Pemilik Lanaya Cake, Endah Wahyu N

Pemilik Lanaya Cake, Endah Wahyu N

Endah Wahyu, Miliki Usaha Roti Setelah Sempat "Down" Dihantam Badai Kehidupan

Mereka selalu bisa membedakan dari bentuk tampilan sama rasa. Menurut mereka rasa Lanaya, sangat khas.

Jumat, 25 September 2020 | 18:30 WIB - Sosok
Penulis: Wisanggeni . Editor: Ririn

Meski sempat down karena dihantam badai kehidupan, Endah Wahyu N tetap berusaha bangkit dan membantu perekonomian keluarga. Hingga akhirnya Endah mulai mencicipi manisnya perjuangan. Meski ia mengaku belum bisa dibilang sukses. 

Ketika usaha suaminya bangkrut, Endah mengaku peran keluarga sangat penting. Meski tertatih, keluarga membuatnya mampu bertahan meski tertatih. 

"Perempuan itu diuji saat perekonomian suaminya di titik terendah. Di situ kami belajar bila terjadi masalah seperti itu. Penyelesaiannya itu bukan di luar tapi lebih di dalam. Sehingga akhirnya kami kerjasama di rumah, untuk usaha bikin kue," kata ibu dari Aynayya Fathiyyaturahma ini.

Merasa bisa bikin kue, Endah bersama suaminya Muchlisin, ST bahu membahu menjalankan usaha roti. "Suami saya itu sifatnya bertolak belakang dengan saya, kalau saya mudah panik dan emosi. Sedangkan suami saya lebih kalem dan tenang. Karena saya punya keterampilan bikin kue serta punya pasar, kenapa mesti bingung?" ujar Endah.

Jika Allah menutup satu pintu, kata dia, pasti banyak pintu lainnya yang terbuka.

Selain berpikiran positif, Endah pun bersyukur pernah mengalami periode yang ia sebut sebagai bagian terpahit dalam hidupnya. Pasalnya, ia dan suaminya jadi lebih kompak. Saling membantu satu sama lain.

"Dengan bersinergi sama suami, kami bisa survive mengatasi masalah kemarin. Di situ tumbuh saling menghargai. Disaat suami jatuh, saya bantu terus, disaat saya jalankan usaha suami back up saya," ucap Endah.

Bahkan jika tak mendapat ujian ini, ia tak akan memiliki usaha kue seperti sekarang.

Sebelum memulai usaha yang diberi nama "Lanaya Cake", Endah mengaku menjadi wanita karier. Setelah lebih dari 10 tahun bekerja di perusahaan, ibu dari Salsabila Shafa Aura itu mengundurkan diri. Ia lebih memilih merawat ketiga putrinya yang semakin membutuhkan perhatiannya.

Awal Mula Lanaya Cake
Meskipun memiliki passion membuat kue, Endah mengaku tak suka memasak. Bakatnya ini ia ketahui sejak SMA. "Saya waktu SMA sudah bisa membikin Marble cake atau kue marmer dan saat kuliah saya bisa bikin brownies," bebernya.

Lebih lanjut, ia bercerita pelanggannya sering penasaran hingga pernah bertanya pada dirnya apakah pernah kursus bikin kue. 

"Saya hanya sekali ikut kursus dengan Chef Nathan. Itu juga kursus dekor pakai fondant. Lainnya saya otodidak, mungkin karena passion ya," tukasnya.

Ia menilai orang dengan passion kuat, saat mengerjakan sesuatu intuisinya akan main.

Untuk itu, Lanaya Cake yang dirintis sejak tahun 2012 ini mampu bertahan saat pandemi. 

Lanaya mulai banyak terima pesanan serta intens menggunakan Instragram di tahun 2017. Uniknya, Lanaya hanya memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produknya. 

"Saya memang tidak memiliki toko, jadi hanya lewat medsos jualannya. Kami akan bikin kue itu, setelah konsumen memesan dan mentransfer pembayaran. Hal ini sengaja saya lakukan agar produk yang dibuat Lanaya masih fresh saat sampai di tangan konsumen," kata wanita kelahiran tahun 1978 itu.

Menurutnya, karena dipasarkan lewat media sosial, konsumen Lanaya tidak hanya dari Semarang. Namun juga banyak dari luar kota. 

"Saya pernah kirim brownies Lanaya ke Jakarta, Medan dan Batam, yang dari luar kota atau pun mau dibawa luar kota mengkin untuk buah tangan. Kebanyakan yang dipesan brownies karena punya daya tahan cukup lama," ungkapnya.

Tampilan cake yang menarik serta rasa yang khas, membuat banyak konsumen "Lanaya" loyal. Mereka tidak segan untuk terus menerus rapid order.

Bahkan, Endah mengatakan konsumen Lanaya sampai hafal produknya, meski cuma melihat tampilan cake. 

"Mereka selalu bisa membedakan dari bentuk tampilan sama rasa. Menurut mereka rasa Lanaya, sangat khas," akunya.

Terapkan Prinsip "ATM"
Dalam berwirausaha, Endah menerapkan konsep amati, tiru, dan Modifikasi (ATM). 

"Di internet resep itu banyak sekali sebetulnya, tutorial apa saja ada. Cuman kuncinya satu saja, kita mau ngga mencobanya," kata Endah.

Namun, Endah mengaku tak mau jika hanya meniru. Karena tak akan memiliki ciri khas. 

"Jadi kalau niru itu bukan yang mirip. Tapi pasti akan saya obrak abrik dulu formulanya hingga seperti yang saya inginkan," terang ibunda dari Naura Ghina Chairunnisa itu.

Untuk itu, Endah tidak segan- segan untuk terus melakukan uji coba sampai mendapatkan bentuk serta rasa yang ia inginkan sebelum dijual ke konsumen. 

Beberapa produk Lanaya yang beda dengan produk sejenisnya, salah satunya Korean Garlic Butter Cream. 

"Saya tidak pernah suka asal comot resep yang ada, pasti akan saya bikin komposisi yang membuat konsumen itu tahu ini ciri khas produk Lanaya," ucap Endah.

Penghasilan Lanaya
Omzet Lanaya di saat pandemi ini, menurut Endah tidak begitu banyak terpengaruh. Bahkan ada kecenderungan meningkat.

"Di bulan Maret memang ada penurunan omzet, saat itu satu bulan hanya dapat Rp10 juta. Namun di bulan April dan Mei mengalami kenaikkan. Di bulan Juni memang ada penurunan sedikit dibandingkan Mei. Tapi kenaikkan kembali terjadi di bulan Juli dan Agustus," kata Endah.

Penghasilan Lanaya yang tetap stabil, menurut Endah karena memasarkan produknya lewat online. 

"Karena para pelanggan ini kan di rumah, tidak kemana- mana. Sehingga akhirnya mereka saling kirim kue dan pesannya ke kita secara online. Trend ini terjadi di saat pandemi ini, tahun sebelumnya belum ada," beber Endah.

Tidak memiliki toko justru membuat Endah bersyukur. Apalagi saat pandemi seperti ini. "Kalau memiliki toko kita akan menghitung pengeluaran yang lebih untuk toko itu. Kalau dengan online semuanya bisa kita handle tanpa perlu adanya karyawan," terangnya.

Menjaga Kualitas
Karena ingin menjaga kualitas, Endah dalam menjual produk selalu berpegang dengan kapasitas produksi maksimalnya setiap hari. "Prinsip saya sebelum kuat di kapasitas produksinya, saya tidak akan menggunakan reseller. Di samping nanti berpengaruh di kualitas, yang kedua juga saya pasti akan keteteran sendiri," lanjutnya.

Kualitas produknya, kata dia, terjaga karena dikerjakan sendiri. Hal ini membuat kapasitas produksi Lanaya tak banyak dalam sehari. Namun kualitas produksi tetap terjaga.
 
"Sistem saya make by order, sehingga saya tidak pernah ready stock. Karena menurut saya kalau saya punya stock, saya nanti malah bingung mau saya jual ke mana lagi produk saya," lanjutnya. 

Produk andalan Lanaya adalah Brownies, red velvet cake, serta Brownie keju. Brownies Lanaya ini diakui lebih enak serta nikmat dibandingkan dengan produk sejenis lainnya. 

Karena menjaga kualitas tersebut, Endah tak takut mematok harga. "Jangan takut dengan harga yang kita ciptakan sendiri, karena kalau konsumen sudah tahu rasa, mereka tidak akan peduli lagi dengan harganya," jelasnya.

Produksi Lanaya semuanya disajikan dengan segar tanpa pengawet.

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI