Dosen Stikubank Mulyo Budi Setiawan

Dosen Stikubank Mulyo Budi Setiawan

Mulyo Budi Setiawan, Jadi Dosen dan Pengalaman Keliling Indonesia

Semua zona itu nyaman kan. Kalau kita nggak nyaman kita nggak akan bahagia.

Jumat, 05 Maret 2021 | 13:37 WIB - Sosok
Penulis: - . Editor: Ririn

Berangkat dari profesi awalnya sebagai dosen, Mulyo Budi Setiawan, S.E, M.M. kini tengah menjalani karier yang lebih luas lagi di bidang ekonomi. Pria kelahiran Maret 1969 ini mengawali kariernya sebagai asesor di bawah naungan BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) sebagai asesor yang diakui negara dan bertugas dari Sabang hingga Merauke.

Segudang pengalamannya keliling Indonesia menjadikan Mulyo menyimpan banyak cerita. Bagaimanakah perjalanan karier Mulyo?

Pengalaman Jadi Dosen 25 Tahun

BERITA TERKAIT:
Eka: Hidup ini Tentang Memberi (3)-selesai
Eka: Akhlak adalah Pondasi (2)
Eka, Jualan Bukan untuk Keuntungan (1)
Richa Amalia: Merangkai Kreativitas Lewat Bunga Hingga Merintis Sociopreneur
Maslikhatin: Antara Guru dan Menjahit Impian Generasi Qurani
Mulyo Budi Setiawan, Jadi Dosen dan Pengalaman Keliling Indonesia
Kunci Sukses Berta Tekuni Dunia Ekonomi

Pria asal Kendal ini sudah memutuskan merantau sejak belia, saat harus masuk sekolah menengah atas. Ia sempat mendaftarkan diri ke beberapa sekolah di Semarang, dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan ke SMA Negeri 3 Semarang. Kala itu sekolah tersebut jadi favorit dan bergengsi karena prestasi yang sering ditelurkan. Ia kemudian melanjutkan berkuliah di Universitas Diponegoro. Ia dinyatakan lulus pada tahun 1996 setelah tujuh tahun berkuliah.

Mungkin tujuh tahun adalah waktu yang panjang bagi mahasiswa sekarang untuk menyelesaikan studi sarjana seperti dirinya saat itu. Namun Mulyo juga melakukan kesibukan lain dengan aktif di kegiatan organisasi Senat Mahasiswa. "Ya di kemahasiswaan asik. Loh, konco-koncoku kok wis pada lulus semua," lanjutnya. Saat itu juga ia langsung memutuskan untuk segera menyelesaikan tugas akhir agar segera lulus.

Kemudian pada tahun 1995 ia mengenyam kuliah S2 di Stikubank dan berfokus pada Magister Manajemen. Semenjak lulus kuliah di tahun 1996 Mulyo menjadi dosen di Universitas Stikubank hingga saat ini, dan sudah memiliki 25 tahun pengalaman dalam mengajar.

"Jadi dosen itu nikmat. Sumber penghasilan dari dosen itu banyak yang bisa digali. Dari nulis buku, penelitian, pengabdian. Di support juga sertifikasi dosen dari pemerintah," curhat Mulyo. "Pinter-pinternya aja membagi waktu, meluangkan jadwal, dan menempatkan diri," lanjutnya.

Ada pengalaman unik nan klenik yang dulu mengikutinya saat di perkuliahan. Saat ada mahasiswa yang ujian akhir skripsi seringkali ada yang menyebarkan beras kuning di ruangan dosen yang akan menguji. Kabarnya ada juga dosennya yang disantet tak bisa buang angin oleh si mahasiswa. Ada juga mahasiswa bimbingan yang bertingkah aneh dengan menggunakan jimat-jimat yang dipercaya dapat melancarkan ujian skripsi.

"Terus saya tanya, kok kamu pakai gelang itu kalo bimbingan? Biar nanti suasananya adem. Lalu saya bilang, aku pesen deh 10 meter buat kamar kosku biar adem rak sah nggo AC," kata Mulyo sambil tertawa.

Tingkah laku mahasiswa yang membikin geli seperti tak ada habisnya. Ada lagi mahasiswa yang sempat bikin ulah lain. Si mahasiswa diwanti-wanti orang 'pintar' untuk menghadap ke selatan saat ujian. "Kamu kalo lagi diuji ngadep selatan, gitu. Lah kan pas ujian bangkunya nggak bisa ngadep selatan. Nggak lulus kok, itu kejadian bener," katanya. Ternyata pengalaman itu ia percayai dialami sendiri. Ialah mahasiswa yang diceritakan tadi.

Jadi Asesor, Diawali dari Pelatihan Pegawai Bank

Selain menjadi dosen Mulyo juga pernah menjajal menjadi trainer untuk calon-calon pegawai bank se-Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Kemudian ia mencetuskan ide kepada lembaga training tadi untuk tak hanya berhenti melatih calon pegawai bank saja, tapi juga lulusan kemudian diuji dalam bentuk sertifikasi.

Sesuai sarannya lembaga tersebut kini merapat ke BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) dan kemudian mendirikan LSP (Lembaga Sertifikasi Profesi). LSP adalah lembaga-lembaga kecil yang menjadi kepanjangan tangan dari BNSP tadi. Ada sekitar dua ribu LSP di Indonesia saat ini. Di sana ia menjadi asesor bagi peserta yang akan melaksanakan sertifikasi.

Setelah menjadi asesor, Mulyo mengembangkan diri lagi menjadi master asesor yang bertugas melatih dan menguji calon asesor yang ada di LSP di seluruh Indonesia. Asesor adalah semua orang profesional di semua sektor di Indonesia, contohnya pertambangan, perminyakan, guru, dosen, pembatik, pemusik dengan latar belakang budaya dan pendidikan yang bermacam-macam.

"Yang diajarkan adalah metodologi pengujian. Jadi aku ngelatih gimana sih caranya nguji, gimana sih cara membuat soal-soal ujinya, gimana tekniknya nguji," tutur Mulyo. Ada beberapa posisi dan tugas yang berbeda-beda dalam menjadi asesor. Beberapa di antaranya ada asesor, master asesor, lead asesor, dan asesor lisensi.

Menurut Mulyo sertifikasi merupakan hal penting yang umumnya belum diketahui banyak masyarakat. Proses sertifikasi akan menerbitkan sebuah sertifikat yang menerangkan bahwa seseorang memiliki kompetensi di bidangnya dan diakui oleh negara. Perusahaan dalam negeri atau mancanegara akan melihat sertifikat tersebut sebagai ukuran kompetensi. Contohnya adalah industri garmen yang rata-rata pembelinya sudah mengharuskan bahwa produk garmen yang datang dari Indonesia sudah harus diproduksi oleh tenaga kerja yang memiliki sertifikasi.

 

Lika-Liku Jadi Asesor

Ia juga mengaku dalam melakoni kariernya sebagai asesor, banyak pengalaman menarik yang mengikutinya. Manis pahit perjalanannya menjadi bumbu-bumbu yang ia nikmati sebagai bagian dari pekerjaannya. "Selama jadi master, banyak lah pengalaman. Ada yang enak ada yang enggak. Enaknya ya di entertain, pulang dikasih oleh-oleh, disediakan hotel, ya suka duka lah," katanya saat berbagi pengalaman.

Ada juga kisah yang membuat bulu kuduk merinding. Saat bertugas di Cepu, hotel tempatnya beristirahat memiliki aura yang ngeri, seperti ada yang menemaninya menginap. Pernah juga ia menginap selama berhari-hari sendirian saja, di kompleks kamar yang begitu luas. Beberapa kali menemui tempat yang mengerikan Mulyo memilih diam dan bertahan saja.

Tapi jati dirinya yang memang penakut membuat Mulyo harus sesekali meminta panitia penyelenggara untuk memindahkannya ke penginapan yang lain. "Saya itu penakut, tapi kalau udah nekat yasudah asal tidak ngganggu saja lah," katanya.

Perjalanan dinasnya sebagai asesor bisa sampai keliling Indonesia. Mulyo yang memang hobi jalan-jalan dan explore mengaku enjoy saja. Perbedaan kebudayaan di tiap-tiap daerah bukan jadi halangan baginya. Ia malah belajar banyak dari itu. "Di Padang saya pernah dikasih masukan peserta. Pak, bapak kalau ngajar di Padang bapak sombong, jangan low profile. Bisa lebih dihargai kalau kita agak sombong," ceritanya saat menjadi asesor di sana. Pengalaman tersebut ia jadikan catatan yang berkesan.

Selepas melaksanakan tugas di sela-sela perjalanannya Mulyo memilih untuk tak langsung pulang dan menghabiskan waktu melihat-lihat keindahan alam dan kearifan lokal sekitar. "Orang kalau nggak suka traveling, capek. Kalau ada waktu saya sempetin, saya explore," lanjutnya.

Selain itu juga ia memiliki hobi bermain tenis untuk memelihara kesehatan tubuh. Olahraga lain seperti berenang dan bersepeda jadi pilihannya saat sedang jenuh di perjalanan. "Selalu sempatkan waktu untuk olahraga," pesan Mulyo.

Keluarga yang jauh saat ia bertugas juga kadang membuatnya kangen. "Kalau bisa saya ajak ya saya ajak, tapi kebanyakan pada nggak mau ikut. Jadi kadang sulit ngajak anak istri. Family time-nya saat saya sudah pulang dari luar kota," cetusnya.

Ia saat ini memiliki dua anak perempuan. Salah satunya sudah lulus, dan satunya sedang bersekolah di mantan kampusnya Stikubank. Istri dan kedua anaknya sudah mempunyai kegiatan sendiri-sendiri jadi hambatan untuk bisa traveling ke luar kota sekeluarga.

Pengalaman yang paling membuatnya terenyuh saat bertugas sebagai asesor adalah saat harus meninggalkan istrinya di Semarang saat sedang hamil. Saat itu ia sedang ada dalam proses menjadi master asesor.

"Aku dianter istriku ke bandara, istriku pendarahan. Wah antara meh nangis, meh opo. Pas mau naik pesawat, tiket pesawat habis semua. Gelagapan nyari tiket kereta, wah nggregel banget," curhatnya. "Pengorbanan perasaan pikiran dan duit ya," lanjut Mulyo.

Tetap Jadi Sederhana

Penampilan Mulyo yang sederhana jadi perhatian kami yang selanjutnya. Saat menemui tim kami ia mengenakan celana jeans dengan kaos dan topi matching berwarna merah, terlihat santai dan akrab. Ternyata tak hanya dari luarnya saja, pak dosen ini juga punya prinsip untuk hidup dengan simpel.

Saat ditanya apakah ingin melanjutkan karier di bidang-bidang lainnya, ia tak berniat untuk terburu-buru. "Banyak orang yang memakai istilah zona nyaman. Zona nyaman itu kan menurutku relatif ya," tuturnya tenang. Ia pun meneruskan penjelasannya.

"Semua zona itu nyaman kan. Kalau kita nggak nyaman kita nggak akan bahagia," jawabnya. Menurutnya, kalau sesuatu sudah menggerogoti dan menjadi frekuensi negatif maka hal tersebut menjadi sampah yang harus dibuang dari dalam diri kita. Selera humor yang baik dan hidup dengan sederhana sepertinya jadi resep jitu Mulyo untuk tetap hidup bahagia.

*Tulisan di atas dibuat oleh Forsaria Prastika, reporter magang KUASAKATACOM.


tags: #sosok #mulyo budi setiawan

KOMENTAR

BACA JUGA

TERKINI