Ternyata Ada Suku di Indonesia yang Korea Banget! Orang-orangnya Pintar Nulis Aksara Hangeul 

“Murid-murid sekolah di sini belajar menulis huruf Hangeul, dan di SMA juga ada pejaran bahasa Korea,”

Sabtu, 08 Juni 2024 | 10:56 WIB - Langkah
Penulis: Issatul Haniah . Editor: Fauzi

Dari ribuan suku di Tanah Air, ada Suku Cia-cia yang memiliki keistimewaan. Bagaimana tidak, orang-orang dari Suku Cia-cia pintar menulis huruf-huruf Korea alias Aksara Hangeul

Suku Cia-cia Pulau Buton, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara. Tahun 2005, ada sekitar 80 ribu jiwa Suku Cia-cia bermukim di Kelurahan Karya Baru yang berjarak sekitar 20 kilometer ke arah timur Kota Baubau.

BERITA TERKAIT:
Ternyata Ada Suku di Indonesia yang Korea Banget! Orang-orangnya Pintar Nulis Aksara Hangeul 
Bocah Ini Kehilangan Satu Kaki Setelah Ditebas Parang oleh ODGJ
Sebanyak 15 Orang Meninggal akibat Tenggelamnya Kapal Penyeberangan di Buton Tengah

Di sana warga kampung, dari anak kecil hingga dewasa, sudah pintar menulis dengan huruf-huruf Korea

Huruf ini pun digunakan sebagai petunjuk tempat-tempat umum di Karya Baru. Beberapa nama jalan atau plang sekolahan, selain ditulisi nama resmi versi bahasa Indonesia dengan aksara Latin, juga dilengkapi dengan tulisan berhuruf Korea.

Hampir semua Suku Cia-cia juga menggunakan aksara Hangeul untuk berkomunikasi secara tertulis di antara mereka. Namun, bahasanya tetap bahasa asli mereka sendiri. 

“Murid-murid sekolah di sini belajar menulis huruf Hangeul, dan di SMA juga ada pejaran bahasa Korea,” kata Abidin, salah satu guru SMA Negeri 6 Baubau yang asli warga Cia-Cia.

 

Awal mula Suku Cia-cia mengenal aksara dari “Negeri Ginseng” itu terjadi sekitar awal tahun 2000-an. Ketika itu, Wali Kota Baubau yang dijabat oleh MZ. Amirul Tamin tergerak hatinya ketika mendengar pernyataan Wakil Presiden Jusuf Kalla, yang menyebut beberapa bahasa daerah di Indonesia terancam punah.

Pada 2005, bekerja sama dengan Masyarakat Pernaskahan Nusantara (Manassa), pemerintah kota kemudian menggelar “Simposium Internasional Pernaskahan Nusantara” di Baubau. 

“Salah satu yang hadir itu seorang guru besar asal Korea, Prof. Chun Thay Hyun. Ia tertarik dengan paparan tentang keragaman bahasa dan adat istiadat di wilayah bekas Kesultanan Buton ini,” Amirul bercerita.

Prof. Chun Thay Hyun lalu menyempatkan waktu untuk melakukan penelitian di Cia-Cia karena wilayah ini belum memiliki alfabet sendiri, serta adanya kesamaan pelafalan dan struktur bahasa dengan Korea

Tiga tahun kemudian, sebuah organisasi kemasyarakatan dari Korea Hunminjeongeum Research Institute datang ke Buton atas saran Prof. Chun Thay Hyun.

Pemerintah Kota Baubau kemudian bekerja sama dengan Hunminjeongeum Research Institute untuk menyusun bahan ajar kurikulum muatan lokal mengenai bahasa Cia-Cia dengan huruf Korea. Huruf ini mulai dipelajari dari tingkat SD hingga SMA. Sejak saat itulah nama Cia-Cia populer di Korea, Jepang, bahkan sampai ke Inggris dan Amerika.

Amirul memaparkan, berkat aksara Hangeul itu, kini telah dibuat naskah bahasa Cia-Cia dalam tiga terjemahan, yakni Indonesia, Inggris, dan Korea. Setelah semua usaha ini tercapai, Amirul yakin bahwa dengan adanya sistem penulisan ini, bahasa Cia-Cia akan tetap lestari.


 

***

tags: #buton #suku cia-cia #korea #hangeul

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI