Salah satu pengurus YPAC Semarang Rini Soebagio

Salah satu pengurus YPAC Semarang Rini Soebagio

Rini Soebagio dan Anak Penyandang Disabilitas, Sebuah Cermin Kebahagiaan

Menurut Rini, ada alasan mengapa dirinya dipertemukan dengan mereka.

Senin, 11 Januari 2021 | 12:14 WIB - Sosok
Penulis: Ririn . Editor: Fauzi

Usai pensiun dari agen LPG, Widorini Srijayati, SE lebih banyak menghabiskan waktu untuk kegiatan sosial. Wanita yang akrab disapa Rini Soebagio ini adalah salah satu pengurus Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Semarang sejak tahun 2017. Rini mengaku bahagia saat bertemu anak-anak penyandang disabilitas. Rasa trenyuh dan iba tak muncul saat bertemu mereka. Ia bahkan kerap menggoda anak-anak luar biasa tersebut—yang menurutnya bahkan tak merasa kekurangan. 

Rini memutuskan mendermakan diri untuk YPAC. Tak heran, perempuan berusia 56 tahun ini sudah dari kecil berada di YPAC. Ibunya menjadi pengurus YPAC sejak tahun 1970-an. 

Saking sayangnya, ia bahkan menyebut mereka dengan sebutan "anak kami". Walaupun tak menyebut secara langsung, ia tentu mendeklarasikan sebagai ibu dari mereka. Kini, bertemu mereka seperti hal terbesar yang membuatnya bahagia. Barangkali, ini juga yang membuatnya begitu mencintai YPAC. Ia pun mengaku lebih suka berada di YPAC daripada di rumah.

Apalagi sekarang, anak-anaknya sudah lulus kuliah bahkan ada yang telah bekerja. Di usianya yang terbilang senja,
ia bersama para pengurus senior dari rentang usia 60-80 tahun terus ingin mengembangkan YPAC agar dapat membantu para penyandang disabilitas hidup mandiri.

"Kami mengharapkan ada banyak pihak, volunteer yang mau membantu kami yang udah berusia ini, untuk berlari lebih cepat untuk mengembangkan YPAC," imbuhnya.

Usai menjadi salah volunter YPAC, Rini mengaku lebih bersyukur karena diberi banyak berkah dan karunia oleh Tuhan. Menurutnya, segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan harus disyukuri. Ia yang juga seorang ibu, dapat melihat betapa luar biasanya ibunda dalam mendidik, mengasuh, dan membesarkan anak. Khususnya orang tua yang membesarkan anak-anak penyandang disabilitas. 

"Karena membesarkan anak-anak ini membutuhkan segala yang luar biasa, ya. Namanya juga anak-anak luar biasa. Jadi kesabaran, perhatian, pendanaan, itu semuanya luar biasa," jelas ibu dua anak ini.

 

Menjadi ibu jelas tidak mudah. Wanita berambut sebahu ini paham. Tetapi menjadi ibu dari penyandang disabilitas, jelas lebih sulit dan Rini mengamini hal ini. Sebelum bisa mandiri sesuai kemampuan masing-masing, kata Rini, mereka membutuhkan bantuan kita. Niat luhur membantu anak-anak inilah yang membuatnya bertahan hingga sekarang mengabdi di yayasan yang dahulu didirikan untuk anak-anak penyandang polio pada 1956 tersebut. Sebagai salah satu guru, ia bertekad membantu anak-anak yang kebanyakan adalah tunagrahita—keterbelakangan mental agar dapat mandiri di kemudian hari. 

"Sebelum mereka mandiri, mereka selalu butuh bantuan kita," tukas wanita penyuka binatang ini. 

Sama seperti ibu lainnya, Rini suka membanggakan anak-anaknya. Bahkan jika tak ditanya pun, ia akan menyebut nama-nama itu beserta prestasinya. 

Farid yang mengikuti ajang sepakbola di Malaysia, Arifin bisa voli, dan Yunika yang dapat bermain tenis meja. Mereka penyandang tunagrahita. Kemudian Alam dan Keisya yang juara pertama kompetisi IT di India. Mereka penyandang tunadaksa.

Ketika ditanya hal apa yang paling ia nanti saat bertemu mereka, ia mengaku sangat gembira jika anak-anaknya mengenalinya. Ketika mereka dengan riang memanggil namanya. Anak-anak yang ia dekati dengan hati. Betapa tidak, beberapa dari mereka tak bisa melihat. Maka, Rini dan kawan-kawan menyentuh mereka untuk sekadar menyapa, misalnya. 

Bagi Rini, mereka sama seperti ciptaan Tuhan yang lainnya. Ada alasan mengapa ia diperkenalkan dengan mereka. Bertemu dengan mereka membuat ia menangkap sinyal dari Tuhan. Bahwa mereka diciptakan untuk memberi pelajaran. Mereka ada juga untuk ditolong.

"Dipertemukan dengan mereka, berarti aku harus apa?" ucap perempuan yang gemar bercocok tanam ini.

Mengakhiri obrolan, Rini berharap ada generasi muda yang akan meneruskan perjuangannya. Bukan sekadar membantu, tapi juga menemukan salah satu kebahagiaan yang jarang ditemukan di luar sana.

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI