Poster film Jagal dan Senyap

Poster film Jagal dan Senyap

Empat Rekomendasi Film Dokumenter Terkait Tragedi G30S

Banyak film dokumenter yang objektif dan dapat menjadi referensi bagus.

Rabu, 30 September 2020 | 19:39 WIB - Layar
Penulis: - . Editor: Ririn

Bulan September terutama tanggal 30 adalah hari yang tercatat kelam bagi bangsa Indonesia. Pada hari ini, 55 tahun yang lalu, terjadi tragedi yang disebut G30S atau Gestapu (Gerakan September Tiga Puluh) atau Gestok (Gerakan Satu Oktober). Sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam pada tanggal 30 September sampai awal bulan selanjutnya (1 Oktober) tahun 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang yang dibunuh dalam suatu kudeta.

Terkait tragedi ini, masyarakat hanya diberi literasi sebatas materi dalam mata pelajaran sejarah dan film karya Arifin C. Noer. Film yang diproduksi Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dan dikomandoi oleh Brigadir Jenderal Gufran Dwipayana ini kadang hanya ditulis "film G30S/PKI” atau hanya "film PKI". Film ini menimbulkan bias dalam pemahaman sejarah. Pasalnya, reka ulang yang diperankan dilebih-lebihkan dan berbeda dengan fakta sejarah. Terutama adegan kekerasan yang dibawakan lebih sadis dan tidak sesuai hasil autopsi jenazah para korban.

Padahal, banyak film dokumenter lain yang lebih objektif dan dapat menjadi referensi bagus. Berikut rekomendasi film dokumenter yang membahas tragedi 65 dari sudut pandang yang berbeda.

1. Jagal: The Act of Killing (2012) dan Senyap: The Look of Silence (2014)

Film Jagal bercerita tentang pengakuan para algojo pembantaian terhadap orang-orang yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia (PKI) di kawasan Sumatera Utara. Sementara film Senyap  bercerita tentang kehidupan adik dari korban yang dibunuh karena dituduh PKI dan usahanya untuk menemui orang-orang yang membunuh kakaknya.

Meski Jagal dirilis lebih dulu, sebaiknya menonton dahulu agar dapat mengerti dan memetakan peristiwa yang hendak disampaikan dalam dokumenter ini. Film Senyap dan Jagal sendiri dibuat oleh sineas asal Amerika Serikat, Joshua Oppenheimer. Kedua film tersebut sempat masuk nominasi Oscar kategori film dokumenter. Bahkan, Senyap (2014) telah banyak memperoleh penghargaan dari luar negeri. Bahkan film Senyap masuk dalam perebutan Piala Oscar 2016 untuk kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik.

2. Plantungan (2010)

Film dokumenter berdurasi 40 menit ini merupakan fbesutan Putu Oka Sukanta dari Lembaga kretif kemanusiaan (LKK) dan diluncurkan di Goethe Haus. Film ini mengisahkan perjuangan perempuan yang dipenjara di sebuah camp bekas rumah sakit Lepra di Kendal Jawa Tengah dengan judul sesuai nama penjara “Plantungan”.

Pada masa itu, Plantungan terdengar seperti Pulau Buru yang merupakan tempat pengasingan tahanan politik. Selain diasingkan, para tahanan ini pun awalnya dibenci oleh masyarakat sekitar. Pasalnya ada indoktrinasi pemerintah masa itu akan Gerwani yang dipotret sebagai pembunuh bengis dan tidak manusiawi.

Namun, hal tersebut tidak terbukti benar. Sebab para tahanan wanita ini membuktikan bahwa mereka justru orang baik-baik yang menjadi tahanan politik. Bahkan, mereka berkontribusi bagi masyarakat sekitar dan kemudian dihormati karena sumbangsihnya.

Selain menghadirkan korban tahanan politik, film ini juga mendatangkan Andy Yentriani (Komnas Perempuan RI), Romo I. Ismartono, SJ (Pastor Parolki Santo Isodorus, Sukorejo Kendal, 1977-1978). 

3. Mass Grave, Digging Up The Cruelties (An Indonesia’s Forgotten Barbarism) 2001

Mass Grave, yang dibuat pada 2001 memperlihatkan peristiwa pemakamam kembali puluhan korban pembunuhan massal sepanjang 1965 di Wonosobo. Ketika kuburan massal itu dibongkar, tim forensik menduga ada sebanyak 21 orang yang mati ditembak. Di lokasi itu ditemukan potongan peluru, lencana, dan cincin.

Pembongkaran ini diajukan oleh keluarga korban yang ingin para mendiang kerabatnya dikebumikan dengan layak. Namun, aksi ini menuai kontra dari warga setempat yang anti PKI dan menganggap para simpatisan PKI layak diperlakukan seperti itu.

Meski berdurasi pendek, Mass Grave tampil padat dengan narasumber yang berbobot, seperti Sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang juga sempat diasingkan di Pulau Buru karena tertuduh berideologi kiri. Selain itu dihadirkan pula Sosiolog Arif Budiman, Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur, dan Sulami–seorang nenek salah satu korban yang masih hidup dan pernah dihukum 20 tahun penjara saat rezim Soeharto.

4. Shadow Play: Indonesia's Year of Living Dangerously (2003)

Film ini merupakan garapan Chris Hilton dengan melibatkan aktor hollywood Linda Hunt serta sastrawan Indonesia Pramoedya Ananta Toer. Meski mengisahkan tragedi di Indonesia, film ini mengambil lokasi syuting di Filipina dan Australia. The Year of Living Dangerously sempat tak bisa masuk ke Indonesia selama Orde Baru berkuasa.

Aktor kawakan Mel Gibson memerankan Guy Hamilton, seorang jurnalis Australia yang ditugaskan di Indonesia di detik–detik kejatuhan Soekarno. Tugas utamanya,menggali informasi dari tiga faksi besar saat itu yakni pemerintahan Soekarno, PKI, dan militer.

Kendati Indonesia menganut paham politik bebas aktif di tengah perang dingin blok Sekutu–Soviet, Amerika Serikat tetap mencurigai Indonesia condong ke Cina.

Puncak film ini adalah perebutan kekuasaan yang ditandai terjadinya tragedi 1965. Versi film The Year of Living Dangerously ini memerankan aktor utama pemerintahan Soekarno, PKI, dan pemerintahan Cina.

*Artikel di atas ditulis oleh Novita, reporter magang KUASAKATACOM

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI