati

Situasi di tahun 1998 dan 2008 UMKM tidak terlalu terpukul akibat dampak dari krisis perekonomian saat itu, namun pandemi saat ini menjadi pukulan yang jauh lebih keras karena situasi yang ada.

Jumat, 04 September 2020 | 06:04 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Wis

BULAN September sudah kita masuki, dan pandemi virus Covid-19 belum menunjukkan tanda-tanda berakhir. Cobaan untuk dunia dan bangsa kita belum berakhir dan cobaan ini tidak ringan. Multi aspek dari pandemi ini telah berpengaruh secara luas. 

Presiden Jokowi dalam pidato kenegaraan di bulan Agustus menyatakan akan fokus pada program pemulihan ekonomi yang dilanjutkan dan diiringi dengan reformasi di berbagai bidang. Ada ajakan pemerintah untuk membajak momentum krisis untuk melakukan lompatan-lompatan besar, Upaya pemulihan ekonomi ditunjukkan dalam anggaran pemulihan ekonomi dalam RAPBN 2021 sebesar Rp 356,5 triliun, dan khusus untuk dukungan UMKM sebesar 13,7% yakni Rp48,8 triliun. 

Proyeksi pertumbuhan ditarget 4,5- 5,5% dengan berdasarkan skenario berat dan sangat berat oleh pemerintah. Membajak momentum yang dicanangkan pemerintah untuk pemulihan cepat akibat kontraksi ekses pandemi dampak dari resesi yang tidak mungkin dihindarkan oleh bangsa ini, Sinyal positif dari prediksi IMF bahwa Indonesia akan menjadi negara dengan perekonomian kedua pulih dengan cukup cepat setelah Cina. 

Pemulihan ekonomi secara cepat yang dicanangkan pemerintah nampaknya akan menumpukan harapan pada UMKM. Hal ini menjadi pembuktian kali ketiga yang senyatanya UMKM telah menyelamatkan bangsa ini dari krisis ekonomi di tahun 1998 dan tahun 2008. 

Situasi di tahun 1998 dan 2008 UMKM tidak terlalu terpukul akibat dampak dari krisis perekonomian saat itu, namun pandemi saat ini menjadi pukulan yang jauh lebih keras karena situasi yang ada. Hal itu disebabkan adanya pembatasan kegiatan masyarakat, kegiatan work from home ataupun keinginan pelaku UMKM untuk mengurangi aktifitas luar yang bisa dilakukan karena faktor upaya menjaga kesehatan diri sendiri. 

Dengan tipikal keuletan dan daya juang para pelaku usaha UMKM, pemerintah berupaya untuk mengajak dan memberdayakan pelaku usaha untuk bersama melewati pandemi. Bukan tanpa alasan UMKM menjadi pemompa percepatan pemulihan ekonomi negeri ini, karena jumlah UMKM di negeri ini sebanyak 26, 194 juta (99% dari pelaku usaha di Indonesia adalah UMKM) dan penyerapan tenaga kerja sebanyak 116,978 juta orang.

Pemulihan dan menjaga keberlangsungan usaha UMKM inilah yang akan menentukan kecepatan pemulihan ekonomi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Masalah yang dihadapi UMKM selalu klasik dari waktu ke waktu, di masa pagebluk ini UMKM harus segera dibantu dan dicari solusi terbaik dan tercepat. Masalah pembiayaan atau arus kas, kualitas sumber daya manusia pelaku usaha yang belum adaptif dengan tuntutan perubahan yang terjadi serta keterbatsan akses pasar dan teknologi harus segera disikapi. 

Saat ini pemerintah sudah melakukan berbagai terobosan untuk menolong UMKM tetap bernafas dan berlanjut dalam usahanya. Ada kebijakan restrukturisasi utang atau kredit, subsidi bunga, atau pun subsidi pajak. Dalam situasi sulit seperti sekarang, kemampuan UMKM terhubung dengan lembaga pembiayaan dan perpajakan menjadi sangatlah urgent. 

Digitalisasi kegiatan promosi untuk penetrasi pasar dan peningkatan omzet penjualan juga tidak bisa ditunda lagi. Kemampuan adaptasi pelaku usaha akan perubahan perilaku konsumen menjadi mutlak dipahami dan ditindaklanjuti. Kenormalan baru dalam percepatan adopsi digital, belanja daring, bekerja daring, melakukan banyak kegiatan di rumah (belajar, berolahraga, hiburan, sampai pada konsultasi kesehatan). Teknologi digital yang menjadi landasan semua aktifitas di kenormalan baru tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi dan semua bergeser menggunakan fasilitas teknologi digital, hal tersebut menimbulkan peluang dan tantangan. 

Jumlah UMKM yang sangat besar, tentunya diharapkan bisa membajak momentum tersebut. Harapan disemaikan pada UMKM agar mampu melewati tantangan dan krisis multi dimensi akibat pandemi ini. Namun harapan tesebut tak mudah seperti membalik telapak tangan. Posisi strategis dan potensial ini harus didukung untuk solusi-solusi permasahann yang dihadapi. 

Belum meratanya jumlah UMKM yang sudah melek digital alias belum memiliki ekosistem digital menjadi problem mendasar. Hal lain adalah kemampuan pemerataan infratruktur telekomunikasi di semua wilayah tempat UMKM berada. Dua hal inilah yang akan mendasari keberlanjutan usaha UMKM, yakni literasi digital dan infrastruktur telekomunikai untuk menjadi pondasi lewati krisis akibat pandemi. 

Di Jawa Tengah jumlah pelaku UMKM ada sebanyak 4,129 juta, masalah yang dihadapi wilayah ini mirip secara nasional. Beruntungnya pemerintah memiliki kesigapan tinggi untuk menyelamatkan banyak UMKM untuk tetap bergeliat. Bantuan permodalan, akses teknologi digitalisasi dan sinergi dengan berbagai pihak seperti BUMN untuk bersama membantu UMKM tetap bertahan hidup patut diapresiasi. Semoga momentum pandemi ini menjadi penanda kebangkitan UMKM sebagai hadiah untuk peringat

*Dr. Berta Bekti Retnawati, Kepala LPPM dan Dosen FEB Unika Soegijapranata

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI