Pemilik Burjo Boim Iim Ibrahim, Foto: Istimewa

Pemilik Burjo Boim Iim Ibrahim, Foto: Istimewa

Boim, Burjo, dan Jalan Panjang Wujudkan Mimpi

Burjo pertamanya hanya bertahan setahun.

Rabu, 15 Juli 2020 | 11:04 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Nama aslinya adalah Iim Ibrahim, tetapi orang-orang di sekitarnya lebih sering memanggil dengan sebutan Boim. Laki-laki yang lahir di Kuningan ini sangat berambisi merintis usaha burjo (bubur kacang ijo) sendiri. Alasannya sederhana. Di kampungnya, kebanyakan berjualan burjo atau warmindo (warung makan indomi).

“Motivasi saya buka burjo karna lingkungan kampung saya rata-rata pada jualan burjo atau warmindo dan tersebar di beberapa kota.” ujarnya saat ditemui Tim KUASAKATACOM.

Pilihan Mahasiswa Unnes

“Di Burjo Boim itu sering digunakan untuk rapat beberapa organisasi kampus karena punya lahan yang luas dan nyaman untuk diskusi,” ungkapnya.

Burjo yang terletak di Jalan Patemon ini terkenal merakyat dan tempatnya luas. Tak heran menjadi pilihan mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) untuk melakukan berbagai kegiatan. Tak sekedar menjadi tempat makan, mahasiswa memilih ke Burjo Boim apabila mengadakan rapat organisasi, diskusi, konsolidasi, maupun yang lainnya.  Dengan kata lain, selalu ramai dan dipenuhi mahasiswa.

Sejarah Pendirian

Tidak banyak yang tahu bahwa Burjo Boim bukanlah burjo pertama yang Boim dirikan. Ia mengatakan Burjo Boim adalah burjo kelima setelah keempat warung makan yang ia rintis sebelumnya mengalami kegagalan.

“(Di) Unnes itu burjo yang kelima,” ucapnya.

Perjalanannya dimulai di ibukota Jakarta pada tahun 2005 Boim mendirikan burjo yang hanya berhasil ia pertahankan selama setahun saja. Seperti kebanyakan orang yang mengalami kegagalan pertama, dirinya merasa putus asa. Kemudian ia beralih profesi menjadi kuli bangunan.

“Awalnya belum di Semarang. Pertama itu di Jakarta sekitar tahun 2005/2006. Cuma bertahan satu tahun, terus saya berhenti, sempat putus asa kerja bangunan,”

Lambat laun, atas dorongan dari keluarganya dan keinginannya untuk merintis usaha burjo, Boim mendirikan tempat makan kembali pada tahun 2008. Cirebon ia pilih sebagai kota yang tepat untuk merintis usaha ini. Akan tetapi, sama dengan burjo di kota sebelumnya, usaha yang ia rintis di Kota Cirebon ini juga hanya bisa dipertahankan selama satu tahun.

Boim kemudian bekerja dengan temannya yang telah merintis usaha burjo di daerah Purwokerto, sekitar kampus Universitas Jendral Soedirman (Unsoed) pada tahun 2009. Ia bekerja sebagai karyawan di burjo tersebut selama dua tahun, kemudian memutuskan berhenti. Ia kembali membuka usaha burjo di daerah Sleman, tepatnya di jalan Monjali setelah memiliki cukup modal dan bekal pengalaman sebelumnya. Nyatanya, usaha ke tiga ini gagal kembali, keberuntungan belum bisa berpihak kepada dirinya.

Pada awal 2012 Boim diajak oleh kakaknya untuk berjualan di kota Semarang, tepatnya di daerah Universitas Negeri Semarang. Mulai tertarik kembali untuk membuka burjo sendiri, Boim pun mencoba mencari rekan dan akhirnya membuka usaha burjo berlokasi di Gang Pete Selatan. Burjo keempat ini bertahan selama lebih dari tiga tahun. Tetapi ambisinya mengharuskan dirinya untuk bisa lebih dari yang ia capai.

”Ambisi saya harus bisa lebih dari ini, sekitaran 2016 saya buka warung sendiri dengan nama panggilan saya yaitu Burjo Boim,” tegasnya.

Dari awal berdiri hingga sekarang, Burjo Boim masih tetap ramai.

Gali Lubang Tutup Lubang

Merintis usaha kembali setelah berkali-kali gagal tidak hanya membutuhkan kekuatan mental. Melainkan juga materi berupa uang sebagai modal awal. Boim gali lubang tutup lubang untuk mewujudkan keinginannya. Alih profesi pada jeda usaha satu dengan yang lainnya ia tuturkan semata-mata untuk menambah modal atau untuk melunasi hutangnya. Boim mengatakan setelah hutangnya lunas, ia pinjam kembali dan memulai usaha yang baru.

“Tetap saya ngutang, gali lubang tutup lubang dan tambahannya sebagian dari orang tua. Saya kerja ikut orang buat beresin utang, udah beres saya pinjam lagi dan bikin usaha lagi,” tuturnya.

Berbuah Manis

Setelah melalui perjalanan yang begitu panjang, Boim yang kini sibuk berjualan di burjonya sendiri. Berkali-kali dirinya mengucapkan syukur kepada Tuhan atas nikmat yang ia rasakan saat ini. Ia mengaku bisa menyenangkan diri sendiri dan juga keluarga yang telah mendokannya selama ini.

”Manisnya, alhamdulillah banyak banget, kondisi pandemi sekarang ya tetep bersyukur apapun kondisinya. Yang berkesan alhamdulillah sekarang udah bisa nyenengin keluarga dalam hal apapun karna berkat doa mereka semua saya jadi begini,” jelasnya.

Berkat keberhasilan Burjo Boim ini, ia mampu membeli beberapa bidang sawah. Ia memilih membeli beberapa bidang sawah karena dirinya bersama istri berprinsip di hari tua nanti bagaimana caranya uang bisa datang sendiri tanpa dicari lagi.

Harapan 

Ditanya terkait harapannya, Boim mengaku ada rencana untuk membuka cabang. Tetapi masih menunggu waktu yang tepat untuk merealisasikannya. Ia pun berharap usahanya berkah untuk dirinya, keluarga, dan karyawannya.

“Insyaallah ada rencana untuk membuka cabang tetapi masih menunggu waktu yang tepat juga. Harapan saya semoga para pelanggan tidak kecewa dengan pelayanan kami, hasil yang kami dapat semoga berkah dan bisa bermanfaat untuk keluarga saya pribadi, karyawan dan keluarga karyawan,” pungkasnya.

*Ditulis oleh Restudefa, reporter magang KUASAKATACOM


tags: #unnes #usaha #burjo boim

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI