Pemilik Tahuku Fadil Fadluloh, mahasiswa PJKR Unnes 2016

Pemilik Tahuku Fadil Fadluloh, mahasiswa PJKR Unnes 2016

Fadil, Tahuku Unnes, dan Prinsip Berwirausaha

Ketika berwirausaha, Fadil menilai usaha tersebut dapat membantu orang lain.

Senin, 20 Juli 2020 | 11:31 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Tahuku Unnes menjadi salah satu jajanan yang paling diburu mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Perintisnya adalah Fadil Fadluloh, mahasiswa PJKR Unnes angkatan 2016. usaha yang berlokasi di Sekaran ini selalu ramai setiap sore hingga malam hari. Penjualnya berganti-ganti. Bergantung dengan jadwal kuliah dan kesibukan karyawan Tahuku Unnes.

“Di sini yang kerja ada tujuh orang, gonta-ganti, tujuan usahaku nggak cuma untung di aku doang, tapi juga ke orang lain,” ujar Fadil saat ditemui TIM KUASAKATACOM beberapa waktu lalu.

Bukan usaha Pertama

mahasiswa asal Purbalingga ini memutuskan memulai usaha saat dirinya berada di semester dua naik ke semester tiga. Ketika itu libur kuliah hampir tiga bulan lamanya. Ia tidak langsung memilih berjualan tahu. Tetapi lebih tertarik berjualan minuman.

“Awal mula usaha itu di Purbalingga, bukan usaha tahu tetapi aku bikin usaha susu milkshake,” ujarnya.

Berkat keaktifan Fadil dalam mengikuti beberapa kegiatan seminar, dirinya menemukan partner dan memutuskan untuk memulai usaha bersama di Unnes.

 “Sudah berjualan milkshake selama beberapa bulan, aku ikut event organizer dan seminar-seminar, ketemu sama teman di Unnes, dan tercetuslah untuk usaha di Unnes. Karena di samping susu milkshake Purbalingga itu ada usaha tahu, akhirnya aku franchise ke sana, buka di sini, di Unnes,” paparnya.

Metamorfosis Tahuku Unnes

tahu

Modal awal untuk memulai usaha diakui Fadil menggunakan uang yang ia dimiliki, tanpa harus berhutang.

“Aku dari orang tua kan dikasih modal untuk daftar polisi, karena sempat tes dan gagal, akhirnya tak pake dulu buat usaha. Tapi alhamdulillah sekarang udah keganti,” ucapnya.

Ia mengatakan, awal berbisnis tahu menggunakan gerobak kayu sederhana yang tidak dilengkapi tempat penggorengan. Sehingga proses penggorengan tahu dilakukan di bawah. Namun sekarang, gerobak yang digunakan untuk berjualan bukan dari kayu lagi. Proses menggoreng tahu pun sudah bisa dilakukan di gerobak.

“Sekarang lebih higienis,” tukasnya.

Untuk kemasan, Fadil mengatakan pada awal usaha memakai plastik kresek biasa seperti berjualan gorengan pada umumnya.

“Saya mencoba membuat desain logo sendiri terus akhirnya bikin nama Tahuku itu, bikin packing dusnya, dan dimasukin di Gofood, alhamdulillah brannya naik lah,” ujarnya.

Ia mengungkapkan terdapat proses dalam menciptakan cita rasa Tahuku. Hingga ahirnya memiliki ciri khas seperti sekarang ini. Di awal berbisnis, bahkan tekstur tahunya sangat keras.

“Awal dulu tahu itu rasanya belum bagus, dulu sampai kaya batu. Belum kena krispinya, karyawanku pernah bilang ‘Mas aku pernah beli tahunya kamu buat jenguk temenku yang lagi sakit, tapi temenku makan itu malah giginya sakit’ gitu,” ungkapnya sambil tertawa.

Dari Hinaan Berujung Jutawan

Sempat dihina oleh teman-temannya, ia memaksakan dirinya untuk memperbanyak sabar serta semakin bekerja keras supaya usahanya bisa berhasil dan sukses. Hingga ia diakui oleh teman-temannya.

“Awal kuliah tetep riweh, dihina tahu-tahu-tahu sama teman-teman saya. Setelah berjalannya waktu, orang yang suka hina saya sekarang jadi suka bilang ke teman-temannya ‘itu lho, usaha tahu itu punya temenku’, jadi usahanya wah banget, susah diawal gitu,” tuturnya.

Berbicara pendapatan, Fadil mengaku omzetnya semula hanya Rp150-200 ribu per hari dengan modal Rp50 ribu. Namun kini pendapatannya terbilang fantastis.

“Kalau sekarang sebelum pandemi ini ya lumayan, ya nginjak Rp1 juta per hari. Kalo pandemi sekarang ya Rp6-7 ratusan,” ujarnya.

Ketika ditanya perihal pencapaian terbesar yang ia dapat dari Tahuku, Fadil mengaku bisa membeli ruko di samping tempatnya berjualan. Di ruko tersebut, ia mendirikan sebuah angkringan. Tak hanya itu, sebagian keuntungan yang ia dapat bisa membantu membayar biaya kuliahnya.

“Pencapaian terbesar, uangnya masih tak buat muter, jadi ya akhirnya bisa buat angkringan ini sih. Bisa buat usaha lain.” tuturnya.

Langkah ke Depan

Saat ini Fadil sudah open franchise dengan bran “Tahu-Q” di Pekalongan. usaha susu milkshakenya di Purbalingga pun sudah memperkerjakan karyawan walaupun tidak sebanyak karyawan Tahuku Unnes. Kini, ia masih memikirkan bagaimana membuat suatu manajemen untuk memudahkannya ke depan.

“Ini kan udah bisa berjalan, pikirku nanti tak bikin manajemen yang bisa ngurus di sini, ibaratnya mau bikin lebih gede, open franchise, nanti tinggal ngontrol,” ucapnya.

Dirinya menutup pembicaraan dengan kalimat yang dijadikannya prinsip dalam merintis usaha. “Ketika kita jadi pekerja ya cuma untuk diri kita sendiri, tetapi ketika kita usaha, dan usaha kita bisa berkembang kan bisa bantu orang,” pungkasnya.

*Penulis adalah Restudefa, reporter magang KUASAKATACOM


tags: #unnes #mahasiswa #usaha #tahuku #fadil

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI