Foto istimewa.

Foto istimewa.

Rashford, Messi dan Ketabahan dalam Sepakbola

*Joko Santoso

Malam itu awan gelap seperti menggelanyuti Stadion Wembley setelah Inggris gagal.

Senin, 12 Juli 2021 | 20:45 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Wis

PILU dan menyakitkan. Itulah yang tergambar di wajah para pemain Inggris sesaat setelah mereka gagal meraih mimpi untuk pertama kalinya meraih gelar juara Piala Eropa, Senin (12/7/2021) dini hari tadi. Tim berjuluk Laskar Tiga Singa menyerah lewat adu penalti dari Italia, di pertandingan yang digelar di kandang mereka sendiri di Stadion Wembley.

Puluhan ribu penonton tercekat diam, termasuk para pemain. Asa yang membumbung tinggi yang dibangun sejak fase grup sirna seketika. Penantian 55 tahun sejak Inggris menjadi juara Piala Dunia pertama kali tahun 1996, tak bisa dituntaskan. Inggris kembali gagal meraih gelar. Inggris juga masih terkena “kutukan” kegagalan melalui adu penalti yang pernah menghinggapi mereka.

Banyak pengamat sepakbola yang mempersoalkan mengapa pelatih Gareth Southgate memilih para pemain muda untuk menjadi penendang penalti. Sebuah keputusan yang sulit memang, di tengah tekanan mental dan beban untuk meraih juara. Tiga pemain muda masing-masing Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Bukayo Saka gagal ternyata gagal menjalankan eksekusi penalti. Inggris pun kembali mengubur mimpinya meraih juara Piala Eropa.

BERITA TERKAIT:
Juara Piala Eropa, Kini Italia Berniat Jadi Tuan rumah Euro
Donnarumma dan Pedri Masuk Daftar 11 Pemain Terbaik Piala Eropa
Puluhan Orang Diamankan Polisi London Pasca Euro 2020
Rashford, Messi dan Ketabahan dalam Sepakbola
FA Kecam Tindakan Rasis Suporter Inggris
Harry Kane: Adu Pinalti Meninggalkan Perasaan Terburuk
Italia Juara, Donnarumma Pemain Terbaik Euro 2020

Inggris sepertinya memang tidak dipeluk dewi fortuna hari itu. Sebenarnya tendangan Rashford sebagai penendang ketiga sudah menuju arah yang tepat. Kiper Italia Donnarumma juga sudah salah mengantisipasi. Namun bola yang seharusnya meluncur masuk gawang mengenai tipis tiang gawang, sehingga gol yang diharapkan bisa menjaga asa Inggris menjadi juara sirna seketika. 

Di babak normal sebenarnya Inggris sudah mengawali permainan dengan lugas. Pertandingan yang dipimpin wasit Bkorn Kuipers (Belanda) baru berjalan dua menit, pemain Inggris Luke Shaw sudah menjebol gawang Italia yang dikawal Donnarumma. Namun Italia bukan tim yang mudah patah arang. Cheilini dan kawan kawan mampu menyamakan kedudukan di menit 61 melalui Bonucci dan memaksakan permainan menjadi lebih panjang dan dintentukan melalui adu penalti.

Malam itu awan gelap seperti menggelanyuti Stadion Wembley setelah Inggris gagal. Para pemain ada yang menatap nanar suasana, ada yang menangis dan ada yang masih tak percaya. Sementara pemain Italia bersorak kegirangan karena mampu menjadi juara Piala Eropa, yang terakhir kali mereka raih di tahun 1968.

Dalam permainan memang pasti ada yang menang dan yang kalah. Kekalahan Inggris memang menyesakkan dada. Penantian untuk meraih gelar akan semakin panjang. Akankah momentum sebaik Piala Eropa 2020 ini akan muncul kembali. Pertanyaan yang masih belum bisa dijawab.

 

Rashford, Sancho dan Saka tentu tak akan melupakan tragedi ini. Mereka pemain muda yang gagal melaksanakan tugas sebagai eksekutor penalti. Tapi mereka tak perlu terlalu lama merenungi kekalahan dan meratapi kegagalan. Mereka bisa belajar dari ketabahan seorang Lionel Messi. Bintang sepakbola Argentina tersebut juga harus menunggu sekitar 16 tahun untuk bisa berprestasi bersama tim Tango.

Saat memperkuat tim Argentina, Messi selalu gagal membawa kesebelasannya menjadi kampium. Termasuk di Piala Copa Amerika. Tercatat saat diperkuat Messi tahun 2007, 2015, 2016, Argentina gagal di event tersebut. Begitu pula di Piala Dunia 2004.

Messi juga sempat nyaris frustasi dan memilih keluar dari timnas Argentina. Hal itu dilakukannya setelah gagal di Piala Copa Amerika tahun 2016 dan kalah dari Prancis di perempat final Piala Dunia 2018. Namun pelatih Lionel Scalonni meminta Messi tabah dan terus berjuang bersama timnas Argentina.

Terbukti Messi mampu membawa Argentina menjadi juara di Piala Copa Amerika tahun 2021, dengan mengalahkan tuan rumah Brasil. Penantian Messi selama 16 tahun untuk membawa Argentina meraih gelar internasional terwujud. Ketabahan seorang Messi dan semangat pantang menyerahnya menuai hasil. Tidak ada perjuangan yang sia-sia
Kegagalan di Piala Eropa 2020, seharusnya tidak membuat pemain Inggris patah arang. Masa depan mereka masih panjang. Di Piala Eropa 2020 ini skuad Inggris merupakan skuad yang diisi mayoritas pemain muda. Rata-rata usia pemain Inggris adalah 25,2 tahun. Mereka merupakan skuad termuda setelah timnas Turki yang rata-rata usia pemainnya di Piala Eropa 2020 adalah 24,9 tahun.

Di depan mata ada putaran final Piala Dunia 2022 di Qatar. Meski tidak akan semudah perjuangan di Piala Eropa 2020, Rashford, Sancho dan Saka harus kembali bersiap untuk kembali berjuang dan meraih mimpi yang belum tergapai. Mereka harus kembali bertarung untuk menuntaskan dahaga gelar. Para pemain muda itu harus memiliki ketabahan untuk meraih mimpi menjadi juara. Seperti yang pernah dilakukan seorang Lionel Messi.

*(Penulis adalah wartawan dan penonton sepakbola)


tags: #piala eropa #rashford #inggris #italia #jadon sancho

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI