Pemilik Pusat Bibit Alpukat (Pubikat) Agus Riyadi.

Pemilik Pusat Bibit Alpukat (Pubikat) Agus Riyadi.

Agus Riyadi, Petani Alpukat yang Berdagang dengan Hati

Sebuah rumus usaha itu ketika kita berdagang timbangan kita baik, harga baik, pembayaran baik, insyaallah rezeki akan datang kepada kita

Senin, 14 September 2020 | 06:38 WIB - Sosok
Penulis: Wisanggeni . Editor: Wis

Masyarakat kita sejak dulu, khususnya yang berada di dataran tinggi mengandalkan berkebun sebagai mata pencaharian utama. Dari hasil kebun tersebut mereka bisa menghidupi keluarganya sehari- hari. Namun, kegiatan berkebun ini beberapa tahun lalu pernah ditinggalkan dan tidak dilirik kaum muda. Mereka lebih memilih bekerja di pabrik daripada meneruskan orang tua mereka bekerja di kebun.

Para kaum muda ini berpikir berkebun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari- hari tidak bisa memenuhi keinginan lainnya, sehingga pilihan paling masuk akal dengan bekerja ke kota. Migrasi besar- besar pun terjadi, para pemuda ini berbondong- bondong memenuhi kota. Dengan harapan kerja yang mereka jalani lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan pokok. 

Sedikit sekali pemuda, yang sekedar bertahan merawat kebiasan berkebun orang tua mereka. Berkembangnya teknologi membuat arus informasi menjadi mudah di akses siapapun. Cerita sukses berdagang dan berkebun pun menjadi sangat mudah kita temui di internet. Dengan informasi tersebut, kita menjadi mudah dalam mengakses cara berkebun yang benar serta efektif. Cara- cara konvensional dengan hasil jauh dari harapan pun mulai ditinggalkan.

Saat ini pun, semakin banyak kita baca dan dengar cerita kaum muda memilih berkebun sebagai mata pencaharian mereka. Salah satunya Agus Riyadi, Pemilik Pusat Bibit Alpukat (Pusbikat) yang beralamat di Baran Gembongan RT 01 RW 02 Kelurahan Baran, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memilih berinvestasi berkebun alpukat sejak tahun 2011.

Pria lulusan Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur tersebut, pada tahun 2011 memilih berdagang alpukat di Pasar sayur 'Ngasem' Ambarawa, Kabupaten Semarang, sebelum akhirnya berkembang menjadi berdagang bibit serta menjadi konsultan berkebun alpukat. Hal itu konsisten dijalaninya hingga sekarang.

Sebagai pedagang saat itu, Agus hanya menunggu kiriman buah alpukat dari pengepul. Sehingga Agus sering terkendala dengan kualitas buah. "Saat itu sempat terkendala kurangnya pasokan alpukat yang bagus, sehingga saya berpikir bagaimana caranya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas alpukat yang dijual bagus- bagus," kata Agus. 

Kendala tersebut, membuat Agus merasa tertantang. Ditambah lagi dengan jumlah pelanggannya terus bertambah, sehingga dia merasa perlu langsung terlibat mencari dan berbudidaya alpukat menggunakan bibit- bibit unggul. Harapannya, kedepan Agus akan dengan mudah mendapatkan Alpukat bagus bahkan kualitas super. 

Hal inilah yang membedakan Agus Riyadi dengan petani atau pengusaha alpukat lainnya. Sebab, banyak petani yang memulai dari sawah atau kebun tanpa tahu kondisi permintaan barang di pasar. Sehingga tidak heran banyak dari mereka yang mengalami kerugian, karena tanaman yang ditanam hasilnya kurang bagus sehingga tidak terserap pasar. Kalaupun terserap pasar, karena kualitas barangnya tidak bagus, membuat komoditi tersebut harganya rendah. 

Tidak hanya itu, banyak juga tengkulak yang membeli harga alpukat dengan harga yang rendah meskipun di pasar harga jualnya sedang tinggi. Hal itu dikarenakan petani tidak memiliki akses langsung ke pasar. Sehingga mereka pun pasrah mengikuti harga yang ditawarkan tengkulak.

Itulah yang disayangkan Agus, menurut ayah tiga anak tersebut perilaku tengkulak yang tidak adil ini yang membuat petani merugi. Agus pun tidak ingin menjadi bagian itu, dirinya pun selalu berprinsip untuk berdagang dari hati. 

“Yakinlah bahwasanya Allah itu maha Ar-rahman, maha pengasih, semuanya akan dikasih. jadi kita nggak usah takut kita nggak dapet rezeki. Ataupun kita nggak usah terlalu ambisi untuk menguasai mematikan rezeki orang lain.” ujar Agus.

“Sebuah rumus usaha itu ketika kita berdagang timbangan kita baik, harga baik, pembayaran baik, insyaallah rezeki akan datang kepada kita.” Tambahnya

Profesi yang ditekuninya tersebut, menurut Agus merupakan panggilan hati nurani. 

Kepada KUASAKATACOM, Agus mengaku pernah mendapatkan tawaran menarik untuk jadi konsultan perkebunan alpukat. Lahan yang diminta untuk dikelola Agus itu, tadinya akan digunakan untuk perumahan tetapi sama pemiliknya dialihfungsikan menjadi lahan perkebunan. Agus pun diminta menyebutkan berapa nominal gaji yang diinginkannya untuk mengolah tanah tersebut hingga jadi perkebunan alpukat yang ideal.

Bukan menolak, namun Agus meminta waktu ke pemilik lahan untuk melihat serta meneliti lahan tersebut layak atau tidak untuk ditanami pohon alpukat. Setelah diteliti dengan cermat, Agus pun menyimpulkan tanah pengusaha tersebut tidak layak untuk ditanami alpukat. Kalaupun tanah itu bisa ditanami alpukat, dia meyakini pada tahun keempat atau kelima setelah ditanam, pohon itu akan mati karena akarnya busuk. 

“Coba kita melakukan sebuah pekerjaan berdagang itu dari hati. Jangan sampai kita mendapat keuntungan tetapi partner kita malah buntung. Berikan informasi yang terbuka biar kita sama-sama enak. Dari situ kita bisa mendapatkan rezeki yang baik dan bersih untuk keluarga kita,” terangnya.

Bertani, kata Agus, sering mendapat stigma masyarakat merupakan pekerjaan yang kotor dalam arti yang sebenarnya. Padahal, negara kita ini merupakan negara agraris. Menurutnya, lebih baik bekerja kotor- kotoran namun uangnya bersih dan tidak ada unsur riba, dibanding bekerja dengan bersih namun uangnya kotor. 

Sektor pertanian ini tidak bisa dipandang sebelah mata saja. Nenek moyang kita adalah petani, tetapi generasi muda saat ini banyak yang gengsi untuk berprofesi sebagai petani karena stigma petani adalah orang susah, orang pinggiran, badannya kotor, dan uangnya sedikit.

Namun hal itu, lanjut Agus, sudah berbeda. Menurutnya keadaan perekonomian petani masa kini, memiliki daya beli yang lebih dari cukup untuk kehidupan sehari-hari. Agus membuat perumpamaan ketika orang- orang mampu membeli kendaraan dengan fasilitas kredit. Untuk petani, menurut pengalamannya, bisa membeli kendaraan dengan tunai meskipun kendaraan itu berharga fantastis dan jarang orang yang mampu memiliki. 

Potensi bertani alpukat, menurut Agus sangat luar biasa. Satu pohon alpukat yang ditanam dalam satu tahun masa panen dapat menghasilkan ratusan kilo bahkan ribuan kilogram per pohon. APalagi saat ini, harga alpukat super saat ini sedang bagus-bagusnya, dari petani bisa Rp 35.000 – Rp 40.000 per hari. Jika dihitung satu pohon saja menghasilkan 200 kilogram, satu pohon bisa menghasilkan Rp 8.000.000. Padahal menurut Agus alpukat yang dijual di harga Rp. 10.000 – Rp. 20.000 sudah sangat menguntungkan sebab biaya penanaman dan perawatan alpukat sangat rendah, tidak sebanyak biaya menanam sayuran.

Agus menuturkan selain bertani alpukat dirinya juga bertani sayuran, biaya penanaman sayuran sangatlah banyak namun harganya sering anjlok di pasar sehingga menanam sayuran lebih berisiko dibanding menanam alpukat. Karena bertani di kedua komoditi itu, Agus dapat membandingkan antara biaya perawatan dan hasil yang didapat besaran mana.

Meskipun harga sayuran tidak semenguntungkan alpukat, Agus tetap menanam sayuran karena kebutuhan pasar. 
 
Berkebun Alpukat
Alpukat, sambung Agus, menawarkan prospek bisnis yang bagus. Keuntungan yang didapatkan dari berdagang alpukat sangat banyak. Dari segi penanaman, alpukat merupakan pohon yang tidak begitu memerlukan perhatian khusus dalam penanaman. Namun, penanamannya agak tricky karena pohon alpukat memerlukan air yang cukup namun tidak bisa jika terlalu banyak. Alpukat yang ditanam di diatas permukaan laut (dpl) rendah, rasanya lebih manis namun memiliki ukuran serta bobot lebih kecil dibanding alpukat yang ditanam di dataran tinggi.

Menanam alpukat pun menurut Agus Riyadi tidak perlu memulai dari lahan yang besar. Usaha yang diperlukan tidak perlu dimulai dari modal yang besar sebab menurutnya kemampuan masing-masing orang berbeda.

Sebagai pemula, bisa memulai dari menanam sebuah pohon alpukat di pekarangan. Selain memanfaatkan pekarangan, pohon alpukat yang rindang akan membuat rumah menjadi lebih asri. Meskipun hanya satu pohon yang ditanam, namun bila pohon itu kualitas super saat panen bisa menghasilkan satu ton dalam satu tahun. 

Pemilik Pusbikat ini memiliki pengalaman menanam alpukat jenis Wina yang usianya sudah 20 tahun di pekarangan rumah namun masih berbuah lebat hingga satu ton. Hal ini bisa terjadi karena nutrisi tanah yang ada disekitar rumah hanya diserap oleh 1 pohon itu saja. 

Tentu hal ini akan menjadi berbeda dibandingkan dengan perkebunan yang lahannya di penuhi pohon alpukat terjadi kompetisi antar pohon untuk menyerap nutrisi. Sehingga hasil panen per pohon dalam satu tahun musim panen tidak bisa mencapai satu ton, saat ditanam dalam jumlah banyak di kebun. 

Meski begitu, dengan waktu panen alpukat yang berbeda-beda dalam satu tahun, ada yang dua kali ada pula yang tiga kali panen dalam setahun membuat hasil invetasi menanam alpukat jenis super di kebun akan sangat menguntungkan. 

Dalam kondisi yang berbeda-beda ini, jika dirata-rata biasanya per pohon Alpukat mampu menghasilkan 100 kilogram. Tetapi biaya yang dikeluarkan untuk perawatan pohon ini tidak banyak bahkan tidak lebih dari 20% untuk membeli pupuk.

Hal yang paling utama dari perawatan alpukat adalah daunnya alpukat tidak boleh terkena hama, baik ulat maupun kutu. Secara umum jika daun alpukat sehat maka buahnya juga akan sehat. Bahkan di perkampungan, alpukat yang dibiarkan saja tanpa perawatan, pohonnya meski sudah tua  tetap berbuah.


 Foto: Agus Riyadi dengan buah Alpukat jenis Pangeran.
 

Varietas Alpukat 
Varietas alpukat terhitung ada ribuan dan masing-masing alpukat memiliki karakteristik yang berbeda. Namun berdasarkan permintaan pasar, pemilik Pusbikat ini menggolongkan alpukat menjadi dua jenis saja yaitu alpukat yang enak di lidah dan enak di kantong. 

Alpukat yang enak di lidah produktivitasnya belum tentu bagus dan lebih menguntungkan, sebaliknya, alpukat yang enak di kantong produktivitasnya cenderung baik dan menguntungkan bagi petani.

Agus Riyadi sendiri saat ini sedang menekuni pengembangan alpukat pangeran yang berasal dari kecamatan Ambarawa. Disebut alpukat pangeran sebab bentuk buah ini besar, lonjong, dengan kulit yang mengkilat gagah seperti pangeran. Alpukat jenis ini mampu beradaptasi di segala ketinggian.

Buah alpukat dari jenis Pangeran, satu buah bisa memiliki bobot 1,3- 1,5 Kg.

Menanam alpukat sangat mudah dan murah tetapi kita harus tahu jenis-jenis alpukat yang unggul, kata Agus. Agus pun mengingatkan karena banyaknya jenis tersebut, tidak sedikit pula jenis pohon alpukat yang memiliki kualitasnya jelek. "Banyak cari referensi sebelum menanam alpukat, ataupun bisa datang kesini untuk sekedar bertanya dan konsultasi penanaman alpukat," kata Agus.

Diakui Agus saat ini banyak orang tertarik berbudiya alpukat, tidak hanya dari Semarang ataupun Jawa Tengah saja namun beberapa daerah sudah melirik komiditi ini. "Saya sering mendatangi petani Jawa Barat, Jawa Timur ataupun Sumatera untuk melihat hasil panen dan pertumbuhan pohon yang mereka tanam. Hasilnya sangat bagus, dan mereka saat ini lebih banyak memilih bibit alpukat jenis terbaik seperti pangeran," ungkapnya.

Agus pun mengaku tidak hanya petani Sumatera saja yang minat akan alpukat jenis pangeran, sekarang petani Kalimantan juga mulai melirik pohon jenis ini. Sebab mereka telah melihat sendiri hasil panen alpukat jenis itu.

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI