Poster film Pusara(n), Foto: KUASAKATACOM

Poster film Pusara(n), Foto: KUASAKATACOM

Hidup Itu Adil, Film Pusara(n) Karya Anak Muda Kota Semarang

Dalam durasi yang singkat, seorang driver ojol dalam kesehariannya merasa frustasi dan hampir bunuh diri karena terpisah dari keluarganya.

Selasa, 30 Maret 2021 | 22:13 WIB - Layar
Penulis: Holy . Editor: Ririn

Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata menggelar nonton bareng film Pusara(n), di Bioskop XXI, Paragon, Jalan Pemuda Semarang. film itu secara garis besar film itu membahas kisah hidup masing masing individu yang memiliki masalah hidup dan tetap bisa bertahan. 

Dalam film itu mengisahkan kisah hidup tiga orang diantaranya seorang pria bernama Rahmaan yang akan bunuh diri karena terpisah dari anak dan istrinya, seorang pria yang berprofesi sebagai waria (Febiiola), dan seorang ibu (Laksmi) yang menjadi bandar togel dan penjual minuman keras jenis congyang. 

Dalam durasi yang singkat, seorang driver ojol dalam kesehariannya merasa frustasi dan hampir bunuh diri karena terpisah dari keluarganya. Ketika pertama kali mengantar penumpang wanita dan pria hidung belang dari sebuah sekolah ke kafe, dia sempat marah besar karena tak bisa berjumpa dengan anaknya. Kedua penumpang sempat kaget namun memaklumi apa yang dilakukan Rahman. Hal itu berhenti sejenak ketika kedua penumpang turun di kafe

BERITA TERKAIT:
Hidup Itu Adil, Film Pusara(n) Karya Anak Muda Kota Semarang
Pemerintah Kota Semarang Gelar Pemilihan Denok Kenang 2021, Ada Hadiahnya
Tingkatkan Layanan Perlindungan Anak, Kota Semarang Launching UPKSAI
Puluhan Rumah Tidak Layak Huni di Semarang Timur Selesai Direnovasi Oleh Pemkot
Libur Panjang, Pemkot Semarang Lakukan Antisipasi Penularan Corona
Libur Panjang, Pemkot Semarang Siaga di Objek Wisata dan Optimalkan Kampung Siaga Candi Hebat
Bioskop di Semarang Bakal Kembali Beroperasi, Gubernur Jateng: Jangan Buka Dulu!

Ketika kembali mendapatkan penumpang kedua bernama Laksmi di Jalan Menterin Supeno, dia diajak berbincang dengan laksmi. Laksmi bercerita soal kisah hidupnya yang hidup sendiri setelah ditinggalkan suaminya untuk selama lamanya. Ketika meminta komentar dari Rahman, Rahman hanya menjawab bahwa dia merindukan anak istri setelah sekian lama. 

Laksmi lantas berkata "yang sabar mas. Hidup memang seperti ini. Semua orang punya masalah masing masing. Yang penting tetap harus bertahan. Seperti halnya saya ini, ditinggal suami. Saya bekerja melanjutkan pekerjaan suami sebagai bandar togel dan jualan congyang"

Rahman yang saat itu mendengarkan cerita itu yang awalnya nampak menangis, mendadak mulai tak menangis. Dia merasa terteguhkan, karena dia merasa yang hidupnya bermasalah tak hanya dirinya

Usai mengantarkan penumpang bernama Laksmi di Tempat Marabunta, Rahman kembali mendapatkan penumpang, tapi waria. Waria itu bernama  panggung Febiola. 

Dalam kesehariannya, Febiola live di instagram mengolah soal kuliner. Setelah berkeliling beberapa saat, Febiola meminta Rahman untuk diantarkan ke Masjid Baiturahman Jawa Tengah di Simpang Lima Semarang. 

 

Disitu Febiola sejenak melepas pakaian wanita dan menggunakan pakaian pria lagi. Saat selesai berganti pakaian dan hendak masuk ke mobil, Febiola sempat memergoki Rahman yang alkan memutar kaset tentang kerinduan kepada anak istrinya. 

Saat itu juga Febiola berkata kepada Rahman, "Cie So Sweet". 

Dari situ, Rahman bercerita kalau dia merindukan anak istrinya. Febiola pun berusaha meneguhkan Rahman. "Yang sabar mas. Tiap orang punya masalah masing masing" 

Febiola lantas bercerita dia terpaksa menjadi waria untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dia menuturkan tak ada pilihan lain selain sebagai waria. "Awalnya aku sempat berpikir kerja lain, tapi ternyata enggak ada, Mau gimana lagi. Aku bersyukur tetap bisa memenuhi kebutuhan hidup" 

"Hidup itu adil. Semua orang punya masalah hidup masing masing tapi masih bisa bertahan hidup"

film itu sendiri merupakan salah satu film pendek yang disutradarai anak muda asli Kota Semaranng bernama Leonardo Cardinal Utomo. film itu juga untuk meramaikan HUT Kota Semarang

Cardinal menjelaskan film itu menitik beratkan pada kisah hidup Rahman yang terpisah dari keluarga dan hendak bunuh diri. Tapi dalam perkembangan waktu, dia mengurungkan niatnya karena diteguhkan oleh banyak orang. 

"Dalam perkembangan waktu, Rahman kan ketemu banyak penumpang. Dari situ dia menjadi berpikir apakah jadi bunuh diri atau tidak. Cerita tiap orang memamh berbeda tapi ada satu benang merah yang sama. Kita semua punya masalah, kita punya rencana dalam hidup tapi pilihannya adalah kita tetap harus hidup atau mati," jelas Cardinal


tags: #pemerintah kota semarang #film

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI