Dosen Fakultas Psikologi Undip Adi Dinardinata, S.Psi., M.Psi.

Dosen Fakultas Psikologi Undip Adi Dinardinata, S.Psi., M.Psi.

Terkait Pernikahan Dini, Psikolog Adi: Kepribadian Belum Matang, Gimana Asuh Anak?

Menikah itu butuh kesiapan psikologis untuk menyelaraskan dua orang yang berbeda.

Minggu, 06 Juni 2021 | 09:41 WIB - Persuasi
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Sinetron Suara Hati Istri - Zahra menuai banyak protes. Warganet bahkan menuntut film yang disiarkan di Indosiar itu diturunkan karena dianggap mengajarkan pedofilia. Pemeran Zahra yang masih berusia 15 tahun menjadi istri ketiga dan bermesraan dengan tokoh Tirta, pria berusia 39 tahun. Selain pedofilia, sinetron yang tayang mulai 24 Mei ini juga menayangkan pemaksaan pernikahan dan pernikahan dini atau di bawah umur. Tayangan bermuatan negatif seperti ini, memang berisiko. Lantas, apa kata pakar mengenai isu ini?

Psikolog Adi Dinardinata, S.Psi., M.Psi. menyebut dampak menonton film pernikahan dini yakni jumlah orang-orang yang memutuskan untuk menikah dini atau mendukungnya bisa meningkat. 

"Di psikologi, ada konsep yang namanya 'mere exposure': sesuatu yang tadinya dirasa netral, kalau diperlihatkan terus menerus, bisa jadi suka. Apalagi kalau sebelumnya sudah suka. Nah, kalau gambaran dan ide pernikahan dini itu muncul terus, yang pro itu juga bakal semakin banyak," ujar Adi kepada Tim KUASAKATACOM, beberapa waktu lalu.

BERITA TERKAIT:
Terkait Pernikahan Dini, Psikolog Adi: Kepribadian Belum Matang, Gimana Asuh Anak?
Dr Anggoro: Hamil dan Melahirkan di Usia Remaja Berdampak Pada Ibu dan Bayinya
Undip Masuk Universitas Terbaik Kategori Graduate Employability Ranking tahun 2020
Pakar Politik Undip: Meski Bilang Tak Nyapres, Ganjar Kini Berada di Rel Capres 2024
Undip Semarang Tambah 21 Guru Besar
Kelanjutan Proyek Jalan Tembus Unnes Undip Semarang masih Tunggu Keputusan PUPR
Terima Hibah Robot Pelayanan Publik dari Undip, Hendi: Untuk Meminimalisir Sentuhan

Kalau yang menikah dini semakin banyak, kata dia, makin banyak pula pernikahan yang berantakan. Anak-anak yang ikut menanggung dampaknya juga akan semakin banyak. Padahal anak itu tidak salah apa-apa. Tak adil buat mereka kalau harus menerima dampak tersebut.

"Bahayanya lebih rentan terhadap perceraian," tegas Adi yang juga merupakan dosen Fakultas Psikologi Undip tersebut.

Lebih lanjut, Adi menegaskan menikah itu butuh kesiapan psikologis untuk menyelaraskan dua orang yang berbeda. Secara teori, usia 12-18 tahun masih belum siap untuk menikah. Fasenya masih bereksplorasi untuk mencari pola hidup yang pas. 

"Karena pola hidupnya sendiri aja mereka masih bingung, mereka akan kesulitan menyelaraskan pola hidupnya dengan pola hidup pasangannya kalau menikah dini. Bebannya jadi double, padahal beban single aja (menemukan pola hidupnya sendiri yang pas buat dia) mereka masih kebingungan dan bikin stres," ujarnya.

 

Adi yang fokus pada kesehatan pernikahan, kesehatan mental, dan intervensi komunitas ini mencontohkan hamil anak pertama dan lahiran adalah salah satu tekanan terkeras dalam pernikahan karena mengubah banyak pola hidup (dia dan pasangannya). Tekanannya akan meningkat sampai berkali-kali lipat.

"Nah, saya yg psikolog aja terkadang nggak merasa mudah. Padahal sudah psikolog, khusus mendalami tentang pernikahan, dan nikahnya sudah cukup umur. Apalagi mereka yang nemuin pola hidup sendiri aja masih kebingungan dan sering stres sendiri," lanjutnya.

Jadi, sambung dia, pernikahan dini jauh lebih rentan untuk stres dan bercerai karena beban yang mesti ditanggung jauh lebih besar dari kapasitas yang dimiliki. Dampak kedua, menghambat pertumbuhan kepribadian yang sehat.

Pasalnya usia 12-18 tahun itu masa mencari identitas diri. Bagaimana agar dapat identitas diri dan pola hidup yang mereka rasa pas dengan mereka. Mereka mesti banyak coba-coba (tapi tetap di bawah bimbingan dan pengawasan biar tidak kebablasan). Mereka perlu coba-coba berbagai pola hidup, supaya tahu pola hidup mana yang pas buat mereka (karena pola hidup terbaik menurut orang lain belum tentu pas buat mereka, jadi mereka mesti nyoba-nyoba sendiri). Mereka pun perlu coba-coba berinteraksi dengan sebanyak mungkin orang dan kehidupan, supaya tahu mana yang pas.

"Nah bayangkan kalau menikahnya di usia dini itu bikin mereka jadi terhambat buat eksplorasi. Mereka jadi nggak bener-bener tahu pola hidup yang beneran pas buat mereka itu yang gimana, orang yang paling pas buat mereka itu yang gimana, kehidupan yang paling pas buat mereka itu yang gimana. Nggak mateng kepribadiannya," jelasnya.

"Plus, mereka harus menjalani kehidupan pernikahan dan mengasuh anak dengan pola kepribadian yang belum matang itu. Kasihan juga anaknya nanti," pungkasnya.


tags: #undip #pernikahan dini #persuasi # suara hati istri - zahra #psikolog adi dinardinata

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI