Nurma, Antara Kegembiraan, Guru, dan Cermin Diri

Setiap kali keluar dari rumah, berangkat untuk mengajar, yang saya bayangkan adalah pergi untuk menjemput kegembiraan

Minggu, 29 November 2020 | 19:24 WIB - Sosok
Penulis: Penaka Kemalatedja . Editor: Kuaka

MENJADI seorang guru bukanlah sesuatu yang ada dalam benak Nurma. Namun, kehidupan kemudian memang membelokkannya, dan dia dengan gembira menikmati tarikan ''nasib'' itu. Maka, hari-harinya kemudian adalah berdiri di depan kelas, mengajar, mendidik, mentransfer pengetahuan dan budi pekerti. Sesuatu, yang katanya, adalah kegembiraan.

''Setiap kali keluar dari rumah, berangkat untuk mengajar, yang saya bayangkan adalah pergi untuk menjemput kegembiraan,'' katannya, tersenyum. Dan dia memang selalu tersenyum, kadang tertawa, ketika bercerita tentang aktivitas mengajarnya, juga tingkah anak didiknya.

guru di salah satu SDN di Kembang Jepara ini mengaku bertemu dengan anak didik adalah hal yang dia rindukan. Karena itu, ketika pandemi Covid-19 menerpa, dia merasakan sungguh kehilangan ruang kegembiraan itu. Menurutnya, banyak hal yang tidak sempurna ketika hanya mengandalkan daring atau pembelajaran lewat platform digital. Apalagi, tidak semua anak-anak mampu menggunakan platform digital untuk pembelajaran itu secara maksimal.

BERITA TERKAIT:
Video: Ganjar Dukung Pemkab Jepara Terapkan PKM
29 Pengunjung Pasar Mindahan Jepara Di-swab Antigen karena Langgar Prokes
141 Ahli Waris Pasien Corona Jepara Ajukan Santunan Kematian ke Kemensos
Mayat Pria Mengapung di Perairan Teluk Awur Jepara
Ada Klaster Sekolah di Jepara, Gubernur Jateng : Tutup, Ora Usah Kesuwen
Nurma, Antara Kegembiraan, Guru, dan Cermin Diri
Penerima BLT BPUM Berkerumun Saat Antre Verifikasi

''Jadi ya kemudian tetap luring, meski dengan pola-pola yang lebih sederhana dan terbatas. Hati-hati, taat pada protokol kesehatan, dan selalu mengefisienkan waktu. Alhamdulillah, meski tidak seperti tatap muka biasa, anak-anak jadi dapat memahami, tidak sesulit jika daring,'' katanya.

Mahasiswa S2 di UMK ini juga mengakui, daring mengurangi hal-hal yang berupa praktik. Tata nilai, budi pekerti, bagaimana mencontohkan, katanya, tidak bisa hanya diteorikan. Karena itu, Nurma berharap pandemi ini bisa segera teratasi sehingga anak didik dapat lagi dia temui di kelas, dan transfer ilmu itu dapat kembali berjalan normal.


anak adalah Cermin
Bagi Nurma Zuliyanti (36), setiap anak adalah fotocopy orang tuanya. anak juga adalah spon, yang akan mengisap nilai-nilai di zamannya, dan juga yang diwariskan orang tuanya. Karena itu, bagi ibu tiga orang anak ini, seorang ibu yang juga seorang guru, punya ''beban'' lebih untuk dapat menjadi contoh bagi anaknya, dan juga anak didiknya.

''anak itu cerminan kita, orang tuanya. Karena itu, pada anak juga, kita bisa mengintrospeksi diri. Apapun tingkah anak, baik dan nakalnya, pasti ada 'buah' dari orangtuanya. Kadang, ketika kita menasihati anak, secara tidak langsung, kita juga tengah menginstrospeksi diri sendiri.''

Lalu apa yang dia lakukan? ''Jaga lisan, jaga tindakan,'' jawabnya cepat.

Ibu dari Muhammad Michael Bagus Nurrois (12), Ahmad Adzkia Roisul Akbar (10), dan Syahla Afsheen Kirana Nurrois (3) ini mengakui, ucapan seorang ibu adalah doa, seperti juga ucapan seorang guru. Karena itu, menjaga lisan adalah menjaga anak-anak untuk tidak memiliki hati yang luka. Perkataan yang baik, terangnya, bukan saja harus lahir dari gestur dan intonasi yang juga baik, tapi harus diikuti dengan contoh-contoh yang baik.

''Kata-kata tanpa contoh, berupa tindakan, akan memberi efek berbeda pada anak-anak,'' yakinnya.

Karena itu, Nurma juga mengaku banyak membaca buku parenthing, dan tips mendidik yang terus berkembang dan berubah, seturut dengan perubahan zaman. Dia meyakini bahwa menumbuhkan karakter yang baik lebih utama daripada mengejar nilai akademis. Nurma yang remajanya dihabiskan di pesantren ini percaya jika akhlak anak baik, tanggung jawab terbentuk, maka proses belajar dan nilai akan lahir dengan sendirinya.

 

''Saya selalu menilai berdasarkan kemampuan anak, dan diri si anak sendiri yang menjadi pembanding. Tiap anak itu unik dan punya kecerdasan yang berbeda, maka tidak arif jika memperbandingkannya,'' terang penyuka bakso ini.

Maka, dia tegas mengatur jam aktivitas anak-anaknya. Pendidikan agama, wajib. Ibadah itu utama. Tapi, belajar dan bermain juga tidak dia larang. Semua dia beri porsi sesuai kebutuhan. Bagi Nurma, jangan sampai anak-anak menjadi tergantung pada gawai atau ponsel, dan waktu habis untuk bermain.

''anak-anak hanya boleh ketergantungan pada ibadahnya, pada ketertiban untuk salat,'' katanya tegas.


Mimpi Tua
Nurma pribadi yang haus belajar dan tak bisa diam. Dia aktif mengikuti pelatihan, simposium, juga seminar yang dapat meningkatkan skill-nya. Dan lucunya, dia tetap saja merasa tak terpuaskan.

''Saya itu udah berapa kali ikut pelatihan penulisan. Bukan ingin jadi penulis top, ya? Saya cuma ingin ketika di depan kelas bercerita tentang pelajaran menulis, saya bisa memberi contoh.''

Sebagai guru, Nurma merasa wajib untuk terus meng-update diri. Dia juga aktif di kegiatan sosial dan organisasi di desa. Dia juga mengatur jadwal agar selalu bisa srawung dengan tetangga, kegiatan RT atau RW, dan lainnya. Bagi penyuka parfum wangi rempah ini, tetangga adalah saudara terdekat. Silaturahmi adalah cara termudah mengawetkan usia dan memperbanyak rezeki. Karena itu, meski aktif di media sosial, Nurma termasuk yang berhati-hati. Bermedsos baginya untuk berbagi kegembiraan, mencari pengetahuan sesuai hobi, dan silaturahmi dengan rekan-rekan.

''Tapi tidak akan mungkin saya curhat di media sosial, apalagi berghibah,'' tandasnya yang tidak terlalu hirau dengan komentar-komentar di media sosial. Semua dia hadapi dengan senyuman dan pikiran yang ringan.

Nurma sekarang merasa hidupnya sudah sempurna. Suaminya sangat pengertian dan memahami semua aktivitasnya. Yang mereka lakukan sekarang adalah membesarkan buah cinta mereka, disiplin dengan profesi, dan melanjutkan mimpi bersama.

Memang apa mimpi Nurma? Nurma menerawang, dan lalu tersenyum. '' Jangka pendek, saya nunggu kuota haji. Jangka menengah, saya berharap ada salah satu dari anakku yang hafidz Alquran. Jangka panjang, pengin nantinya mengurus kebun sayur dan buah, jauh dari ingar kota dan permasalahannya, aktif di pengajian atau tarekat.''

Itulah Nurma, seorang guru yang mengaku berpikir dan melakukan hal-hal sederhana. Tapi kita tahu, dia tak sederhana. Seperti katanya, tiap orang unik, tiap orang istimewa.  Maka Nurma pun ibu dan guru yang istimewa...


tags: #jepara #anak #guru #daring #platform

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI