Foto istimewa.

Foto istimewa.

Mengenal Janur Kuning dan Filosofinya yang Terdapat di Pernikahan Adat Jawa

Kembar mayang, dalam upacara perkawinan adat Jawa digunakan sejak prosesi midodareni sampai prosesi panggih.

Minggu, 15 Agustus 2021 | 11:30 WIB - Kejawen
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

MASYARAKAT Jawa identik dengan perlambang dalam setiap mengawali kehidupan baru, dari kelahiran anak, pindah rumah, selamat dari bala, hingga pernikahan. Semua diwakili oleh perlambang adat yang dilakukan turun temurun dan masih di jalankan hingga sekarang.

Kali ini KUASAKATACOM, akan membahas salah satu perlambang itu yakni setiap kali ada pernikahan di Jawa pasti ada hiasan janur kuning pada acara sakral itu. 

BERITA TERKAIT:
Wisatawan Mulai Padati Bali, Jenderal Listyo Minta Prokes Diperketat
Bule Asal Kanada Diamankan Pihak Imigrasi Bali Karena Menari Telanjang di Kawasan Suci
Datang ke Indonesia Saat Ramadan, Miyabi Berbagi Makanan ke Panti Asuhan
Tunjukkan Kekayaan Ikan Hias KKP dan Komunitas Arwana Adakan Kontes di Bali
Puan Pastikan 115 Negara Hadiri IPU ke-144 di Bali

Dalam tradisi Jawa, janur menjadi salah satu simbol kebahagiaan. Asal kata janur sendiri berasal dari Bahasa Arab yang berarti cahaya dari surga, selain itu dalam Jawa janur juga diartikan 'sejatining nur' atau cahaya sejati. Sedangkan kuning sendiri berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki arti suci.

Janur secara filosofi bermakna sebuah pengharapan dari orang yang memiliki acara hidupnya akan bersinar sama seperti arti yang terkandung didalam janur. Sedangkan kuning mengandung filosofi pengharapan setiap semua yang dikatakan berasal dari hati dan jiwa yang bening serta akan terwujud. 

Jadi bila janur kuning disatukan maka memiliki filosofi sebuah isyarat pengharapan yang tinggi dari hati yang suci untuk mendapatkan cahaya Tuhan, agar segala tindakan serta aktivitas yang dilakukan berjalan dengan baik dan berakhir pada kebahagiaan.

Sebetulnya janur kuning ini tidak hanya kita temukan di budaya Jawa saja, namun juga ada di budaya Sunda dan Bali.

 

Daun janur berasal dari daun muda dari beberapa jenis tumbuhan palma besar, seperti pohon kelapa, enau dan rumbia. Namun kebanyakan yang dipakai masyarakat Jawa berasal dari daun muda pohon kelapa.  

Dalam acara pernikahan ada sejumlah hiasan menggunakan janur dalam beragam bentuk dan memiliki filosofi masing-masing salah satunya dibentuk menjadi kembar mayang, yaitu sepasang hiasan dekoratif yang dipajang di pelaminan.

Kembar mayang, dalam upacara perkawinan adat Jawa digunakan sejak prosesi midodareni sampai prosesi panggih. Hiasan dekoratif tersebut merupakan simbol penyatuan dua individu dalam kehidupan rumah tangga. Sedangkan warna keputih-putihan pada janur menyimbolkan doa agar cinta dan kasih sayang di antara mempelai selalu muda laksana janur.

Dalam membuat janur kuning diperlukan teknis khusus agar perlambang itu indah dilihat, setidaknya ada tiga teknik utama dalam membuat rangkaian janur, yakni dengan cara melipat, mengiris atau memotong, serta menganyam. Namun dengan adanya kemajuan zaman, teknik khusus tersebut kemudian dikembangkan sehingga lahirlah inovasi baru kekinian., yaitu memadukan teknik tradisional janur pada rangkaian bunga tren masa kini. 

Meski begitu, pembuatan daun pada janur kuning ini juga tidak diperbolehkan menggunting, sebab masyarakat Jawa mempercayai janur dengan rangkaian tersebut akan membuat mempelai mampu menghadapi segala persoalan hidup.


tags: #bali #pernikahan #jawa

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI