Tak Hanya 'KKN di Desa Penari', Cerita 'Sewu Dino' yang Ditulis SimpleMan Juga Tak Kalah Seram, Begini Kisahnya (Foto: Istimewa)

Tak Hanya 'KKN di Desa Penari', Cerita 'Sewu Dino' yang Ditulis SimpleMan Juga Tak Kalah Seram, Begini Kisahnya (Foto: Istimewa)

Tak Hanya 'KKN di Desa Penari', Cerita 'Sewu Dino' yang Ditulis SimpleMan Juga Tak Kalah Seram, Begini Kisahnya (Bagian 1)

Dengan posisi duduk yang anggun, wanita itu menatap Sri dari ujung kepala hingga mata kaki.

Selasa, 17 Mei 2022 | 13:43 WIB - Langkah
Penulis: Siti Muyassaroh . Editor: Wis

FILM 'KKN di Desa Penari' menjadi salah satu film horor Indonesia terlaris. Film tersebut diambil dari kisah nyata yang ditulis oleh SimpleMan melalui akun Twitter-nya.

Tak hanya 'KKN di Desa Penari', SimpleMan juga kerap menulis cerita horor lain yang tak kalah menyeramkan, salah satunya 'Sewu Dino' atau seribu hari.

BERITA TERKAIT:
Cerita Perempuan Penjaga Konter HP: Mainin Pisau Cutter karena Pembeli Pria Terus Perlihatkan Video Bokep 
Barista Ini Terancam Jadi Mangsa Seorang Bule Mesum Lalu Tulis Pesan Minta Tolong ke Pembeli, Begini Ceritanya 
Roy Suryo Laporkan Pengunggah Pertama Meme Stupa Candi Borobudur Mirip Presiden Jokowi
Presiden Joe Biden Berikan Pujian ke BTS: Bukan Hanya Bakat Anda yang Hebat
Kronologi Hilangnya Kucing Hits TikTok Pororo Hingga Ditemukan di Atas Pabrik

Cerita tersebut sebenarnya telah ditulis sejak 2019 lalu. Namun, belakangan kembali mencuat lantaran film 'KKN di Desa Penari' sukses menyajikan tontonan yang apik dan sangat mirip dengan cerita asli.

Berikut cerita horor berjudul 'Sewu Dino' yang ditulis oleh SimpleMan melalui thread di akun Twitter-nya, @SimpleM81378523. Artikel berikut telah diubah menjadi cerita narasi dan menggunakan bahasa Indonesia. 

Diceritakan, pada tahun 2001, seorang wanita bernama Sri hanya tinggal bersama sang Ayah. Ia memutuskan merantau ke kota untuk bekerja menjadi pembantu rumah tangga (PRT) demi mencari nafkah untuk dirinya dan sang Ayah.

"Yakin, kamu mau pergi ke ibu kota? Kenapa enggak nyari sekitaran sini, yang deket aja dulu, siapa tahu ada yang butuh," kata ayah Sri pada suatu sore.

Pada awalnya, sang ayah sempat melarangnya lantaran jika anak satu-satunya itu pergi, tak ada lagi yang akan mengurusnya di rumah. Namun, Sri tetap kukuh pergi ke kota karena jika ia tetap tinggal di kampung, ia berpikir tak akan bisa mendapat pekerjaan sebab hanya seorang lulusan SD.

"Kerja apaan, Pak di sini. Saya aja cuma lulusan SD," jawab Sri.

"Terus kalau kamu berangkat, nasib Bapak gimana? Siapa yang nanti merawat, Nak?" tanya sang ayah.

"Iya, Pak, Sri paham, tapi kalau Sri tidak cari kerja, bagaimana Sri memberi uang ke Bapak?" kata Sri.

Tak lama setelah itu, pintu rumah mereka diketuk oleh seseorang yang tak lain adalah Bu Menik, tetangga paling mampu di kampung tersebut juga stau-satunya yang memiliki pesawat telepon kala itu. 

Ia mengabarkan bahwa ada seorang penelpon dari Griya Zainah, salah satu agen penyalur PRT yang membutuhkan tenaga Sri. Dari percakapan melalui telepon itu, Sri diminta datang keesokan harinya ke rumah si penyalur.

Meskipun janji akan datang pukul 8, Sri sudah begitu antusias sejak langit masih gelap. Matahari belum tampak ketika Sri bergegas keluar rumah dan mencari angkutan untuk sampai ke kota yang jaraknya ditempuh dalam waktu satu setengah jam perjalanan.

Tibalah Sri di depan rumah besar milik agen penyalur PRT yang menghubunginya hari sebelumnya. Ternyata sudah terdapat banyak orang menunggu di sana, yang artinya Sri bukanlah satu-satunya.

Butuh waktu lama hingga akhirnya nama Sri pun dipanggil. Ia masuk ke sebuah ruangan kecil dan bertemu agen penyalur PRT. 

Sang agen menjelaskan bahwa kemungkinan ia membutuhkan jasa PRT untuk sebuah keluarga. Namun, Sri masih harus diseleksi terlebih dahulu oleh keluarga yang akan datang siang itu.

Namun, sebelum keluarga itu datang, si penyalur menanyakan hal yang membuat Sri sedikit curiga. 

"Sri, apakah benar kamu lahir pada Jumat Kliwon?" tanya si penyalur.

Sri yang mendengar pertanyaan itu awalnya kaget. Namun, ia bisa menjawabnya meski dengan sedikit tergagap bahwa benar ia lahir di pasaran Kliwon, akan tetapi ia tidak mengetahui apakah itu di hari Jumat.

Si penyalur kemudian mengangguk seakan menemukan apa yang ia cari. Ia bahkan berkata jika kelahiran Sri istimewa.

Kemudian, Sri dibawa ke ruangan yang lebih besar, lebih megah. Lagi-lagi ia diminta menunggu, bersama dua orang yang sudah duduk di sana terlebih dahulu. Sri tampaknya berpikir bahwa ia telah lolos seleksi. 

 

Selama berjam-jam, Sri menunggu di sana. Ia sudah mengobrol dengan 2 orang yang duduk, masing-masing bernama Erna dan Dini Usia keduanya tidak terpaut jauh dari Sri, masih muda, dan belum menikah.

Entah sampai mana mereka bicara, tiba-tiba, si penyalur, memanggil salah satu dari mereka, yakni Erna, untuk keluar dari ruangan.

Rupanya, Erna tidak kembali lagi ke ruangan itu. Giliran Dini yang dipanggil meninggalkan Sri seorang diri meununggu di ruangan itu, entah untuk apa.

Di sela kebosanannya, Sri melihat-lihat melalui jendela. Di luar sana, terdapat banyak mobil terparkir yang tak dilihatnya saat tiba di rumah itu. Tak lama kemudian, Sri pun dipanggil menuju ke ruangan sebelumnya. 

Tak lagi seorang diri, si penyalur saat itu ditemani seorang wanita. Ia mengenakan pakaian adat, kebaya, lengkap dengan sanggul. Dengan posisi duduk yang anggun, wanita itu menatap Sri dari ujung kepala hingga mata kaki.

Wanita itu lantas tersenyum dengan tulusnya, hingga membuat Sri merasa sungkan, seakan ia berhadapan dengan orang yang berderajat sangat tinggi. Sri bahkan tidak berani melihat mata wanita itu lantaran auranya yang begitu kuat membuat Sri merasa kecil.

"Cantik sekali," ucap wanita itu dengan suara halus.

Sri diminta untuk duduk. Si penyalur kemudian memperkenalkan bahwa wanita di sampingnya adalah pemilik rumah makan yang kala itu sangat terkenal di wilayah Jawa Timur. Saking terkenalnya, kekayaannya tidak perlu dipertanyakan.

Kembang Krasa, gelar wanita anggun itu. Meski hanya semacam gelar, Sri tahu arti nama itu, yakni bunga Krasa. 

Aroma wangi bunga tersebut sudah melegenda sejak dulu, sebelum ditumpas untuk menyingkirkan balak di atas Gunung L***, saat bangsa lelembut masih mendiami tanah Jawa. Semua orang si sini tahu cerita itu.

Memikirkan hal tersebut, Sri masih menunduk. Ia segan menatap wanita itu. 

"Angkat saja kepalamu, Nak. Tidak usah takut begitu. Mbah ini sudah tua, lho. Tidak perlu sehormat itu," kata wanita itu.

Sri hanya mengangguk tanpa membuang sedikit pun rasa segannya seperti yang diperintahkan. Mbah Karsa mulai mengajukan beberapa pertanyaan, mulai hari lahir, weton, hingga penanggalan yang bahkan membuat Sri bingung bagaimana menjawabnya.

Wanita itu kemudian menyentuh tangan Sri sambil berkata, "Nak, kamu mau kerja sama Mbah?"

Sri pun mengangguk. Wanita itu lantas menanyakan berapa gaji yang Sri minta tiap bulannya. Dengan gugup, Sri menjawab ia menginginkan gaji 700 ribu rupiah setiap bulan. Angka itu sebenarnya sudah melebihi gaji rata-rata PRT yang hanya 500 ribu tiap bulannya.

Namun, wanita itu merespon dengan jawaban yang membuat Sri kaget sekaligus heran.

"Bagaimana kalau setiap bulan aku kasih kamu 5 juta?" tanya wanita itu.

Sri pun setuju lantaran ia tidak tahu harus mengatakan apa, bahkan ketika si wnaita sudha pergi. Si penyalur yang tidak memungut uang sepeser pun dari Sri membuat kejadian hari itu terasa semakin aneh.

Sri mulai ragu dan menerka-nerka pekerjaan macam apa yang digaji setinggi itu.

Ia kemudian pulang ke rumah dan menceritakan apa yang dialaminya kepada sang ayah.

"Firasat Bapak kok buruk ya. Apa nggak usah berangkat aja, cari yang lain," ujar Bapak.

Namun, Sri meyakinkan sang ayah bahwa ia harus berangkat kerja. Kapan lagi ia mendapat pekerjaan dengan gaji setinggi itu. Ia ingin melihat pekerjaan seperti apa yang akan diberikan kepadanya.

(bersambung)


tags: #twitter #film horor #kkn di desa penari #sewu dino #simpleman

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI