Najwa dan Nikita, dua wanita berdaya | Gimage

Najwa dan Nikita, dua wanita berdaya | Gimage

Jurnalisme Najwa, Ibuisme Nikita, dan Daya Wanita

Oleh Elbara Lazuardi

Najwa dan Nikita berbeda, dan karenanya mereka jadi wanita berdaya.

Minggu, 25 September 2022 | 09:30 WIB - Persuasi
Penulis: - . Editor: Kuaka

Najwa Shihab tentu saja berbeda dari Nikita ‘Nyai’ Mirzani. Yang pertama, dengan gaya lugasnya telah memberi kita banyak cahaya menuju kebenaran. Dengan keberaniannya, dan kemampuannya menarasikan banyak hal, Najwa membuat kita menemukan bahwa sengkarut di negara ini bukan saja terjadi dengan apa adanya, tapi lebih karena ada apanya. Najwa secara benderang menunjukkan bagaimana seorang seharusnya bersikap ketika menjadi pejabat publik. Najwa juga menuntut agar pengambil kebijakan bertanggung jawab atas kebijakannya, dan menjadikan kemaslahatan publik sebagai tujuan utama.

Melalui ‘’Mata Najwa’’, dia memberi kita perspektif, sekaligus mencari kemungkinan untuk menemukan solusi. Melalui ‘’Mata Najwa’’, kita dituntun untuk melihat apapun secara lebih jernih dan terbuka. Intinya, Najwa ingin kuasa publik terwujud.

BERITA TERKAIT:
Perkataan Felix Ingin Tiduri Najwa Shahab Dianggap Seksis, Apa itu? 
Komika Felix Seda Dihujat karena Materinya Seksis: Mau Tiduri Najwa Shihab
Ikut Turun ke Jalan Dukung Palestina, Najwa Shihab Bagikan 1.000 Semangka
Dukung TikToker Awbimax, Najwa Shihab Persembahkan Puisi Karya Wiji Thukul
Aldi Taher Ciptakan Lagu Baru, dari Kisah Cinta Alshad Ahmad dan Tiara Andini hingga Tentang Diblokir Najwa Shihab

Nikita Mirzani berada di sisi yang berbeda. Nyai memang berani. Tapi keberaniannya tak semua berurusan dengan hak publik. Nikita tetaplah seorang individualis, yang ‘’berteriak’’ semata hanya karena kenyamanannya terusik. Dan, jika pun kita merasa terwakili, itu semata kebetulan. Nikita lebih terlihat sebagai perempuan yang berani melanggar yang semua dianggap tabu. Dia vulgar. Dan dia acap selalu merasa benar.

Dua Sisi

Nikita sosok yang rindu sorotan, dan karenanya akan mengupayakan apapun agar kamera tak melupakannya. Ia, sebagaimana pengakuannya, mendapatkan banyak hal dari kontroversi yang dia ciptakan.

Jika Najwa ingin publik mendapatkan kuasa, Nikita sebaliknya. Dia merasa memegang kuasa. Dan publik, netizen itu, berada dalam genggamannya.

Maka, tidak tepat jika membandingkan keduanya.

Mereka bukan berada dalam bangunan dan irisan yang sama.

Makanya, ketika Nikita mencoba mendekatkan dunianya dengan Najwa, dengan cara mengkritiknya dan memasukkan mereka dalam narasi ‘’persoalan besar’’ kepolisian, irisan antarmereka tak juga tercipta. Najwa tak menyambutnya. Ajakan Nikita untuk bertemu muka, juga tak dia respon.

Kali ini, Nyai bertepuk sebelah tangan. Bahkan ketika ada netizen yang juga, seolah, mendukungnya.

Najwa tampaknya tak menganggap Nikita bagian dari sesuatu yang harus dia tanggapi, dalam kelimun banyaknya persoalan publik yang harus dia bicarakan. Nikita, barangkali, sesuatu yang tak memasuki radar Najwa, meski ‘’kritiknya’’ terlihat intimidatif.

‘’Dan selalu ada usaha untuk merobohkan nyali lewat intimidasi. Tujuannya satu, membangun rasa ngeri, menakut-nakuti supaya kita berhenti,’’ kata Najwa saat menerima pengharggan sebagai  Public Figure Inspiratif terpopuler Indonesian Television Award 2022.

Jurnalisme Najwa

Meski mereka berdua bukan dari bangunan yang sama, dan tak bisa dibandingkan, keduanya punya peran sendiri-sendiri. Najwa yang berangkat dari seorang jurnalis, terbiasa bekerja dengan skema data, mencari rujukan, dan menangkap substansi persoalan. Opini yang dibagun oleh Najwa, bukanlah opini dia pribadi. Najwa, sebagai seorang jurnalis, harus mencari  data dan ‘’meminjam’’ mulut orang lain untuk menyatakan suaranya. Itulah sebabnya, di ‘’Mata Najwa’’, meski kadang terlihat tergesa dan memaksa, Najwa acap menjejalkan banyak fakta, dan ‘’memaksa’’ narasumber untuk bersetuju dengan fakta itu.

Kadang, Najwa memang terlihat memaksa, yang dalam bahasa Rudi Valinka, membuat narasumber jadi tak nyaman, seperti didudukkan di depan polisi atau KPK sebagai terdakwa. ‘’Dia memotong semua penjelasan narasumber di tengah-tengah,’’ cuap Rudi dalam twitternya, yang memancing Susi Pudjiastuti untuk juga bersuara, membela Najwa.

 

Di satu sisi, Rudi juga benar. Najwa memang acap terlihat mendesak narasumber dengan diksi yang keras dan intonasi yang menghimpit. Ini bukan hal yang umum dalam teknik wawancara. Tapi, di sisi lain, Najwa harus mengambil sikap itu karena wawancara dia bukanlah semata bagian dari kegiatan jurnalisme, tapi juga tontonan, yang dibatasi durasi. Dan hukumnya sebuah tontonan, harus ada unsur drama di dalamnya. Juga ketegangan.

Drama, ketegangan, dan unsur ‘’kalah-menang’’ itulah yang membuat penonton bertahan.

Apalagi jika yang hadir di hadapan Najwa adalah tokoh yang memang tengah ditunggu publik untuk memberi terang persoalan. Najwa biasanya tak memberi ruang untuk berkelit, atau mencari alibi. Najwa saat itu tengah mewakili publik, bukan dirinya sendiri.

Ibuisme Nikita

Nyai, Nikita Mirzani, bukan seorang jurnalis. Dia pun ‘’bekerja’’ berdasarkan asumsi pribadinya, tidak melalui riset data dari tim yang kemudian melakukan verifikasi sebagaimana yang pasti dilakukan tim di narasi Najwa. Dalam hal ini, Nyai pasti sekadar merespon apapun yang dia anggap tidak sesuai dengan pendapat pribadinya. Nyai hanya bersuara karena, pertama ,dia merasa tidak nyaman. Dan jika ketaknyamanan dia itu ternyata dirasakan juga oleh orang lain, ya itu persamaan irisan saja.

Karena itu, meski acap bersuara, berteriak, kritik sana sini, hanya beberapa saja suara Nikita yang dapat disandingkan dengan keinginan publik. Selebihnya, Nyai sibuk dengan persoalan keartisannya, gosip dan dunia privat.

Memang, beberapa kali dia bersuara berani, bahkan pernah ‘’melawan’’ Riziek Shihab. Dia juga acap bersuara tentang toleransi, korupsi, dan ketidakadilan lain, dan terakhir soal kepolisian, meski sekali lagi, acap tidak langsung masuk kepada substansi.

Nikita, ya Nyai itu, tidak memosisikan dirinya berada di satu titik. Itulah sebabnya, Nyai ini tidak pernah jelas. Suatu hari dia bersuara tentang A, bisa kali lain, dia bersuara tentang B, dan seakan mendukung si A. Tak ada garis tegas dalam sikap Nikita, karena dia melihat satu persoalan ke satu persoalan lainnya, belum meletakkan dalam satu bejana besar, dan melihat efek dominonya. Nikita sangat sektoral, sporadis, dan juga instingtif. Dia lebih sebagai seorang ibu, yang bagaimanapun akan bersuara jika melihat anaknya diusik atau terganggu. Soal si anak itu benar atau salah,  itu nanti. Yang penting dia bersuara dan membela, si anak tak boleh sendirian. Naluri keibuan itulah yang menjadikannya sosok pemberani, nyaris dalam semua tema.

Cabang Inspirasi

‘’Hari-hari ini, di tengah tsunami informasi dan virus dusta yang meracuni udara. Saya percaya, salah satu tugas jurnalisme adalah menggaungkan suara publik, menyuarakan apa yang kami anggap penting. Ada banyak kebenaran, manis atau pahit, yang semuanya harus berani dibicarakan bersama-sama hari ini,’’ kata Najwa saat menerima pengharggan sebagai  Public Figure Inspiratif terpopuler Indonesian Television Award 2022.

Najwa benar. Di tengah arus informasi yang begitu cepat, dusta memang sangat mudah dilengketkan. Kita jadi semacam terusan informasi, tanpa bisa mencerna mana yang kita butuhkan, mana yang tidak, mana yang benar, mana yang dusta. Mana suara yang penting, mana yang cuma bising.

Najwa, dengan demikian, mengajak kita menapis kebisingan itu, selalu mencari dan beralih ke substansi. Tidak tersibukkan menanggapi hal-hal yang tidak penting tapi melelahkan, berdebat dan saling merasa benar, padahal sebenarnya tidak berseberangan.

Di titik ini, Najwa seakan menjawab sisi dia dan sisi Nikita. Dalam persoalan kepolisian itu, sebenarnya, jika kita dapat mengabaikan kebisingannya, Najwa dan Nikita tidak berada di sisi yang berbeda. Mereka cuma mengambil tema yang tak sama.  Najwa mengangkat narasi hedonisme itu untuk masuk ke tema besar pentingnya reformasi kepolisian. Gaya hidup polisi hanya titik masuk, bukan pusat persoalan besarnya. Tapi Nikita, justru menjadikan tuduhan hedonisme itu sebagai pusat pernyataan Najwa.

Karena itu, daripada kita mendebatkan kedua perempuan berani ini, lebih baik kita meletakkan keduanya dalam porsi sendiri-sendiri. jangan dibandingkan, jangan disatukan dalam barisan. Keduanya punya fungsi yang berbeda, dan dalam situasi tertentu, keduanya bisa sama berdaya. Najwa punya keterbatasan, yang bisa saja tak dimiliki Nyai. Begitu juga sebaliknya. Mereka berada di tema yang berbeda.

Jika kita percaya, seperti kata Najwa, ‘’Untuk merapatkan barisan dan menularkan nyali, agar kita terus berani dan menolak berhenti,’’ maka biarkan saja keduanya bersuara, bahkan terkadang tak sama dan saling singgung. Karena, keduanya dengan cara dan porsi yang berbeda, juga menginspirasi, dengan jalan dan cabangnya. Dan inspirasi dari mereka berdua, juga menjangkau banyak orang yang berbeda, yang juga kepentingan dan bahasa yang tak sama. Karena dunia ini tak asik jika hanya ada Najwa, atau hanya Nikita. Kita juga butuh mereka, seperti juga butuh suara Sophia, Anya, Dedy, bahkan Pesulap Merah. Hidup itu indah bukankah karena banyak warna?

(Artikel ini telah tayang juga di Naung.id dengan judul Najwa Shihab, Nikita Mirzani, dan Cecabang Inspirasi)

***

tags: #najwa shihab #nikita mirzani #narasi

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI