Pemain Spanyol merayakan kemenangan adu penalti atas Swiss di babak perempat final Piala Eropa 2020. Di semifinal Spanyol kalah adu penalty dari Italia. (Foto :Istimewa)

Pemain Spanyol merayakan kemenangan adu penalti atas Swiss di babak perempat final Piala Eropa 2020. Di semifinal Spanyol kalah adu penalty dari Italia. (Foto :Istimewa)

Batas Tipis “Sedih dan Gembira” Dalam Sepakbola

*Joko Santoso

Di final, Senin (12/7/2021) dini hari nanti Italia akan menghadapi tuan rumah Inggris. Kedua tim sama-sama rindu juara Piala Eropa.

Sabtu, 10 Juli 2021 | 16:54 WIB - Persuasi
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

GELARAN putaran final Piala Eropa 2020 menampilkan pertarungan seru. Ibarat pentas teater, pertandingan yang digelar di 11 stadion negara Eropa tersebut mampu menguras emosi pemain, suporter dan penonton di seluruh belahan dunia.

Dalam sepakbola kadang batas antara sedih dan gembira juga begitu tipis. Di Piala Eropa, kita melihat sebuah tim atau seorang pemain bisa berderai tawa bahagia setelah pertandingan usai, tentu karena memenangkan pertandingan. Namun bisa jadi di pertandingan berikutnya mereka harus berurai air mata sedih karena kekalahan.

Seperti yang dialami kapten kesebelasan Denmark, Simon Kjaer. Usai pertandingan melelahkan selama 120 menit menghadapi Inggris di babak semifinal. Dia rebah di lapangan Stadion Wembley dengan tubuh lemas. Tim “Dinamit” Denmark harus menerima kenyataan kalah 1-2 dari Inggris. Salah satu gol Inggris merupakan bunuh diri dari Kjaer.

BERITA TERKAIT:
Inggris Larang Anak dan Remaja Lakukan Vaksin Covid-19
Arsenal Tebus Ben White Hampir Satu Triliun
Saka Menganggap Medsos Tak Serius Cegah pelecehan Daring
Juara Piala Eropa, Kini Italia Berniat Jadi Tuan rumah Euro
Usain Bolt: Rasisme Tak Punya Tempat di Sepakbola
Donnarumma dan Pedri Masuk Daftar 11 Pemain Terbaik Piala Eropa
Puluhan Orang Diamankan Polisi London Pasca Euro 2020

Padahal sebelumnya Denmark sudah unggul 1-0 melalui gol Damsgaard. Celakanya lagi di extra time wasit Danny Makkalele memberikan penalti kepada Inggris. Pupuslah asa Denmark untuk melangkah ke final dan mengulangi sejarah tahun 1992 menjadi juara Piala Eropa.

Tak heran jika Kjaer seperti tak percaya. Padahal kesebelasan Denmark merupakan tim ajaib yang memutarbalikkan semua prediksi. Kehilangan pemain andalan Christian Erikson di pertandingan pertama sehingga kalah 0-1 melawan Finlandia, membuat semangat pemain Denmark malah membumbung.

Mereka lolos ke babak 16 besar setelah mampu memang 4-1 atas Rusia, walau di pertandingan juga menyerah dari Belgia 1-2.  Tawa bahagia dan optimisme mulai muncul ketika Denmark lolos ke babak 8 besar, setelah di 16 besar mengandaskan Wales 4-0. Di 8 besar mereka juga kembali menebar tawa bahagia setelah menjinakkan Republik Ceko 2-1.

Tapi di semifinal, dihadapan pendukung Inggris, pemain Denmark kecewa. Mereka kalah secara kontroversial. Penalti yang diberikan wasit kepada Inggris memicu pro dan kontra. Namun pertandingan telah usai. Pemain Denmark bersedih karena gagal ke final.

 

Bahagia dan sedih juga dialami oleh kesebelasan yang harus bertanding melalui adu penalti. Uniknya tim yang menang melalui adu penalty selalu kalah jika di babak berikutnya pertandingan ditentukan dengan adu penalti.  

Pertandingan Swiss melawan Perancis di babak 16 besar harus diselesaikan dengan adu penalti. Swiss menang dan melangkah ke babak 8 besar. Di babak tersebut Swiss menantang Spanyol. Lagi-lagi pertandingan ditentukan melalui adu penalti. Swiss harus menyerah dari Spanyol, sehingga tim matador yang berhak menuju babak semifinal.

Spanyol menghadapi Italia di babak tersebut. Lagi-lagi pertandingan harus ditentukan pemenangnya dengan adu penalti. Kini giliran Spanyol yang menangis, karena kalah adu penalti dari Italia dan gagal ke final

Di final, Senin (12/7/2021) dini hari nanti Italia akan menghadapi tuan rumah Inggris. Kedua tim sama-sama rindu juara Piala Eropa. Italia pernah menjuarainya tahun 1968, sedangkan Inggris malah belum sekalipun membawa pulang tropy Henry Delaunay ke negaranya. 

Partai final akan berlangsung ketat. Apalagi Inggris bermain dihadapan pendukungnya. Tak mudah memprediksi siapa yang akan unggul dan menjadi juara. Ibarat kehidupan, sepakbola bisa membawa bahagia dan sedih silih berganti. 

Sastrawan Pramoedya Ananta Tour menyampaikan "Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.". Dan sepakbola juga selalu memunculkan drama.

*(Penulis adalah wartawan dan penonton sepakbola)


tags: #inggris #italia #final #piala eropa #denmark

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI