Ilustrasi Istimewa

Ilustrasi Istimewa

Mendidik Sopan Santun Anak, Kembali ke Fitrah Orang Tua

*Aan Herdiana, S.Kom.I., M.Sos.

Kesalahan fatal orang tua adalah ketika memasrahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Ini sangat keliru.

Minggu, 02 Mei 2021 | 13:05 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Wis

Menjelang berbuka puasa, saya menepi sejenak di warung sederhana pinggir sawah, untuk melepas lelah, sekalian beli es degan atau kelapa muda. Rasanya nikmat banget kalau berbuka ditemani dengan yang manis dan menyehatkan. Tak berselang lama, datang seorang bapak bersama anaknya –atau mungkin cucunya- juga membeli es degan. 

“Nyong juga pengen tuku bakso!” kata anak tersebut dengan nada tinggi. Oh ya, selain es degan, pedagang tersebut juga menjual bakso dan mie ayam. 

“Lah, ‘nda usah, es degan aja ya?” jawab bapaknya. “Lah koe gawa duit pira, nyong pengen bakso!” Si bapak sejenak terdiam, kemudian ia memandang penjualnya, tak berselang lama penjual es degan mengangguk. Entah apa maknanya. Lalu, si bapak memandangiku, dia hanya tersenyum getir, dan saya hanya mengangguk dengan senyuman yang dipaksakan.
 
Saya terdiam mendengar ucapan si anak tersebut. Hati ini terasa di aduk-aduk oleh ucapan si anak itu. Dimana letak penghormatan anak kepada orang yang lebih tua? Sudah tidak adakah rasa hormat kepada orang tua? Apa ini yang dinamakan akhlak generasi milenial? Lalu, dimanakah peran pendidikan?

BERITA TERKAIT:
Mendidik Sopan Santun Anak, Kembali ke Fitrah Orang Tua

Hilangnya sikap sopan santun merupakan masalah dalam pendidikan anak dewasa ini. Hal tersebut seperti yang dijelaskan Rachel dan Daniel (2012), yang dalam penelitiannya mengatakan bahwa “masalah perilaku remaja yang mengganggu adalah tidak memperhatikan lingkungan sekitar, suka melamun, malas, serta tidak menghormati guru (orang tua) dalam berbicara”.
 
Perilaku anak tersebut, jelas bukan masalah yang sepele. Pendidikan sopan-santun, atau bertata krama kepada orang lain, sejatinya harus dikenalkan sejak dini. Bagaimana berbicara dan berperilaku kepada orang yang lebih tua, bagaimana berbicara dengan orang yang lebih muda, dan bagaimana berbicara kepada yang sepantar atau seumuran. Menghormati orang lain atau istilah Jawa, ngajeni wong liyo, adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap orang
  
sopan santun dalam Bahasa
“Tidak akan jatuh harga diri seseorang dengan ia sopan kepada orang lain”, begitu nasehat dari guru saya terkait pentingnya kesopanan dalam bermasyarakat. Dengan kita berbicara sopan kepada orang yang lebih tua, mengucapkan salam dan menunduk ketika melewatinya, bukan berarti kita merendahkan diri, tapi justru itulah potret akhlak menghormati orang yang lebih tua.

Pendidikan sopan santun, adalah “modal sosial” untuk bagaimana anak bergaul, bersosialisasi, dan diterima masyarakat. sopan santun atau tata krama menurut Taryati, dkk. (1995) adalah suatu tata cara atau aturan yang turun-temurun dan berkembang dalam suatu budaya masyarakat, yang bermanfaat dalam pergaulan dengan orang lain, agar terjalin hubungan yang akrab, saling pengertian, hormat-menghormati menurut adat yang telah ditentukan.

Berkaca dari hal tersebut, maka sudah seyogyanya anak dibekali dengan nilai-nilai kesopanan atau tata krama dalam bergaul dengan masyarakat. Salah satunya adalah bahasa. Sejak dini, anak harus dikenalkan dengan bahasa Jawa. Kenapa penting mempelajari bahasa Jawa? Menurut Pudjasoedarma, Bahasa Jawa ialah bahasa ibu orang-orang Jawa yang tinggal terutama, di provinsi Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Sebagai orang Jawa, yang lahir di Tanah Jawa, tentunya sudah seyogyanya kita, dan generasi penerus (baca: anak-anak), harus belajar dan melestarikan bahasa Jawa. Kalau bukan kita, siapa lagi?

Selain sebagai bahasa ibu, seperti yang dijelaskan Hidayat dan Pradanasiwi (2012), bahasa Jawa juga bisa dijadikan sebagai media atau wahana dalam pembentuk budi pekerti yang sesuai dengan unggah-ungguh pada generasi muda. Karena, dalam bahasa Jawa terdapat tingkat tuturyang digunakan untuk membedakan tingkat sosial penuturnya. Tingkat tutur tersebut adalah untuk menghormati lawan tutur atau lawan bicaranya.

Media Sosial dan Pengaruhnya Pada Bahasa
Tidak bisa dipungkiri, kecanggihan teknologi dan komunikasi dewasa ini, berimbas pada sendi-sendi kehidupan. Mulai dari bidang ekonomi, transportasi, komunikasi, media massa, pendidikan, dan lagi sebagainya mengalami imbas dari derasnya arus teknologi dan komunikasi. 

 

Kini, kalau lapar tidak harus pergi ke restauran, cukup pesan di aplikasi gojek, makanan sudah diantar. Kini, tidak lagi harus nunggu lama bus atau angkot, cukup klik aplikasi grab, kita sudah diantarkan sampai depan pintu rumah. Ya, itulah potret kemudahan-kemudahan karena kemajuan teknologi.

Salah satu produk dari canggihnya teknologi komunikasi, adalah media sosial. Dengan adanya media sosial, aktivitas komunikasi menjadi dimudahkan. Seseorang bisa mengirim foto, dokumen, video, atau bisa bersua dengan sahabat lama yang sudah kehilangan jejak. Media sosial menawarkan banyak fitur yang memanjakan dan “meninakbobokan” bagi para penggunanya. Sehingga, jika ada seseorang yang kurang bijak menggunakan media sosial, ia akan lebih menikmati berkomunikasi dengan “teman maya” daripada sahabat nyata di kehidupannya. Oleh karenanya ada istilah, “media sosial: menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh”.

Persoalannya, bukan hanya orang dewasa yang menggunakan media sosial, namun anak-anak dan remaja juga sudah banyak menggunakan media sosial. Penggunaan media sosial, sedikit atau banyak pasti berdampak atau berpengaruh terhadap perkembangan anak, termasuk dalam penggunaan bahasa. Firmansyah (2018) menjelaskan bahwa perubahandan perkembangan bahasa pada seseorang dapat dipengaruhi beberapa hal termasuklingkungan, yang termasuk lingkungan disini yaitu teknologi yang berkembang di masyarakat.

Padahal seperti yang kita ketahui bersama, bahasa di media sosial sangat bervariasi dan beragam, mulai dari bahasa gaul, istilah asing, dan sebagainya. Tidak jarang, bahasa yang tidak pantas diucapkan di kehidupan sehari-hari berseliweran di media sosial. Seolah-olah bisa berekspresi dengan sebebas-bebasnya tanpa melihat etika dan norma di masyarakat. Apabila seorang anak menggunakan media sosial hampir setiap hari, dan ia setiap saat menemukan bahasa-bahasa yang kurang pantas didengar, lambat laun bahasa tersebut akan terpatri, mengendap dalam pikirannya, dan satu waktu akan keluar dari mulutnya.

Kuncinya Adalah keluarga
Kesalahan fatal orang tua adalah ketika memasrahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Ini sangat keliru. Seolah ada anggapan, ketika anak sudah sekolah, tuntas sudah tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak. Yang harus dipahami, orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam keluarga.

Termasuk di dalamnya adalah pendidikan sopan santun. orang tua mempunyai peran yang vital dalam mengenalkan sopan santun sejak dini. Bagaimana berbicara dan bersikap kepada orang yang lebih tua, yang lebih muda, dan yang seumuran. Mengenalkan anak dengan bahasa Jawa adalah sebuah cara untuk mengajarkan kesopanan.

Dalam pelaksanannya, tentunya keberhasilan pendidikan sopan santun ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan yang mengelilinginya. Dengan kata lain, keberhasilan pendidikan sopan santun tidak hanya dibebankan kepada keluarga semata, tetapi juga harus disokong oleh pendidikan formal (kurikulum di sekolah) dan lingkungan sosial di masyarakat, tempat anak tumbuh kembang bersama dengan anggota masyrakat yang lain. Dengan demikian pendidikan sopan santun tidak dapat berdiri sendiri dan selalu kait mengait dengan hal lainnya.

*Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Peradaban
Aan Herdiana, S.Kom.I., M.Sos.


tags: #sopan santun #orang tua #anak #keluarga #sekolah

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI