Ilustrasi Iduladha, Gambar: Istimewa

Ilustrasi Iduladha, Gambar: Istimewa

Siapakah yang Nabi Ibrahim Sembelih: Ismail atau Ishaq?

Ibadah kurban adalah pernyataan kesediaan diri untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan paling dicintai kepada Allah SWT. 

Selasa, 20 Juli 2021 | 10:26 WIB - Langkah
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Peristiwa kurban diabadikan dalam QS as-Shaffat ayat 102-107. Ayat ini mengisahkan Nabi Ibrahim bermimpi mendapat perintah menyembelih putranya yang mencapai umur balig. Dalam kitab Tafsir An-Nasafi dan Ibnu Katsir dicatat bahwa putranya ketika itu sedang berumur 13 tahun. Namun, tidak dijelaskan di dalam Alquran siapa sesungguhnya anak Nabi Ibrahim yang dikurbankan. Apakah Ishaq putra bungsunya dari Siti Sarah istri pertamanya yang berkebangsaan Palestina atau Ismail putra sulungnya dari Siti Hajar istri keduanya yang berkebangsaan Ethiopia. 

Sebagian ulama, termasuk jumhur ulama, berpendapat yang disembelih ialah Ismail, sedangkan yang lainnya berpendapat Ishaq. Hal yang membuat mereka berbeda pendapat karena selain tidak ada ayat Alquran dan hadis yang secara tegas menyatakan siapa yang disembelih, kedua golongan ulama itu didukung pendapat kalangan sahabat dan ulama. Di antara sahabat yang berpendapat bahwa yang disembelih ialah Ismail antara lain Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, dan Abu at-Thufail ‘Amir bin Watsilah. 

Dari kalangan tabiin antara lain Sa’id bin al-Musayyib, Sa’id bin Jubair, Al-Hasan al-Bashri. Kalangan mufasir yang mendukung pendapat ini ialah Wahbah az-Zuhaili, Ar-Razi, At-Thabrisi, Thabathabai, Al-Qurthubi, Ibnu Katsir, Thabathabai, An-Nasafi, Sa’id Hawa’, Thahir ibnu ‘Asyur. Sebaliknya sahabat yang berpendapat yang disembelih ialah Ishaq antara lain ‘Umar bin Khatthab, Jabir, Al-’Abbas, dan Ka’ab al-Akhbar. Dari kalangan tabiin ialah Qatadah, Masruq, ‘Ikrimah, ‘Atha’, Muqatil, Az-Zuhri, As-Saddi, dan Malik bin Anas. (Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, Juz XXIII, hlm 126). 

BERITA TERKAIT:
Iduladha, OJK Donasikan Ratusan Hewan Qurban
MAJT Potong 10 Sapi, 13 Kambing Disalurkan untuk Masyarakat
Lazismu Serahkan 290 Sapi BPKH ke 30 Provinsi
Rutan Solo Potong 16 Hewan Kurban, Daging Didistribusikan ke Warga Binaan
IdulAdha, USM Donasikan Satu Ekor Sapi untuk Ponpes di Kudus
Bupati Purbalingga Pantau Penyembelihan Hewan Kurban, Ini Hasilnya
Terperosok ke Parit, Sapi Kurban Dievakuasi Pakai Crane

Argumentasinya antara lain yang dimaksud anak yang menggembirakan (al-mubasy­syar bih) dalam ayat tersebut ialah Ismail karena dialah yang menjadi anak pertama, sehingga menyita perhatian dan cinta Nabi Ibrahim. Sementara itu, Ishaq lahir setelah Ismail

Dengan logika ini, dapat dipahami bahwa Ismail ialah anak tertua dan yang disembelih. Ada satu riwayat menyebutkan bahwa ketika Ismail dilahirkan, Ibrahim AS berumur 86 tahun, sedangkan sewaktu Ishaq lahir, Nabi Ibrahim berumur 99 tahun. (Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz IV, hlm 14). Seandainya yang disembelih ialah Ishaq, tentulah penyembelihan itu terjadi di Baytul Muqaddas, bukan di Mina. 

 

Padahal, sebagaimana diketahui bahwa Mina merupakan tempat untuk menyembelih (al-manhar). Kedua, riwayat dari Al-Hakim dalam Al-Manaqib yang menyebutkan Nabi Muhammad SAW bersabda: Ana ibn adz-dzabihain, yaitu Ismail dan ayahanda Rasulullah SAW, Abdullah. Diriwayatkan bahwa kakek Nabi Muhhamad SAW, Abdul Mutthalib pernah bernazar untuk menyembelih anak terakhirnya jika dikaruniai 10 anak, atau jika Allah memudahkannya dalam menggali sumur Zamzam. 

Setelah kedua harapan tersebut tercapai dan sekaligus untuk menunaikan nazarnya, Abdul Mutthalib hendak menyembelih Abdullah. Abdul Mutthalib disarankan saudara-saudaranya menebusnya dengan seratus ekor unta sehingga anaknya tidak jadi disembelih. (An-Nasafi, Tafsir an-Nasafi, Juz IV, hlm 26). Ketiga, riwayat dari Al-Ashma’i bahwa Ismail yang berada di Mekah dan Ishaq tidak pernah di sana. Ismail membangun Kabah bersama ayahnya, Ibrahim AS. Keempat, Allah SWT menyifati Ismail dengan as-shabr, sedangkan Ishaq tidak demikian, sebagaimana tertera dalam QS al-Anbiya’/21:85. 

Ismail juga memiliki sifat shadiqul wa’di sebagaimana tertera dalam ayat QS Maryam/19: 54 (Wahbah az-Zuhaili, At-Tafsir al-Munir, Juz XXIII, hlm. 124). Sesungguhnya bagi umat Islam saat ini, tidak terlalu penting mempersoalkan siapa yang dikurbankan. Yang terpenting ialah substansi peristiwanya. Ibadah kurban adalah pernyataan kesediaan diri untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan paling dicintai kepada Allah SWT. 

Drama kurban ini kemudian pelaksanaannya setiap 10 Zulhijah, sehari setelah wukuf di Arafah bagi yang menunaikan ibadah haji. Kalau lambang kecintaan Nabi Ibrahim ialah Ismail, seorang anak yang sudah sekian lama ditunggu-tunggu, tetapi setelah lahir diminta untuk disembelih sebagai ujian dari Allah. Akhirnya Nabi Ibrahim dinyatakan lulus ujian itu setelah betul-betul berusaha menggorok anaknya, tetapi kemudian diganti dengan kambing. 


tags: #iduladha #kurban #ismail #ishaq #ibrahim

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI