Membangun Kemandirian Melalui Wirausaha

Dr. Lilis Siti Badriah, SE, MSi,*

Jumat, 18 September 2020 | 06:59 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Wis

Dewasa ini tampak adanya fenomena kesenjangan antara jumlah penawaran tenaga kerja dengan jumlah kesempatan kerja yang tersedia sehingga hal tersebut menyebabkan jumlah pengangguran berlimpah. Apalagi di masa pandemi Covid-19, dimana semua aspek kehidupan masyarakat terdampak signifikan, menambah semakin meningkatnya jumlah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia. 

Berbagai kebijakan pemerintah banyak dikeluarkan untuk mengatasi dampak negatif Covid-19 terutama untuk masyarakat yang benar-benar terdampak. Berbagai program pemulihan ekonomi nasional dalam bentuk bantuan usaha produktif (UMKM) dan bantuan sosial lainnya dengan harapan membuat produktif kembali masyarakat yang kehilangan pekerjaan. 

Guna mendapatkan hasil nyata dari kebijakan pemerintah tersebut, maka perlu dukungan masyarakat itu sendiri untuk memotivasi dirinya agar dapat mandiri tanpa tergantung pada orang lain atau bantuan pemerintah secara terus menerus. 

Melihat fenomena tersebut, upaya yang penting dilakukan adalah bagaimana menanamkan jiwa kewirausahaan sehingga setiap orang sadar perlu membekali diri dengan keterampilan yang dia miliki agar mampu membuat lapangan kerja sendiri (berwirausaha) dan tidak menggantungkan hidup pada orang lain. 

Selama ini, kendala yang dihadapi masyarakat dalam melakukan wirausaha pada umumnya terkait keterbatasan mereka dalam memahami kewirausahaan itu sendiri, dan tidak tahu persis seperti apa mereka harus bersikap untuk menjadi seorang wirausaha mandiri yang berhasil. Oleh karena itu, masyarakat perlu mendapatkan edukasi mendalam agar memiliki pemahaman yang tepat mengenai kewirausahaan. 

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang dalam menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menciptakan,  menerapkan cara kerja, teknologi, dan produk baru dengan meningkatkan efisiensi dalam rangka memberikan pelayanan yang baik dan atau memperoleh keuntungan yang lebih besar (Longenecker, 2001). 

Dengan demikian, wirausahawan adalah seseorang yang mempunyai kemampuan melihat dan menilai peluang, mengelola sumber daya yang dibutuhkan serta mengambil tindakan yang tepat, guna memastikan sukses secara berkelanjutan. 

Menurut Kasmir (2007), ciri dan sifat watak seorang wirausahawan adalah disiplin, komitmen tinggi, jujur, kreatif dan inovatif, mandiri, realistis. Untuk menjadi wirausahawan yang berhasil, maka yang sangat penting ketika memulai usaha harus memiliki visi dan tujuan yang jelas. Disamping itu, sikap mental merupakan kunci keberhasilan atas usaha selain pemahaman usaha. 

Karakteristik mental seorang wirausahawan adalah memiliki sikap tidak menyerah, mau terus belajar secara berkesinambungan, dan memandang positif setiap masalah yang dihadapi sehingga tidak menjadi cepat berputus asa. 

Seorang wirausahawan harus memiliki keyakinan akan kekuatan diri sendiri. Keyakinan ini akan memberikan harapan dan semangat untuk berbuat kearah tercapainya tujuan hidup. Keyakinan seseorang dapat ditumbuhkan dengan cara mengenali diri sendiri sebagai mahluk yang memiliki kelemahan dan anugerah kekuatan dari Alloh SWT untuk mengatasi kelemahan, harus percaya pada potensi diri sendiri, harus pandai menyusun rencana dan strategi yang tepat dalam mencapai suatu tujuan. 

Manusia yang bersikap mental pengusaha memiliki sifat kejujuran dan tanggung jawab. Kejujuran dan tanggung jawab merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh seorang pengusaha. Dengan tanggung jawab dan kejujuran akan mendapat kepercayaan dari pihak lain, baik itu konsumen, rekan kerja, maupun investor.  Ibaratnya, meskipun tidak memiliki modal pribadi untuk melakukan usaha, seseorang dapat menjadi pengusaha dengan modal kejujuran dan tanggung jawab ini. Sikap sabar, ulet dan tekun juga merupakan bagian dari sikap mental yang harus dimiliki oleh wirausahaawan yang ingin sukses.  

Terkait dengan pengembangan kemampuan kewirausahaan, sering terdengar pertanyaan apakah wirausaha itu merupakan warisan ataukah sesuatu yang dapat dipelajari? Untuk menjadi wirausahawan sukses, memiliki bakat saja tidak cukup, tetapi juga harus memiliki pengetahuan segala aspek usaha yang akan ditekuninya. Menurut Priyanto (2009), entrepreuneurship merupakan hasil interaksi, integrasi dan refleksi ide, ekspektasi dan aktivitas satu orang dengan yang lainnya. Aspek- aspek tersebut merupakan dimensi inti dari enterepreuneur competence. 

Metode pengembangan kemampuan (pendidikan dan pelatihan) kewirausahaan harus diarahkan untuk mendukung inisiatif dan kreatifitas, mengakuisisi struktur pengalaman dalam pembelajaran melalui pendekatan metode action learning approach. 

Pengembangan kemampuan kewirausahaan perlu diarahkan pada pengembangan kompetensi yang dapat digunakan dalam bekerja dan hidup. Kompetensi wirausaha meliputi: pertama, kemampuan teknik, yaitu kemampuan tentang bagaimana memproduksi barang dan jasa serta cara menyajikannya. Kedua, kemampuan pemasaran, yaitu kemampuan tentang bagaimana menemukan pasar dan pelanggan serta harga yang tepat. Ketiga, kemampuan finansial, yaitu kemampuan tentang bagaimana memperoleh sumber-sumber dana dan cara menggunakannya. Keempat, kemampuan hubungan, yaitu kemampuan tentang bagaimana cara mencari, memelihara dan mengembangkan relasi dan kemampuan komunikasi serta negosiasi.

Pengembangan kemampuan kewirausahaan merupakan persoalan yang kompleks. Oleh karena itu model triple helix (sinergi antara Perguruan Tinggi, Pengusaha, dan Pemerintah) harus digunakan untuk mengatasi kompleksitas pendidikan kewirausahaan. Ketiga pihak tersebut dapat bekerjasama untuk menghasilkan model pengembangan kemampuan kewirausahaan yang handal.

Pembentukan jiwa kewirausahaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal (Priyanto, 2009). Faktor internal dari dalam diri wirausahawan dapat berupa sifat-sifat personal, sikap, kemauan, dan kemampuan individu untuk berwirausaha. 

Sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri pelaku wirausaha berupa unsur lingkungan keluarga, lingkungan dunia usaha, lingkungan fisik, lingkungan sosial ekonomi, termasuk pengaruh potensi ekonomi lokal yang tersedia.

Untuk menumbuhkan mental wirausaha dapat dilakukan dengan cara pengembangan faktor internal dan eksternal tersebut. Pertama. melalui komitmen pribadi (faktor internal). Jiwa wirausaha ditandai dengan adanya komitmen pribadi untuk dapat mandiri, mencapai sesuatu yang diinginkan, menghindari ketergantungan pada orang lain, agar lebih produktif dan untuk memaksimalkan potensi diri. Kedua, melalui lingkungan dan pergaulan yang kondusif (faktor eksternal). Dorongan untuk menumbuhkan jiwa wirausaha dapat berasal dari lingkungan pergaulan teman, famili, sahabat, karena mereka dapat berdiskusi tentang ide wirausaha, masalah yang dihadapi dan cara-cara mengatasinya. Ketiga, melalui pendidikan dan pelatihan (faktor eksternal)

Dengan demikian, kewirausahaan merupakan sesuatu hal yang penting untuk dipahami oleh setiap orang untuk dapat melakukan usaha secara mandiri dan terlepas dari ketergantungan terhadap orang lain. Untuk mencapai kesuksesan dalam berwirausaha, seseorang harus benar-benar bisa mempersiapkan diri dan memadukan semua faktor pendukungnya.  

Kesuksesan dalam berwirausaha tidak cukup bermodal kemauan yang keras, modal yang banyak, dan keterampilan yang dimiliki saja, tetapi sejatinya fondasi utama untuk dapat meraih kesuksesan untuk menjadi mandiri dengan berwirausaha adalah faktor psikologis yang selalu siap untuk menghadapi segala situasi dan kondisi yang dihadapi.

*Dr. Lilis Siti Badriah, SE, MSi,  Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI