Enggar Sujati dan keluarganya

Enggar Sujati dan keluarganya

Enggar, Pikiran Positif, dan Usaha “Stay Clean and Stay Cool”

Enggar memutuskan berhenti dari kantor tempatnya bekerja agar dapat fokus berwirausaha.

Selasa, 18 Agustus 2020 | 12:42 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Memiliki usaha sendiri menjadi dambaan setiap orang. Terlebih jika usaha tersebut mampu berkembang pesat sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini juga yang didambakan oleh Enggar Sujati, pria yang saat ini tengah merintis usaha cuci sepatu di daerah Sampangan, Semarang.

“Jadi nama usaha saya itu Stay Clean and Stay Cool. Sebenarnya nama ini lahir atau jadi nama bran usaha ini tuh kaya dadakan. Jadi kita asal nyebut, terus kok pantes ya. Kelihatan simple, dilihat dan didenger orang kaya familiar,” ucapnya kepada Tim KUASAKATACOM.

<a href='https://kuasakata.com/berita/tags/enggar'>Enggar</a>

Lanjut dia, tak ada filosofi mendasar dalam penentuan nama usahanya. Untuk pengartiannya, sesuai dengan maknanya dalam bahasa Indonesia, yaitu tetap bersih dan keren.

“Kenapa digabungin Stay Clean and Stay Cool ya karena ini sepaket, bersih iya keren juga iya,” tambahnya.

Terkait awal membangun usaha, pria yang akrab disapa Enggar ini mengaku tidak sengaja. Bermula saat mengobrol ringan bersama temannya.

“Saat itu berawal ketika saya dan teman saya ada keperluan di Ungaran lalu kami sepanjang jalan itu saling ngobrol. Lambat laun ngobrol, arah pembicaraan kami tidak sengaja mengarah pada rasa ingin membuka usaha,” tuturnya.

Semenjak obrolan tersebut, ia selalu kepikiran membuka usaha. Sesekali dia bertanya pada dirinya ‘mau usaha apa nih, mau mulai dari mana nih’ sampai suatu ketika mengobrol ringan lagi bersama temannya.

“Saya buka Instagram, saya lihat postingan-postingan, nah secara tidak saya sadari, saya tertarik pada bidang sepatu. Itu terlihat dari postingan-postingan yang sering saya baca, saya lihat, atau yang sering mampir di beranda saya,” tukasnya.

Perjalanan Pahit Dimulai dari Pilihan Sulit

Pria kelahiran Pati ini memulai usaha bermodalkan hasil dari penjualan rumahnya. Walaupun banyak pertentangan terutama dalam urusan modal, Enggar tetap teguh pendirian karena niatnya sudah kuat untuk merintis usaha. Ia dengan seluruh energi positifnya  berusaha meyakinkan istri dan keluarganya bahwa suatu saat ia akan mampu membeli rumah lagi dari hasil usaha ini.

“Ya walaupun banyak ketidaksetujuan dari beberapa pihak, dari saudara, teman, juga istri yang sempat nggak setuju kalo rumah dijual buat usaha. Karena ya rumah itu nanti untuk investasi ya kan, tapi saya berkeyakinan bahwa nanti juga akan bisa beli rumah dari hasil usaha sepatu saya ini,” ungkapnya.

Ia pun memberanikan diri untuk merintis usaha dengan pilihan-pilihan yang sulit. Selain modal, juga terkait masa depan dan keluarganya. Enggar mengatakan bahwa usaha ini seperti taruhan apakah nanti akan berhasil atau tidak. Namun dengan kemauan yang selalu diselimuti sikap positif membuatnya tidak takut gagal, apalagi di usia muda.

“Saya masih muda, masih 27 tahun, menurut saya gagal di usia muda itu lebih mateng nantinya kalau udah tua. Kalau nggak sekarang nggak akan tahu nanti seperti apa usaha itu. Seperti apa  hiruk pikuk dalam berwirausaha,” ujarnya.

Pilihan sulit lain yang Enggar alami adalah dirinya yang harus mengajukan surat pengunduran diri dari kantor tempat ia bekerja karena usaha sepatu ini membutuhkan fokus yang lebih. Ia harus meninggalkan dunia yang serba ada demi fokus di usaha ini. Harus pandai-pandai menghemat keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Saya tergolong ekonomi menengah ke bawah setelah keluar kerja. Saat kerja itu saya ekonomi rata-rata. Saya benar-benar sulit waktu itu (mengundurkan diri), saya hanya mengandalkan omzet dari usaha ini untuk kehidupan saya, anak, istri, dan karyawan. Jadi benar-benar pahit sekali menjalaninya,” tambahnya.

Perkembangan Pesat itu Relatif

Di awal usaha, Enggar mengaku lebih memfokuskan diri untuk berwirausaha sepatu, bukan cuci sepatu. Tetapi omzet yang cuci sepatu ternyata lebih tinggi.

“Pertamanya aku stok sepatu sekian puluh, banyak lah hampir seratus sepatu, terus harapan saya dulu fokus di jualan sepatunya dan rencana usaha cuci sepatunya itu di h min duanya. Jadi mepet banget. Kondisi pandemi banyak mahasiswa diliburkan, menurunkan niat beli masyarakat, ketika biasanya mereka beli sepatu setiap naik kelas, mengurangi, uangnya di-save untuk kebutuhan lainnya. Setelah itu omzet cuci sepatu malah lebih tinggi dari jual sepatu,” ujarnya.

Perihal perkembangan usahanya, Enggar mengatakan bisa dibilang signifikan. Walaupun ia sempat mengalami kendala di awal usahanya. “Kendala awal di bulan pertama ya masih sepi, masih banyak yang dateng itu relasi dan teman sendiri, bukan customer murni. Kendala operasionalya itu pas bulan Juni, sudah mulai ramai cucinya,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengaku berkat omzet yang di dapat pada bulan Juni lalu, dirinya bisa pindah lokasi usaha ke tempat yang lebih luas dengan operasional yang cukup menunjang.

“Berhubung Juni sudah banyak yang order cuci sepatu, kita kewalahan karena tempat dan infrastruktur tidak memadai. Akhirnya akhir bulan kita putuskan untuk pindah ke Sampangan. Di tempat yang baru ini lebih lengkap dari segala prasarananya, jadi menunjang untuk operasional,” jelas Enggar.

Enggar mengatakan bisa berpindah tempat usaha merupakan salah satu pencapaian terbesar selama enam bulan usahanya berdiri. “Pencapaian terbesar ya bisa pindah di tempat yang lebih besar empat kali lipat dari tempat sebelumnya. Dulu Cuma 4x4 sekarang ukurannya 3x20,” lanjutnya.

Berbicara terkait grafik pendapatannya, ia mengatakan sudah terjadi peningkatan omzet pada usahanya. Sembari ia melakoni beberapa kerja paruh waktu.

“Alhamdulillah sudah naik signifikan. Saat ini hampir mendekati dua kali lipat dari bulan awal. Cuma ya tadi karena kita pindah operasional, kita masih perlu ngejar lagi, belum final. Masih banyak belajar. Mungkin namanya usaha, apalagi usaha jasa, benar-benar harus bisa bertahan di kondisi sepi ramai. Sampai sekarang pun, tetep pendapatan kecil masih saya tangani,” terangnya.

Enggar mengungkapkan bahan yang digunakan dalam proses cuci sepatu ia produksi sendiri. Sedangkan seluruh penanganannya manual atau tidak memakai mesin. Terkait tenaga kerja, Enggar mengatakan sudah memperkerjaan beberapa orang dengan jam kerja yang berbeda-beda. “Kalau karyawan sudah ada, part time, ada tiga orang,” ucapnya.

Enggar melanjutkan, usahanya yang lebih dikenal dengan Stay Clean Semarang oleh masyarakat luas ini berkemungkinan akan berganti nama ketika dirinya sudah siap membuka franchise.

“Sebenarnya itu bukan nama brand kita, lebih ke jargon, sementara ini dipakai buat nama juga. Belum tentu kapan akan berganti nama, ada kemungkinan akan berganti nama kalau misal nanti diberi rezeki sama tuhan untuk buka francise atau mitra kerja sama dalam atau luar Semarang mungkin akan dipertimbangan secara menyeluruh untuk berganti nama yang lebih identik sama kita. Tapi tanpa menghilangkan jargon tadi, stay clean stay cool,” jelasnya.

Enggar berencana pada akhir bulan Agustus akan mulai menyusun proposal investasi musiman, seperti mulai merancang RAB untuk franchise dan mitra kerja. Pasalnya banyak pertanyaan terkait franchise dan mitra kerja ini.

Berpikir Positif

Enggar mengatakan eksistensi dan suasana hati adalah faktor utama yang mempengaruhi usahanya saat ini.

“Memang yang paling susah itu eksistensi menurut saya. Dalam usaha yang saya geluti pasti akan tetap bosan, membuat ide-ide baru, butuh mood yang enak banget. Kalau usaha ini mau tetap jalan ya harus eksis, sedangkan eksis itu butuh mood yang baik tanpa ada rasa bosan. Musuh terbesar dalam perjalanan ini ya mood itu sendiri, karena dari mood itu bisa menghasilkan,” paparnya

Di sisi lain, dirinya tak henti-henti mengucap syukur kepada Tuhan atas kesehatan dan nikmat yang diberikan kepadanya. “Alhamdulillah Tuhan masih membantu saya sampai sekarang. Saya masih diberikan kesehatan, bisa melewati semua sampai hari ini, walaupun kalau dibilang memang pahit sekali. Tanpa sokongan dana yang kuat,”

Enggar berprinsip, ia harus menjadi manusia yang tidak cepat puas dan selalu memaksimalkan kesempatan yang ada.

“Kita harus jadi manusia yang haus, bukannya tidak bersyukur, selama masih bisa, masih mampu, masih berkesempatan, maksimalkan terus. Bukannya kita tidak bersyukur atas yang kita capai saat ini tapi mumpung masih ada kesempatan, masih ada waktu, masih ada hal yg harus kita capai ya maksimalkan. Jadi saya bilang saya masih perlu banyak belajar. Jangan cepet puas, jangan cepat jumawa, jangan terlalu tinggi ekspektasinya,” ujarnya.

Tetap dengan pikiran positifnya, ia yakin usahanya saat ini akan berhasil layaknya usaha semasa bekerja yang telah ia lakukan sebelumnya. “Saya bisa sukses di kerjaan saya. Maka saya nanti akan bisa sukses di usaha saya. Butuh waktu dua tahun untuk memperoleh posisi di kerjaan itu. Mungkin saya juga butuh waktu dua tahun juga untuk membuat besar usaha saya,” tutupnya.

*Penulis adalah Restudefa, reporter Magang KUASAKATACOM


tags: #semarang #usaha #enggar #stay clean and stay cool #cuci sepatu

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI