Pemilik Rusa Records Store Isaac Anggito

Pemilik Rusa Records Store Isaac Anggito

Rusa Records Store, Hobi dan Passion Dunia Musik yang Menghasilkan

Kitalah alasan para musisi terus berkarya.

Sabtu, 09 Januari 2021 | 17:00 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Wis

Sore itu matahari redup menyinari atap rumah kontrakan sederhana di Jalan Bulusan Selatan Dalam, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sayup-sayup terdengar musik jaz yang mengalun dari balik pintu. Aroma kopi segar terseduh menyapu indera penciuman, diiringi wangi asap tembakau yang pelan-pelan terbakar bara. Di sanalah tinggal Isaac Anggito, yang akrab disapa Isaac oleh kawan sebayanya.

Berangkat dari kegemarannya bermusik, saat ini Isaac dikenal sebagai pemilik lapak rilisan fisik yang menjual kaset pita, CD, piringan hitam maupun merchandise lainnya. Bisnisnya itu ia namai Rusa Records Store. 

Sore itu, ia tidak berkeberatan berbagi secuil kisah dalam merintis usahanya.

BERITA TERKAIT:
Dicekal Permanen, Trump Kecam Twitter
Rusa Records Store, Hobi dan Passion Dunia Musik yang Menghasilkan
Grace Natalie Lanjutkan Kuliah, Giring Plt Ketum PSI
Kepastian, Lagu Aurel Hermansyah jadi Trending 1 di YouTube
Ini Lho, Lima Youtuber Indonesia Berpenghasilan Tertinggi
Partai Gelora Latih Kader Optimalisasikan Youtube
YouTube Selidiki Penghapusan Komentar Kritis Terhadap Partai Komunis China

Toko miliknya baru saja didirikan pada bulan Januari tahun lalu bersama salah seorang rekannya Rukma, yang ia temui saat berkuliah di Universitas Diponegoro dahulu. Saat ini, toko tersebut telah memiliki lapak daring di Tokopedia, Shopee maupun Instagram.

Dalam perjalanannya, tak jarang ia menerima sejumlah cuitan pedas dari orang-orang di sekitarnya. Ia mengaku sering ditanya tentang pekerjaan yang dilakukannya, dan karir apa yang akan ia jalani setelah lulus nanti. 

“Terkadang sedih sih kalau ada yang bilang, zaman sekarang udah nggak ada yang mau beli gituan. Semuanya streaming di YouTube juga bisa, kenapa harus beli?” ucapnya. 

Tetapi passionnya akan bidang musik tetap mendorongnya untuk melanjutkan bisnis itu. Selain itu, kedua orangtuanya Widiastuti dan Agus memberinya dukungan setiap saat.

Selain album musik, seringkali pembeli juga kerap mencari alat pemutarnya. Hal itu memberi ide bagi Isaac untuk menyediakan stok cassete player, mini compo, boom box, hingga Discman (pemutar CD portabel).

Saat ditanya koleksi favoritnya, Isaac menjelaskan bahwa produk rekaman piringan hitam atau vinyl paling oke secara durabilitas. “Ada koleksi rilisan fisik piringan hitam terbitan lama, bisa sampai berusia 50 tahun. Bisa jadi tampilan vinyl memang sudah kotor dan berjamur, tetapi setelah dibersihkan, tidak disangka masih bisa diputar dengan mulus. Sebandel itu,” jelasnya sambil mengacungkan jempol.

 

Rilisan Fisik Percikkan Nostalgia
Untuk mengikuti perkembangan teknologi yang drastis, industri musik juga harus ikut berevolusi. Tak terkecuali media yang digunakan pendengar musik untuk memanjakan telinga mereka. Rilisan fisik pun makin tergerus dengan layanan penyedia musik online seperti YouTube, Spotify, dan Apple Music.

Rekaman fisik menyimpan banyak cerita bagi Isaac. Contohnya, band bernama Red Hot Chili Peppers yang diperkenalkan ayahnya sewaktu ia kecil. Sewaktu memutar lagu-lagu dari band tersebut, memori manis masa kecilnya berputar di kepalanya. Itulah alasan Isaac mengoleksi rilisan fisik dari band tersebut.

Isaac terus mengajak penikmat musik untuk melestarikan rilisan fisik seperti CD, kaset pita, piringan hitam, maupun merchandise lainnya. Menurutnya, selain mengikuti rilisan digital mereka di internet, membeli rilisan fisik adalah bentuk dukungan dari kita untuk musisi-musisi yang sedang berkembang di Indonesia saat ini.

Walaupun termakan zaman, penggemar rilisan fisik masih akan terus hidup. Buktinya masih banyak yang mencari album-album dari segala masa. Peminatnya pun amat beragam, semua usia dari semua kalangan menyukainya. 

“Kadang ada yang menanyakan metal, hiphop, metal, ada juga klasik jaz gitu. Aku sebagai penjual juga harus bisa menikmati semua aliran musiknya,” jelas Isaac sambil mengisap kopi hitamnya.

Menurut lulusan sastra Inggris FIB Undip itu, meskipun musik hanyalah kebutuhan tersier, tidak ada salahnya untuk terus mendukung musisi kesukaan kita. Setiap pembelian rilisan fisik, kita telah sedikit membantu para musisi untuk melakukan rekaman-rekaman lainnya di masa datang. “Kita yang menjadi alasan mereka untuk terus berkarya,” ungkapnya. 

Semua jenis usaha tentu mengalami penurunan penjualan di masa pandemi ini. Khusus untuk dunia hiburan, sepertinya penggemar akan tetap rela untuk mengoleksi barang-barang dari musisi kesukaannya. Pemuda berambut gondrong itu menjelaskan bahwa di masa sulit seperti ini, pedagang memang harus lebih pintar mencari pasar agar semua barang dapat terjual.

“Lakukanlah usaha sesuai passionmu. Bagi saya, selain menghidupi, usaha ini juga berkontribusi dalam melestarikan industri musik tanah air,” pungkasnya mengakhiri obrolan sore hari itu.

*Ditulis oleh Forsaria Prastika, reporter magang KUASAKATACOM.


tags: #youtube #kopi #tokopedia #passion #sastra inggris

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI