Mengapa Menikah di Bulan Suro Dilarang? Ini Penjelasannya

Larangan tersebut dinilai memiliki alasan. Masyarakat Jawa tidak ingin bulan Suro dijadikan bulan untuk bersenang-senang.

Sabtu, 06 Juli 2024 | 13:30 WIB - Kejawen
Penulis: - . Editor: Hani

Bulan Suro atau Asyuro selalu identik dengan hal-hal mistis. Bahkan banyak pantangan yang dipercaya masyarakat Jawa untuk tidak mengadakan acara di bulan Muharram ini, salah satunya mengadakan pernikahan

Larangan tersebut dinilai memiliki alasan. Masyarakat Jawa tidak ingin Bulan Suro dijadikan bulan untuk bersenang-senang. Termasuk pernikahan yang identik dengan pesta besar. Terlebih, masyarakat Jawa terkenal dengan kaidah sopan santunnya. 

BERITA TERKAIT:
Mengapa Menikah di Bulan Suro Dilarang? Ini Penjelasannya
Siap-siap! Dieng Culture Festival 2022 Bakal Digelar September

Jika menggelar pesta atau bersenang-senang pada Bulan Suro dirasa kurang sopan kepada leluhur. Jadi, waktu yang ada lebih baik digunakan untuk berprihatin atau meratapi kisah-kisah besar di balik Bulan Suro

Selain itu, secara filosofis, tidak mengadakan pernikahan di bulan Muharram karena dianggap oleh masyarakat sebagai simbol penghormatan terhadap kisah-kisah agung yang terjadi bertepatan dengan Bulan Suro atau Muharram. 

Salah satu kisah agung yaitu peristiwa pembantaian 72 anak keturunan Nabi dan pengikutnya, yang ditandai dengan gugurnya Sayyidina Husein atas restu Khalifah Yazid bin Mu'awiyah.

Dikutip dari situs resmi Nahdlatul Ulama (NU), Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Marzuki Mustamar mengungkapkan filosofi tradisi pelarangan menggelar pesta pada bulan Asyura atau bulan Muharram. Larangan itu untuk menghormati keluarga Rasulullah SAW yang berduka.

"Dilarangnya menggelar pesta atau acara besar pada bulan Asyura adalah bagian dari adab kita terhadap habaib. Pada bulan itu, ahlul bait termasuk para habaib sedang berduka,"ungkapnya.

Ia menambahkan, Muharram merupakan bulan prihatin bagi anak cucu Rasulullah SAW. Sebab, cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Husain bin Ali bin Abi Thalib mengalami pem-bully-an hingga terbunuh. Sehingga Asyura dianggap bulan duka. 

Menurutnya, kiai Jawa ingin menghormati dan menjaga hati ahlul bait dan habaib, sampai-sampai membuat aturan untuk tidak mengadakan pesta atau acara besar di bulan Asyura. Umat Islam tidak pantas bersenang-senang saat mengingat wafatnya Husain.

Sedangkan menurut dosen Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (UI), Sunu Wasono mengatakan, larangan menikah di Bulan Suro dianggap sebagai mitos oleh sebagian masyarakat.  

Namun, sebagian masyarakat Jawa meyakini larangan tersebut, bukan sebagai mitos.

"Boleh juga dibilang mitos, tapi bagi orang Jawa yang masih setia atau konsisten kepada keyakinannya, larangan itu tak dianggap mitos. Mareka menganggap hal itu sebagai pedoman,”terangnya. 

 

Sementara, pengamat budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Bani Sudardi menuturkan, pada umumnya orang Jawa salah dalam menganggap larangan menikah sepanjang Bulan Suro.  

Menurutnya, berdasarkan perhitungan primbon selaki rabi, pada dasarnya setiap  bulan diperbolehkan menikah. Namun, memang ada beberapa tanggal dan hari yang dianggap sebagai pantangan.  

“Pada umumnya orang Jawa salah kaprah menganggap Bulan Suro sebagai bulan yang celaka. Mereka tidak menggunakan petungan tetapi menggunakan ilmu yang oleh orang Jawa disebut sebagai ilmu gudel bingung atau ilmu anak kerbau yang bingung, artinya orang yang tidak menggunakan perhitungan-perhitungan yang semestinya,” terangnya.

Misalnya, setiap bulan yang tidak memiliki hari anggoro kasih atau Selasa Kliwon maupun Jumat Kliwon, maka dianggap sebagai bulan sial. Jadi, orang tidak boleh menikah atau melakukan kegiatan-kegiatan penting lain.  

Khusus Bulan Suro, terdapat tanggal-tanggal tertentu yang dianggap pantangan untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Meliputi, Bulan Suro tanggal 17, 27, 11, dan 14 pada hari Rabu Pahing dilarang melakukan pernikahan karena akan banyak godaan.  

Kemudian, hari Sabtu dan Minggu Bulan Suro dilarang melakukan pernikahan karena termasuk larangan. Begitu pula dengan tanggal 13 Bulan Suro juga dilarang melakukan pernikahan karena saat itu merupakan waktu ketika Nabi Ibrahim dibakar oleh Raja Namrud. 

Terakhir, Bulan Suro pada tanggal 11 dan 6 dianggap sebagai tanggal naas, sehingga dilarang menggelar hajatan.  

“Jadi, di dalam tradisi Jawa selain pada tanggal dan hari-hari tersebut di atas pada Bulan Suro tetap boleh melakukan pernikahan,” kata Bani. 

Artinya, sebenarnya dalam tradisi Jawa larangan-larangan itu tidak hanya pada Bulan Suro tetapi pada bulan-bulan lainnya tetap ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar,”katanya. 

Di lain sisi, sebagian masyarakat Jawa masih mempercayai hitungan hari atau bulan baik dan tidak baik dalam melakukan berbagai kegiatan, terutama kegiatan penting seperti pernikahan.  Adapun, hitungan hari atau bulan baik dan tidak baik dalam dilihat pada primbon. Namun, tidak semua masyarakat Jawa memahami serta menganut kepercayaan primbon ini.  

“Umumnya, orang Jawa tidak memilih Bulan Suro untuk menyelenggarakan pesta pernikahan. Masyarakat Jawa mengenal hari baik (cocok) dan hari tidak baik (tidak cocok) dalam melaksanakan berbagai kegiatan,”jelasnya.

Ia menambahkan, larangan menikah di Bulan Suro muncul lantaran bulan tersebut dianggap sebagai bulan para raja dalam adat istiadat Jawa. Seperti diketahui, masyarakat Jawa secara umum terdiri golongan bangsawan atau raja dan golongan masyarakat biasa.  

“Bagi golongan bangsawan, pada Bulan Suro itu diizinkan untuk mengadakan pernikahan. Tapi, bagi masyarakat kebanyakan pada Bulan Suro itu dilarang untuk mengadakan pernikahan karena itu dianggap sebagai sasine ratu, atau bulannya para raja. Selain itu, Bulan Suro merupakan masa peralihan tahun dalam tradisi Jawa. Sementara, masyarakat Jawa percaya bahwa pada masa transisi tersebut dilarang melakukan aktivitas. Untuk masa harian, orang dilarang melakukan akitivitas pada tengah hari atau pada senja hari, karena saat itu merupakan masa batara kala atau tempat batara kala mencari makan,”pungkasnya.

*Ditulis oleh wartawan magang Rahardian Haikal Rakhman

***

tags: #bulan suro #mistis #dilarang #pernikahan

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI