Wahyu, pemulik Rumah Basoka

Wahyu, pemulik Rumah Basoka

Rumah Basoka, Perjalanan Panjang Wahyu Merintis Usaha

Walaupun sempat menyerah berkali-kali, toh Wahyu akhirnya kembali berjualan bakso dan sosis bakar sampai sukses.

Kamis, 27 Agustus 2020 | 12:36 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

USAHA tak akan menghianati hasil, begitulah semangat yang dipegang oleh Wahyu, seorang ibu rumah tangga yang pantang menyerah untuk mulai merintis usaha bakso dan sosis bakar yang terletak di Desa Jondang Kecamatan Kedung Kabupaten Jepara. Meski terbilang jajanan yang lazim dikenal oleh umum, ia membuat bakso dan sosis bakar itu menjadi suatu yang luar biasa. Di tangannya, bakso dan sosis bakar memiliki cita rasa yang khas.

Tak mudah baginya bisa sampai pada titik saat ini. Ia sudah menempuh lika-liku hingga fase di mana ia mulai down dan memilih untuk menggeluti bidang lain, namun karena kecintaannya, ia kembali meniti usaha bakso bakar.

Perjalanan Karier

Tahun 2016 adalah awal Wahyu membuka usahanya. Ia berdagang di depan rumah dengan memakai satu meja. Pembelinya adalah anak-anak sekolah. Saat awal mulai berjualan, ia tak punya kulkas untuk menampung sosis dan bakso bakarnya, sehingga ia harus rela membuang sisa bakso dan sosisnya. Ia bahkan pernah hanya dapat uang 7000 dalam sehari.

Kira-kira akhir tahun 2017 sampai Februari 2018, Wahyu juga pernah vakum karena down. Ia memilih untuk membantu kakaknya berjualan. Namun akhirnya Wahyu bangkit dan kembali menjual bakso dan sosis bakar.

“Saya selalu mencari pelanggan satu persatu dengan menawarkan ke orang-orang sekitar rumah untuk membeli. Meski saya tahu mereka tidak ingin membeli, namun saya tidak menyerah,” Kata Wahyu.

Pada Februari tahun 2019, ia memulai menggunakan bran Bakso Bakar (Basoka) Jepara. Ia juga sering ikut stand di alun-alun Jepara. Perlahan ia mulai melebarkan sayap dengan menggunakan mobil untuk berjualan dengan sistem keliling. Tak disangka, ide berjualan keliling tersebut memberikan keuntungan yang besar. Ia bersyukur saat keliling menggunakan mobil selalu habis. Bahkan jualannya pernah laku keras hanya dalam waktu satu jam.

“Biasanya orang-orang sudah menunggu di tempat jualan yang sudah kami share di Facebook. Meski dalam berjualan ada saja kejadian yang tidak diinginkan seperti kena marah atau omelan tapi itu sudah jadi hal biasa,” ujar Wahyu.

Mendirikan Rumah Basoka

“Karyawanku saat itu menunjukan gambar orang mendorong gerobak bakso lalu jadi kaki lima lalu bikin restoran. Ia bilang moga-moga besok saya bisa gini, saya pun hanya mengamini dan sekarang sudah terealisasi. Padahal rencananya kira-kira lima tahun ke depan baru ada Rumah Basoka ini.” Kata Wahyu.

Rumah Basoka buka pada 16 Agustus 2020. Ia merasa ini suatu pencapaian yang bagus karena akhirnya pembeli bisa menikmati bakso bakar serta menu lain dengan cara makan di tempat.

“Animo pembeli di Rumah Basoka ini luar biasa, awalnya saat masih jualan di sisi rumah, pembeli agaknya kesusahan karena hanya tersedia dua bangku untuk duduk dan beberapa ada yang berdiri. Kami tidak membatasi pembelian, mau beli seribu ya boleh, dua ribu juga boleh,” ujar Wahyu.

Wahyu menambahkan Rumah Basok libur pada hari Selasa. Lucunya, hal ini membuat orang-orang curiga.  Pasalnya, biasanya orang berdagang mengambil libut pada hari Jumat atau Minggu.

“Basoka kalo libur kan hari Selasa, bukan dari dukun, paranormal, tapi kenapa gak ambil libur Jumat atau Minggu, karena di hari-hari itu banyak yang jajan. Ini merupakan strategi marketing saja, bukan hal-hal magis yang kadang dibicarakan orang-orang,” jelasnya.  

Ada yang Menjiplak Produknya

Wahyu sudah beberapa kali menemui ada yang diam-diam menjiplak bran yang ia gunakan. Ada juga yang mencoba menjiplak bumbu yang ia pakai, namun tidak bisa sama rasanya. Selain itu, ada juga yang mengaku sebagai cabang dari Basoka Jepara. Sejauh ini orang-orang yang diam-diam menjiplak produknya perlahan mulai mundur dan pergi.

Saya tidak masalah jika ada yang menyamai produk saya. Ini berarti bisa dijadikan inspirasi. Saya tidak takut disaingi karena rezeki sudah ada yang mengatur.

Motivasi dari Suami

Awalnya ia tak percaya diri apakah bakso bakarnya akan laku, tapi sang suami selalu meyakinkan untuk tetap berjualan. Dari sang suami yang awalnya bekerja menjadi asisten koki, ia mendapat resep bumbu yang menjadi cita rasa sosis bakarnya sehingga beda dari bakso bakar lainnya.

Wahyu pernah mengalami kerugian saat pertengahan 2019 karena cabai setan yang dipakai untuk bumbu naik drastis hingga 125.000 per kilogram yang biasanya sekitar 48.000 per kilogram. Namun Wahyu tetap membelinya untuk terus mempertahankan cita rasa.

“Pas pasang surut kira-kira 2019 ada yang bilang ‘loh Basoka gak laku ya’, memang saat itu peminatnya lagi turun.  Ya itu lika-liku,” tambah Wahyu

Meski begitu, Wahyu selalu ingat saat suami mendorong untuk sebisa mungkin tetap berjualan bakso dan sosis bakar, meski sebenarnya harus tetap merawat dua anak. Ketika ia down, suaminya tak berhenti untuk memberi semangat.

Sekarang omzet yang diperoleh Wahyu terbilang lumayan banyak. Ia sudah bisa mempekerjakan tiga orang untuk melayani pembeli dan untuk bagian produksi ada satu orang bersama suaminya.

“Pokonya kalau ingin maju jangan sampai menjatuhkan orang lain. Pokoknya rezeki tidak akan tertukar,” pungkasnya.

*Penulis adalah Lala, reporter magang KUASAKATACOM

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI