Foto istimewa.

Foto istimewa.

21 Mei, 24 Tahun Lalu Presiden Soeharto Umumkan Pengunduran Dirinya

Presiden Soeharto memanggil sembilan tokoh ke Istana Negara.

Sabtu, 21 Mei 2022 | 13:36 WIB - Langkah
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

HARI ini, pukul 09.00 WIB, tepatnya 24 tahun lalu di Istana Negara, Presiden kedua RI HM Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya. Saat menyampaikan itu, Presiden Ketiga RI BJ Habibie turut mendampingi dan berada di samping kiri "The Smiling General".

"Saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden RI, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini pada hari ini, Kamis, 21 Mei 1998," kata Presiden Soeharto, saat itu.

BERITA TERKAIT:
Peringati 8 Juni: Hari Lahir Soeharto, Ini Dua Tempat Favorit Bertapanya Hingga Peroleh Wangsit Jadi Presiden
Empat Presiden Indonesia yang Lahir di Bulan Juni
21 Mei, 24 Tahun Lalu Presiden Soeharto Umumkan Pengunduran Dirinya
Sejarah Supersemar, Surat Sakti yang "Memaksa" Orde Lama Tumbang 
Perihal Jokowi Tak Cantumkan Nama Soeharto dalam Keppres, Pakar; Sejarah Ditulis Penguasa 

Usai pengumuman itu, maka berhentilah Orde Baru yang berjalan selama 32 tahun dan digantikan dengan Orde reformasi.

Sebelum mengumumkan pengunduran diri, sejumlah peristiwa genting melanda sejumlah wilayah di Indonesia. 

Pada tanggal 12 Mei mahasiswa Trisakti menggelar aksi demonstrasi, pada awalnya demo berjalan kondusif namun kemudian berubah menjadi peristiwa berdarah. Ada empat mahasiswa Trisakti tewas dalam aksi itu. 

Kala itu aparat menembaki massa yang menuntut reformasi secara membabi buta. Sayangnya hingga saat ini kasus pertanggungjawaban tewasnya empat mahasiswa tersebut belum tuntas. Tragedi Trisakti tersebut kemudian menjadi pemicu puncak gerakan konsolidasi mahasiswa.

Usai Peristiwa Trisakti sejumlah daerah memanas, pada tanggal 13 Mei kerusuhan terjadi di beberapa wilayah.

Tanggal 14 Mei penjerahan terjadi di beberapa pusat perbelanjaan di Jabodetabek, beberapa bangunan dirusak serta dibakar sehingga kondisi kota Jakarta saat itu semakin menakutkan.

Kerusuhan juga merembet hingga ke Solo, pada hari yang sama. Api menyala dimana-mana, ratusan Toko, kendaraan dan sejumlah fasilitas umum dibakar Massa. 

 

Aksi kekeran yang terjadi pada bulan Mei 1998, menurut laporan TGPF yang saat itu dipimpin oleh Marzuki Darusman, mendengar kesaksian langsung dari 3 korban pemerkosaan. Sekitar 10 kesaksian dari keluarga korban juga memperkuat fakta yang ada. 

Selain itu, TGPF juga menemukan variasi jumlah dari korban tewas dan luka-luka. Data Tim Relawan 1.190 orang meninggal akibat terbakar atau dibakar, 27 orang akibat senjata/dan lainnya, 91 luka-luka, data Polda 451 orang meninggal, korban luka-luka tidak tercatat.

Pada tanggal 17 Mei, budayawan Emha Ainun Nadjib menggalang pertemuan dengan para tokoh di Hotel Wisata. Salah satu tokoh yang hadir di pertemuan itu, Nucholish Madjid. 

Pada tanggal 20 Mei, Presiden Soeharto usai melakukan kunjungan dari Mesir mencoba membentuk Komite reformasi untuk menjawab tuntutan mahasiswa. 

Saat itu, Presiden Soeharto memanggil sembilan tokoh ke Istana Negara, mereka adalah Abdurrahman Wahid (Presiden Keempat RI), Emha Ainun Nadjib, Nucholish Madjid, Ali Yafie, Malik Fadjar, Cholil Baidowi, Sumarsono, Achmad Bagdja, dan Ma'aruf Amin (Wakil Presiden saat ini).

Pertemuan itu juga dihadiri oleh Yusril Ihza Mahendra juga hadir, meski tak diundang, karena diajak Nurcholish.

Sembilan tokoh yang diundang tersebut, ternyata mereka menolak menjadi anggota Komite reformasi.

Setelah itu, pagi harinya tanggal 21 Mei Presiden Soeharto menyampaikan pidato kenegaraan terakhirnya di credential room Istana Negara. Pidato itu berisi pengunduran dirinya.

"Dalam keinginan untuk melaksanakan reformasi dengan cara sebaik-baiknya tadi, saya menilai bahwa dengan tidak dapat diwujudkannya Komite reformasi, maka perubahan susunan Kabinet Pembangunan VII menjadi tidak diperlukan lagi. Dengan memperhatikan keadaan di atas, saya berpendapat sangat sulit bagi saya untuk dapat menjalankan tugas pemerintahan negara dan pembangunan dengan baik," ucap Presiden Soeharto dalam pidatonya.


 


tags: #soeharto #reformasi #emha ainun nadjib #bj habibie

Email: redaksi@kuasakata.com

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI