Ilustrasi boneka santet (Foto: Istimewa)

Ilustrasi boneka santet (Foto: Istimewa)

Tak Hanya 'KKN di Desa Penari', Cerita 'Sewu Dino' yang Ditulis SimpleMan Juga Tak Kalah Seram, Begini Kisahnya (Bagian 3-selesai)

Di sana, Sri menemukan sebuah kuburan dengan batu bertuliskan nama yang familiar, 'Dela Atmojo'.

Rabu, 18 Mei 2022 | 14:01 WIB - Langkah
Penulis: Siti Muyassaroh . Editor: Wis

CERITA bertajuk ‘Sewu Dino’ yang ditulis oleh SimpleMan juga tak kalah menarik untuk disimak dibandingkan ‘KKN di Desa Penari’. Cerita horor ini bahkan oleh sejumlah warganet disebut jauh lebih seram dari ‘KKN di Desa Penari’.

Berikut adalah kisah ‘Sewu Dino’ bagian 3 yang bersumber dari utas dari akun Twitter @SimpleM81378523 dengan beberapa perubahan bahasa.

BERITA TERKAIT:
Cerita Perempuan Penjaga Konter HP: Mainin Pisau Cutter karena Pembeli Pria Terus Perlihatkan Video Bokep 
Barista Ini Terancam Jadi Mangsa Seorang Bule Mesum Lalu Tulis Pesan Minta Tolong ke Pembeli, Begini Ceritanya 
Roy Suryo Laporkan Pengunggah Pertama Meme Stupa Candi Borobudur Mirip Presiden Jokowi
Presiden Joe Biden Berikan Pujian ke BTS: Bukan Hanya Bakat Anda yang Hebat
Kronologi Hilangnya Kucing Hits TikTok Pororo Hingga Ditemukan di Atas Pabrik

Pagi harinya, ada kabut tebal yang menyelimuti hutan di sekitar pondok, membuat pandangan mata terbatas. Sri dan Dini berada di sumur, mencuci pakaian keseharian mereka. Sementara Erna tengah membasuh Dela di dalam kamar.

Kemudian Sri mendengar suara langkah kaki. Ia sontak berdiri untuk melihat dari jauh sosok hitam muncul dari balik kabut, perawakannya familiar. Sosok itu mendekat dan terlihat jelas. Sri semakin yakin akan siapa sosok itu hingga ia mematung sesaat. 

Melihat temannya tercekat, Dini ikut berdiri. Mereka melihat Mbah Tamin dengan wajah letih mendekat ke arah mereka. Ketika Mbah Tamin berdiri di depan Sri, ia bertanya apakah petuahnya sudah dijalankan.

Sri hanya terdiam, bibirnya gemetar. Dini pun bertanya dengan suara lirih, "Mbah, bukannya semalam Mbah pulang?"

Mbah Tamin yang mendengar hal itu tiba-tiba mengejang, otot wajahnya mengeras. Ia lantas memandang Sri dengan ekspresi tidak percaya dan ada kemarahan dalam tatapannya.

"Kamu kan sudah saya kasih tau, jangan buka pintunya," kata Mbah Tamin dengan nada marah.

Tiba-tiba Mbah Tamin mencengkeram leher Sri masih dengan berteriak, "Siapa yang kamu izinkan masuk? Di mana dia sekarang?!"

Dini pun mengatakan bahwa Mbah Tamin 'palsu' berada di kamarnya sejak malam sebelumnya. Dengan panik, Mbah Tamin pun menuju ke kamarnya, diikuti Sri dan Dini. Namun, tak ada siapapun dan apapun melainkan sebuah kamar yang berantakan dengan nisan tergeletak di ranjangnya.

Nisan berbahan kayu itu bertuliskan 'Atmojo', yang diketahui sebagai nama keluarga tempat mereka mengabdikan diri, Krasa Atmojo. 

Sri kemudian menceritakan kepada Mbah Tamin apa yang dilakukan sosok itu malam sebelumnya. Mendengar hal tersebut, Mbah Tamin pun mendekati Dela dan membelainya layaknya anak gadisnya sendiri.

Setelah hari itu, Mbah Samin mengatakan akan lebih sering keluar malam dan berpesan kepada Sri dan teman-temannya untuk tidak membukaka pintu rumah ketika hari sudah petang. Meski masih bertanya-tanya, ketiganya pun patuh dan melaksanakan apa yang diperintahkan.

Hingga pada suatu pagi, si Mbah belum pulang juga. Sri yang saat itu sedang mengurus Dela seperti biasa tiba-tiba berpikir apa yang ada di kamar Mbah Tamin. Selama itu, ia hanya melihat kamar Mbah Tamin dari luar.

Setelah beberapa saat melihat-lihat kamar Mbah Tamin, Sri menuju meja usang dengan laci kecil. Saat membuka laci itu, Sri terkejut lantaran terdapat pasak jagor (boneka isi rumput teki) dengan bentuk yang sudah sangat berantakan akibat dicabik dan ditusuk. Sri tahu boneka semacam itu sering digunakan untuk media santet.

Tak hanya boneka, ada pula cincin akik dengan batu merah, dan sebuah foto usang bertuliskan 'Keluarga Atmojo' di belakangnya. Melihat foto itu, Sri memekik ngeri karena terdapat figur Mbah Krasa dan seluruh anggota keluarganya. 

Sejak hari itu, setiap berpapasan dengan Mbah Tamin, perasaan Sri tidak tenang. Ia merasa Mbah Tamin memperhatikan gerak-geriknya.

Suatu malam, Mbah Tamin izin untuk pergi ke kediaman Mbah Krasa bersama Sugik, sopir yang mengantarakan Sri dan teman-temannya ke tempat itu. Mbah Tamin juga berpesan agar semuanya melaksanakan tugasnya dengan baik dan mengatakan ia mungkin akan pulang dua hari berikutnya.

Malam itu. Sri yang masih penasaran kembali memeriksa kamar Mbah Tamin. Namun, ia tidak menemukan apapun, termasuk di laci meja usang seperti hari sebelumnya. Saat ia mengecek ranjang Mbah Tamin, berharap menemukan petunjuk, tiba-tiba terdengar suara pintu tertutup dari belakang.

Sri berbalik dan terdiam menatap apa yang ada di depannya. Ia melihat Dela yang menatapnya dengan senyum menyeringai sambil berkata kepada Sri, "anak kecil berani sekali mencari masalah."

Dela melanjutkan bahwa ia baru menyadari ternyata tujuan Mbah Tamin membuka kerandanya tanpa mengikat tangan dan kakinya adalah untuk Sri. Ia kemudian mendekati Sri, melihat wajahnya yang ketakutan sambil tetap tersenyum.

Dela mengatakan jika Sri ingin mengetahui sesuatu, ia disuruh mencarinya di dalam tatanan batu yang berada di pohon beringin di sebelah timur gubuk itu. Setelah memberitahu Sri hal aneh itu, Dela kemudian kembali ke tempat tidurnya seperti semula. Sri yang masih ketakutan pun tak lupa menutup kerandanya lalu menuju ke kamarnya sendiri.

Pagi harinya, ketika Dini dan Erna beraktivitas seperti biasa, Sri diam-diam keluar rumah dan mencari pohon beringin yang dimaksud sosok di dalam tubuh Dela. Setelah berjalan ke timur pondok dan menelusuri hutan, akhirnya Sri menemukan sebuah pohon beringin besar di sekitar tanah lapang dan dikelilingi semak belukar. Di sana, Sri menemukan sebuah kuburan dengan batu bertuliskan nama yang familiar, 'Dela Atmojo'.

Entah apa yang Sri pikirkan, Ia langsung menggali tanah itu dengan apapun yang bisa ia gunakan. Ia kemudian menemukan kotak kayu jati yang setelah dibuka ternyata berisi boneka pasak jagor terlilit rambut hitam. Ia pun memutuskan untuk membawa boneka itu dan menyembunyikannya di lemarinya.

Pada malam hari itu, hal mengejutkan terjadi. Ketika itu, Sri melihat Dini sedang mengurus Dela seperti biasa. Ketika menuju ke kamarnya, Sri tercekat melihat Erna sedang melepas rambut hitam itu. Setelah itu, terdengar suara Dini yang berteriak kencang. Tiba-tiba Dela muncul dari kamarnya, menatap Sri dan Erna dengan senyum menyeringai, sebelum memuntahkan sesuatu, telinga yang terpotong. Sri kemudian melihat Dini menangis di kamar sambil memegang salah satu daun telinganya. 

Sementara itu, Dela menuju ke luar rumah dengan masih terdapat satu ikatan tali hitam di kakinya. Merasa menjadi penyebab masalah itu, Sri pun seorang diri mencari Dela di kegelapan hutan hanya bermodalkan lampu petromax.

Setelah menelusuri hutan mencari keberadaan Dela, Sri teringat sebuah tempat yang mungkin akan didatangi gadis itu, pohon beringin dengan kuburan bertuliskan 'Dela Atmojo'. Sesampainya di sana, Sri melihat Dela yang seakan sudah menunggunya, duduk menggoyangkan kakinya.

"Orang tua itu ternyata tidak bodoh ya. Percuma, aku tetap tidak bisa keluar dari hutan ini. Sudah dekat waktunya, sebentar lagi," kata Dela.

Kalimat terakhir Dela seperti memberi isyarat mengenai sesuatu. Namun Sri masih belum paham.

"Rambut yang dilepas temanmu kamu pikir apa?" tanya Dela lagi.

Sri berpikir itu rambut Dela dan kemudian ia memikirkan Erna yang melepaskan rambut itu dari bonek pasak jagor. Sri pun kembali ke rumah tanpa Dela masih takut memikirkan apa yang terjadi pada Erna. Dan benar saja, saat Sri tiba di rumah, Erna telah meninggal, dengan bibir dan hidung bersimbah darah, sama seperti boneka yang ia banting hingga kepalanya hancur.

Sri pun menjelaskan kepada Dini jika boneka terlilit rambut Dela tersebut adalah media untuk mencelakai gadis itu. Siapapun yang membuka lilitannya akan menerima konsekuensi atas santet yang menimpa Dela. Bila yang melakukannya orang biasa hanya mendatangkan kematian belaka. Sedangkan, bila pelaku adalah orang dengan weton yang sama dengan Dela, bisa meringankan beban santetnya. Sri menambahkan jika boneka itu pasti tak hanya satu.

Dini yang mendengar penjelasan Sri pun hanya diam kebingungan, Malam itu mereka lalui dengan akhir yang tragis.

 

Keesokan harinya, mobil Sugik datang. Mbah Tamin keluar terlebih dahulu, disusul Sugik yang menggendong Dela di punggungnya. Tampaknya mereka sudah tahu semuanya kecuali fakta bahwa Erna meninggal. Namun, ketika mendengar hal itu, wajah Mbah Tamin merah padam dan hanya mengatakan bahwa mereka harus membawa Erna pulang.

Mereka semua kemudian menuju kediaman Mbah Krasa. Di sana, Sri dan Dini menunggu lama sebelum akhirnya dipanggil menghadap Mbah Krasa. Keduanya mengatakan bahwa ingin mundur dari pekerjaan ini. Namun, niatan tersebut batal tatakala Mbah Krasa mengingatkan jika ia tidak akan menjamin nyawa mereka bila tetap ingin mundur.

Sri yang saat itu mempunyai kecurigaan tersendiri terhadap Mbah Tamin mengatakan kepada Mbah Krasa apa yang ia temukan di kamar pria tua itu. Bahkan, Sri menunjukkan boneka yang ia temukan di bawah pohon beringin, sebuah pesan dari Dela.

Mendengar hal itu Mbah Krasa pun tertawa dan memandang Mbah Tamin. Ia bertanya apakah Mbah Tamin belum menceritakan semuanya kepada Sri dan Dini. Mbah Samin kemudian merogoh sakunya dan mengambil boneka serupa, termasuk foto keluarga Atmojo. 

Mbah Tamin akan bercerita dengan catatan Sri dan Dela harus menuruti apapun yang dikatakannya. Jika tidak, nyawa keduanya tidak akan selamat, sama seperti Dela.

Mbah Tamin kemudian menceritakan jika santet yang menimpa Dela adalah Santet Sewu Dino (seribu hari). Santet jenis itu bisa membunuh garis keluarga besar melalui sukma anak atau keturunan terakhir. Tak hanya itu, ini adalah santet untuk para pendosan yang juga akan menghabisi keluarga pengirim santet. Sementara itu, media yang digunakan santet itu bermacam-macam, salah satunya dengan boneka yang dililit rambut korban. Nasib Dela ada di boneka tersebut.

Boneka yang ditemukan Sri adalah salah satu dari bonek yang ditemukan Mbah Tamin di rumah itu. Ia sengaja menanamnya di pohon beringin agar saat waktunya tepat bisa digunakan untuk meringankan beban sakit Dela. Keluarga pengirim santet saat itu masih mmencari Dela. Gadis itu belum bisa meninggal sebelum Banarogo bertemu Sengarturih.

Sengarturih sendiri merupakan sosok yang muncul jika Dela tidak diikat tali hitam. Sedangkan Banarogo adalah suami Sengarturih yang mencarinya. 

Mendengar penjelasan Mbah Tamin, Sri heran, ketakutan, dan seakan tak percaya. Ia masih curiga terhadap lelaki itu lantaran ada beberapa bagian yang tidak diceritakan. 

Ketika Sri sedang menyiapkan perbekalan yang akan ia bawa ke tempat di mana ia ditugaskan, ia melihat Dini berada di luar kamar. Dini berujar kepadanya bahwa salah satu dari mereka akan tetap bertahan hidup sampai semua itu selesai. Dini juga meminta maaf jika ia akan melakukan appaun untuk tetap bertahan hidup.

Melihat kebingungan Sri, Dini melanjutkan bahwa ia mendengar hal itu dari Dela. Sebelum telinganya putus, Dela sempat membisikkan sesuatu jika hanya satu dari mereka yang akan selamat untuk berbagi sari bunga dari sisa santet itu.

Mobil yang sudah beberapa saat dinantikan itu pun datang menjemput mereka. Setelah berpamitan Sugik, Sri dan Dini, menuju tempat di mana Dela disembunyikan. Namun, bukan di alas seperti sebelumnya, melainkan ke sebuah desa di luar kota.

Namun, Desa tersebut seakan seperti desa mati lantaran sejak tiba di sana, Sri belum melihat satu manusia pun selain mereka. Sampai di sebuah rumah, mobil itu berhenti. Di teras rumah itu, Mbah Tamin sudah menunggu, bersama Dela.

Sri dan Dini pun ngeri menyaksikan pemandangan itu. Dela berdiri persis di samping Mbah Tamin dan tersenyum kepada mereka. Setelah ketiganya turun dari mobil, Dela, masih dengan wajah ramah mengulurkan tangannya yang disambut oleh Sri, "Mbak Sri ya? Terima kasih sudah mau menerima pekerjaan ini." Dela juga melakukan hal yang sama kepada Dini.

Mereka semua kemudian masuk ke rumah. Rumah tersebut jauh lebih besar dibanding gubuk yang sebelumnya. Sri kemudian ditunjukkan di mana ia akan tidur yang tidak lagi satu kamar dengan Dini. Mbah Tamin juga berpesan kepada Sri untuk tidak lupa mengunci pintu jika sudah pukul 12 malam.

Namun, malam itu terdengar suara ketukan di pintu yang ternayta adalah Dela. Lama ia memanggil Sri untuk membukakan pintu yang tak digubris sama sekali. Kemudian terdengar gebrakan di pintu diiringi suara teriakan yang Sri kenal, "Anak bodoh! Nyawamu itu sampai mana sih? Tak kasih tahu, Jumat Kliwon. Pikirkan itu, pikirkan!"

Pagi harinya Dini bercerita kalau dirinya juga dihampiri oleh Dela. Ia diberitahu Mbah Tamin jika setiap malam, Dela pasti kumat.

Mbah Tamin kemudian memanggil Sri dan Dini. Ia menyuruh mereka mengikutinya ke kamar. Di kamar itu, Mbah Tamin menyuruh Dini duduk di depannya dan mengatakan bahwa ia akan melihat kebun tebu. Di sana Dini disuruh mencari seseorang dan mengikutinya sampai ia duduk di sebuah tempat. Setelah itu Mbah Tamin meminta Dini meminum air degan hijau. Ia sendiri memijat-mijat kepala Dini sambil mengusap asap kemenyan. Setelah itu, ia menghantam kepala Dini dengan telapak tangan, dan Dini tersungkur pingsan.

Mbah Tamin kemudian berpesan kepada Sri untuk menjaga Dini dan kemudian pergi. Semakin malam Dini semakin kacau. Lalu tiba-tiba ia berteriak, "Bapaknya melihatku, bapaknya melihatku, aku dikejar, aku dikejar."

Badan Dini terasa panas sekali. Tak berselang lama, Mbah Tamin muncul dan 'menyadarkan' Dini. Ia membawa Dini keluar dan menyuruh Sri kembali ke kamarnya.

Malam itu, Dela datang ke kamar Sri dan berkata jika nyawa Sri berada di tangan Mbah Tamin. Namun, jika Sri mau menuruti apa kata Dela, yakni membakar payung orang meninggal (pendusan), ia akan selamat.

Dan benar, hari berikutny, ketika Mbah Tamin dan Dini sedang tidak ada di rumah, Sri mencari 7 buah payung pendusan yang berada di rumah itu lalu membakarnya satu per satu. Sebelum membakar payung terakhir, Sri tiba-tiba tersadar dan berlari menjauhi Dela. Namun, saat Dela menangkap dan memukuli Sri, Mbah Krasa tiba-tiba datang dan menyuruh Sri masuk ke kamarnya. Di dalam kamar Sri, terjadi dialg antara Mbah Krasa dan Sri. Sri mengatakan jika ia sudah tahu bahwa Jumat Kliwon buknalah weton Dela, tetapi weton orang yang menyantet Dela.

Esok harinya, Mbah Tamin dan Dini sudah pulang. Mereka semua kemudian berkumpul dengan menghadapi sebuah kotak berisi pasak jagor -boneka santet yang dililit rambut korban- di tengah meja. Lalu, sebuah ritual digelar setelah rambut Sri dan Dini dipotong untuk dililitkan pada boneka. Dalam ritual itu, Sri, Dini, dan Dela masing-masing duduk di dalam sebuah lubang dengan tangan dan kaki terikat.

Sri merasakan darah kental mengenai tubuhnya, mendengar jeritan suara Dini dan Dela, hingga merasa tubuhnya tercabik-cabik. Ia juga merasa seakan nyawanya ditarik sebelum melihat melihat rentetan kejadian seperti mimpi. I

a melihat Dela selama ini menggendong wanita berperut buncit tak berkaki yang juga sering menjilati borok dan luka Dela selama ia dikurung di keranda bambu kuning. ia juga melihat sosok lelaki mirip Mbah Tamin yang datang malam itu hanya datang mengacak-acak kamar si mbah tanpa menemukan apa yang ia cari. Lelaki itu juga diikuti makhluk berkaki panjang, nyaris dua kali tinggi si lelaki, Banarogo. Sri kemudian tersadar dan melihat Dela juga Dini berlumuran darah seperti dirinya.

Setelah membersihkan diri, Sri diantarkan Mbah Krasa menuju ke kamarnya. Namun, ketika Mbah Krasa ingin meninggalkan kamar Sri, Sri bertanya sebenarnya yang jahat si pengirim santet atau mbah krasa.

Sri pun berbicara panjang lebar mengenai apa yang ia sadari: Kuncoro adalah nama keluarga yang telah dihabisi, lalu untuk membalasnya ia sampai menggadaikan nyawanya agar keluarga Mbah Krasa menerima balasannya;  Sengarturih dan Banarogo adalah peliharaan Mbah Krasa untuk menghabisi semua keluarga Kuncoro, tetapi keturunan terakhir keluarga Kuncoro berhasil menangkap Banarogo dan menggunakannya agar Sengarturih bisa menyiksa Dela.

Mendengar ucapan Sri, Mbah Krasa pun tersenyum lalu tertawa. Ia lantas mengatakan bahwa semua manusia itu sama, tidak tertebak, punya tujuannya masing-masing dan bertanya kepada Sri, "Sekarang, saya tanya kamu, masih mau ikut saya atau tidak?"

Sri mentap mengatakan ia ingin berhenti dan pamit pulang. Lalu diantarnya ia ke mobil untuk diantarkan pulang oleh Sugik, snag sopir yang tempo hari mengantarnya ke gubuk tengah hutan.

Di tengah perjalanan, Sugik menghentikan mobil dan bercerita jika dirinya dulu bekerja di keluarga Kuncoro. Ia menyaksikan sendiri bagaimana keluarga tersebut menantang keluarga Atmojo hingga satu per satu anggota keluarga Kuncoro meninggal karena penyakit aneh.

"Tapi ada yang tidak diketahui Keluarga Kuncoro, aku yang menanam Pasak Jagor di rumah keluarga Kuncoro," kata Sugik.

"Mbah Tamin yang memaksaku, kau tidak anak istriku yang akan menerima kiriman dari beliau," lanjutnya.

Itu adalah hari terakhir Sri berhubungan dengan Keluarga Atmojo. Hingga sebulan kemudian ada seseorang mengetuk rumah Sri. Bapak Sri pun pergi keluar untuk membukakan pintu. Namun, ia menemukan sebuah kresek hitam berisi uang. Sri tahu, uang itu sengaja ditinggalkan di rumah itu.

Tanpa pikir panjang, ia membuang uang itu ke tempat sampah dan mengatakan kepada Bapak agar tidak mengambilnya lagi bila tak ingin terjerat dalam lingkaran keluarga Atmojo.

(Selesai).


tags: #twitter #film horor #kkn di desa penari #sewu dino #simpleman

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI